Gara-Gara Kursi

Ilustrasi: tribunews.com

Oleh: Abdul Majid*

Hari yang kami nantikan untuk kami benci pun tiba, ketika persahabatan dan persaudaraan nyaris terpecah oleh suatu kedudukan, mungkin memang waktu telah menjemput kami, waktu telah menghantarkan kami ke depan gerbang perjuangan yang mungkin tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Kami hanya segelintir pemuda yang sedikit peduli dengan hal yang terjadi saat ini, baik itu dalam hal pendidikan, maupun politik, yang ada di tempat kami menuntut pengetahuan. Aku sendiri seorang yang mereka pilih untuk menjadi pemimpin mereka dalam sebuah persekawanan di dalam sebuah organisasi. Tentu itu bukan sebuah keinginanku, tetapi ku rasa nurani mereka yang memanggilku.

Jarum jam terus berputar. Tak terasa sudah pukul dua, padahal serasa barusan saja mereka berdebat kusir di depanku. Tepat disampingku sebungkus rokok tergeletak. Kutarik sebatang, seorang di sampingku dengan tampang muram menyodorkan korek. Seketika asap kuhembuskan, “huh, nikmatnya Ya Tuhan,’’ kupejamkan mata, hembusan kedua terasa makin nikmat.

Hampir kuhisap lagi batang rokok di tangan kananku, belum sampai di bibir, ‘’Dul! Gimana sekarang jadinya?’’ tiba-tiba Arman dengan suara gelisah nyerobot.

‘’Apanya, man, yang gimana?’’ tanggapku. Arman menundukan kepala seperti hilang gairah.

‘’Sebenarnya, ini hal yang paling aku benci, Dul. Aku gak mau kalau harus perang urat saraf sama temen sendiri,’’ Arman mulai ngotot.

Man, ini jawaban proses kita selama ini. Waktulah yang menuntut pertanggungjawaban kita. Organisasi memanggilmu, Man,” balasku. Kami saling bertatapan, matanya berkaca-kaca.

Udah, lu jangan pada gontok-gontokan, kaya Tom and Jerry aja. Ngopi sek biar ‘gak tegang, nih… sekalian biar tambah nikmat ngopinya. Kita main!’’

Tiba-tiba, dari balik pintu, Ahmad datang dengan segelas kopi hitam di tangan kanannya, lengkap dengan seperangkat alat penghibur di tangan kirinya. Apalagi kalau bukan kartu remi.

Posisi duduk kami langsung berubah membentuk lingkaran di atas hamparan tikar yang sudah bolong-bolong karena puntung rokok.

Gua kocok dulu, ya. Nih, Man, Dul, siapa yang bakal dicoret duluan ya? Hi… hi…’’

Ahmad membagikan kartu satu persatu sembari cengengesan. Sebuah wadah berisikan ampas kopi juga sudah menantang gagah tepat di tengah-tengah kami. Seakan sudah siap merubah tampang kami menjadi wajah seorang prajurit gerilya hutan tropis. Cemong-cemong!

‘’Haha… Mati lu pada!’’ Ahmad tertawa tengik. Nampaknya kartu di tangannya jadi bom buatku dan Arman, perasaanku mulai tidak enak.

Wah… bahaya nih,’’ ujarku dalam hati. Kartuku busuk-busuk. Pantas saja Ahmad cengengesan.

Sementara, Arman seperti kurang menikmati alur permainan. Mungkin masih kepikiran obrolan kami tadi.

Ah, payah nih,’’ gerutu Arman.

Permainan terus berlanjut. Ku lirik Ahmad dengan kartu di tangannya yang tinggal tersisa tiga buah. Kalau begini caranya, jelas aku bakal kalah. Kartuku masih sisa banyak!

Haha… tuh, kan, mati lu pada. Sini-sini, Dul, maaf ya, malam ini kamu harus jadi tentara dadakan, hihi… hihi.’’ Si Ahmad tengil. Persis seperti dugaanku, olesan ampas kopi pertama mendarat tepat di wajahku.

’Ayo, Man, kita baptis si Abdul, haha…’’

Arman sigap mengoles tanda strip di jidatku. Olesan kedua langsung ikut mendarat, dan jadilah lambang salib di jidatku. Parat sampai ujung hidung.

Hahaha…” Seketika tawaku pecah. Perutku serasa dikocok, tak kuat melihat wajahku sendiri cemong gara-gara ampas kopi.

Dul, sebagai ketua organisasi, kamu tahu betul karakter teman-teman yang lain. Rapat minggu lalu juga kamu tahu, teman-teman menyepakati kalau aku yang naik jadi ketua. Tapi, kan, kamu tahu selain itu, Jito sama Steven, gimana mereka jadinya nanti?’’

Arman mulai menyambung obrolan kami yang terpotong tadi. Ahmad mengedipkan mata ke arahku.

Iya, Man, lantas apa yang kamu bingungkan?’’

Sebenarnya aku sudah paham betul arah pertanyaan Arman menuju kemana. Oh Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? Hari inilah, saat sepert inilah yang aku takutkan dari dulu. Temanku-temanku yang sudah mengisi hari-hariku selama di tanah rantau. Tidak! Mereka bukan hanya teman, lebih dari itu, mereka adalah keluarga, sudah kuanggap mereka seperti saudara kandungku sendiri. Tapi… Tapi… Arrrkhh… Aku muak dengan diriku sendiri.

‘’Woy! Dul! Masa kamu ‘gak paham maksudku, Jito itu temanku sedaerah, teman sekamarku juga. masa cuma gara-gara hal kayak gini aku harus dibuat bersitegang sama dia. Steven, dia temenku, temenmu juga, kan?” Tensi Arman mulai naik.

Ini bukan kali pertama dia seperti ini. Aku jadi ingat punya pengalaman buruk kalau Arman sudah marah. Bukan gertakan saja, tapi kepalan tangan yang bakal bersemayam di pipiku. Biasanya.

‘’Yaudah, gini aja, kita pahamkan lagi ke teman-teman yang lain, termasuk Jito dan Steven. Bahwa, ini menyangkut soal masa depan organisasi. Aku yakin, kalau semua sadar dan paham betul, apalah arti sebuah kedudukan, toh… hakikatnya tanggung jawab ada pada semua,’’ jawabku.

Iya, Dul, aku paham omonganmu. Tapi, kan, gak segampang itu. Ini, nih.. sumpah hal paling aku benci. Kenapa semuanya harus terjadi. Kalau bisa curut yang jadi ketua, mending aku pilih curut aja deh, kalau tahu bakal kayak gini,’’ kecewa, marah, mungkin itu yang ada dalam batin Arman.

Seandainya kamu tahu isi hatiku, Man. Mungkin tidak jauh dengan apa yang kamu rasakan.

***

‘’Alhamdulillah, kita sudah menemukan calon ketua yang bakal kita usung nanti di acara konferensi akbar. Jadi, silahkan kawan-kawan mulai dari sekarang bisa mensosialisakannya. Karena ini sudah keputusan bersama kita semua sebagai bagian dari organisasi,’’ instruksiku pada forum.

Pasca pertemuan itu, wajah Arman berubah jadi tidak keruan. Mulutnya mulai berkemit. Mungkin dia mulai ingin angakat bicara.

Ya, baiklah, kalau kawan-kawan sekalian percaya pada saya, insya Allah saya siap untuk menjalankannya. Tapi, dengan catatan bahwa, ini bukan tanggung jawab saya saja, tapi juga tanggung jawab semuanya,’’ kata Arman dengan suara berat.

Orang-orang di forum mengangguk-angguk tanda paham apa maksud Arman.

Aku tak tahu seperti apa perasaan Jito dan Steven. Sekarang mereka mungkin kecewa. Fuh! Kenapa langkahku jadi simalakama begini? Kenapa jadi rebutan kursi begini? Kenapa kita tidak berteman seperti biasa saja? Aku berat melihat kalian seperti ini.

Jito, Steven, aku paham keinginan kalian. Bagiku. kalian sama-sama pantas, kok, buat jadi ketua. Tapi, ini kenyataan forum organisasi kita, keluarga kita.

“Yok, pulang! Alhamdulillah, Dul, forum sudah selesai. Semoga kandidat yang lain legowo atas hasil barusan,’’ kata Iksan, membuyarkan lamunan.

“Iya, mudah-mudahan, ya,’’ balasku singkat.

Kami langsung meluncur menuju kontrakan. Aku diapit Iksan dan Kribo. Mungkin sekarang hanya tinggal menunggu konferensi akbar tiba. Walau suara antara persekawanan kami sudah memutuskan, tetap saja hatiku belum tenang.

Jantungku dag dig dug tidak keruan. Tapi aku paham, inilah ikhtiar, soal keputusan, biarlah Tuhan, dengan segala rencana-Nya, yang menentukan. Gerbang kontrakan sudah terlihat.

Sesampainya di sana, tanpa membuang waktu, kulempar tubuhku kontan. Mataku semakin berat. Semoga dengan indahnya bunga tidur, gelisahku bisa lenyap. Semoga tidak ada lagi kursi apapun yang merusak ikatan persekawanan ini, Tuhan. Aku berdoa.

 

*Penulis telah lelah dengan ambisi kedudukan-kekuasaan yang sangat merusak. Sudah seperti Ya’juj-Ma’juj. Penulis ber-jurusan (tak ber-kedudukan) di PMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi. UIN Suka tentunya.

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali