Ibu Pertiwi
Meski masih dalam buaian ibu
Meski masih berbahasa ibu
Nyatanya kita masih takut juga
Dan kita semakin hilang percaya
Dengan ibu sendiri, ibu pertiwi.
Bahkan kabarnya ada yang ingin berpindah ibu
Ah, ada-ada saja
Ya, yang pindah akan menjadi anak tiri
Yang tinggal akan menjadi anak durhaka
Karena tak kuat membendung beban hidup.
Tapi, ibu tidak bersalah
Ibu hanya sakit, karena kepalanya yang pening
Bukankah kita pernah mendengar
Ikan busuk dari kepalanya
Anggap saja saat ini ibu kita seperti ikan yang hampir busuk itu.
Oh iya, hari ini adalah hari ulang tahun ibu
Semoga ibu lekas sembuh, terutama soal kepalanya yang pening
Dan di hari yang istimewa ini
Ada pertanyaan yang ingin ku tanyakan sejak dulu
‘Siapa sebenarnya ayah kita?’
Mempertanyakan Tuhan
Permisi, tuan.
Saya mau bertanya
Apakah tuan percaya bahwa surga itu ada?
Atau, apa mungkin tuan tau jalan menuju kesana
Kalau tau, saya mau ikut tuan
Karena dengar-dengar bumi ini akan segera hancur
Percuma kita berkelana
Keluar sebentar kita akan mati segera
Entah tenggelam atau karena kepanasan
Lalu, apakah tuan setuju
Bahwa neraka adalah bentuk kebohongan Tuhan?
Karena jika dia memang pengasih dan pengampun
Dia tidak akan menciptakan neraka itu
Eh, tapi tunggu sebentar tuan
Apakah tuan percaya dengan keberadaan Tuhan?
Jika tidak, tuan tak perlu menjawab semua pertanyaan saya.
Dian Pratiwi, Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
