Ria Ricis dan Pergeseran Budaya Dakwah

Ria Ricis. Sumber: nulis.co.id

lpmrhetor.com, UIN – Bagi generasi saat ini, gawai dan media sosial adalah satu kesatuan yang harus selalu melekat dengan tubuh. Hal itu seperti yang disampaikan oleh Wahyudi Akmal, narasumber pada Diskusi Publik “Identitas, Kesenangan, dan Digital Ekonomi: Ria Ricis Dan Pergeseran Platform Budaya Populer Islam” yang digelar oleh Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) di lantai III Gedung Rektorat Lama, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada Jum’at (10/11).

“Kalau bangun tidur itu, anak muda yang pertama kali dicari pasti HP, dan yang dibuka pasti Whatsapp, Facebook, kalau ‘gak Instagram,” kata Wahyudi di hadapan audiens.

Menurut Wahyudi, media sosial saat ini telah menjadi penting. Jumlah pengakses internet di Indonesia saat ini hampir separuh dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia, dan semakin lama diprediksi akan semakin banyak. Hal itu menjadikan media sosial sebagai sumber informasi yang sangat penting bagi masyarakat. Pergeseran kedudukan tersebut kemudian melahirkan seseorang seperti Ria Ricis.

Kehadiran perempuan bernama asli Ria Yunita dalam kancah pergulatan informasi digital membuat publik, khususnya generasi sekarang, mengalami pergeseran perilaku mengonsumsi informasi. Penampilan Ricis – begitu namanya populer dipanggil –  yang santai dan apa adanya membuat publik merasa nyaman menerima pesan yang disampaikan olehnya.

“Mereka itu (generasi saat ini-red) tidak suka pakem-pakem yang sangat serius. Mereka suka santai. Inovasi-inovasi [anak] muda akan lebih diterima dibanding harus terfokus pada pembahasan yang membosankan,” kata Wahyudi.

Wahyudi menambahkan, melambungnya popularitas Ria Ricis tidak lantas menghilangkan identitasnya sebagai seorang muslimah. Ricis senantiasa tampil dengan mengenakan hijab. Bahkan, konten-konten informasi yang disajikan oleh adik dari Oki Setiana Dewi itu kerap mengandung pesan-pesan dakwah. Penampilannya yang trendi dan stylish membuat publik mudah menerima pesan dakwah yang disampaikan Ricis.

“Ria Ricis itu berdakwah selalu santai, seperti [mengenakan] style hijab yang trendi dan cenderung tidak seperti menggurui. Itulah yang disukai para pemuda zaman sekarang,” kata Wahyudi lagi.

Selain melakukan dakwah, Wahyudi mengatakan bahwa Ricis juga salah seorang pelaku bisnis ekonomi digital.

Sejak 15 januari 2016 lalu, tercatat setidaknya ada 145 video dalam akun Youtube Ricis dengan total viewers 201.877.704 dan 1.755.654 subscriber.

“Jika dihitung secara kasar, pendapatannya sebulan sekitar US$7.600-$12.200,” kata pria yang juga seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Lain dengan Youtube, Ricis juga berkuasa di kancah Instagram. Wahyudi mengatakan bahwa akun Instagram Ricis berpotensi mengais pendapatan tiap sekali unggah pos antara US$11.401 sampai US$19.001. Sehingga, tiap bulan, dengan sehari melakukan 3 kali posting, pendapatan kasar yang bisa didapatkan Ricis sebesar Rp144.000.000.

Sebagai seorang Muslim, Ricis telah berpartisipasi secara aktif dalam perkembangan dunia dakwah di era serba digital seperti sekarang ini. Selain itu, ia juga mampu menjadikan sarana informasi digital tersebut sebagai wahana pengais rezeki yang menjanjikan.

“Apa yang dilakukan Ricis adalah sebuah [ekspresi] identitasnya sebagai Muslim. Ricis juga menyebut apa yang dilakukannya sebagai bentuk dakwah secara halus. Di samping itu, untuk main-main atau kesenangan, dan kemudian dapat uang karena digital ekonomi saat ini bergerak ke arah situ,” tutup Wahyudi.[]

 

Reporter Magang: Annisa Hidayati dan Diana Yuli Pertiwi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Aliansi Mahasiswa Jogja Gelar Aksi Tolak IMF-Bank Dunia

lpmrhetor.com – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi