Ajak Media Untuk Bertaubat

Ilustrasi: firmanyursak.com

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

[Al Ahzab: 21]

Adakah sebuah kesalahan bila kita berusaha untuk menginternalisasikan sifat ke-suri-tauladan-an Nabi Muhammad Saw sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam ayat di atas? Bahwa manusia biasa, apalagi yang bertanggung jawab terhadap pengayaan wacana masyarakat (umat), atau bahkan mereka yang dapat mengendalikan konstruksi opini umat – semacam media, juga harus menjadi suri tauladan bagi mayoritas masyarakat sebagaimana disifati oleh Nabi Muhammad Saw. Bukan malah menjadi peralatan segelintir pihak untuk menyeragamkan pengetahuan, atau bahkan meracuni konstruk pemikiran umat.

Berangkat dari kondisi media saat ini yang sifatnya ‘biasa’ atau mainstream, tidakkah itu membuat kita merasa kurang nyaman dengan informasi dan pengetahuan yang kita dapat dari media? Katakanlah, sebagai media yang merupakan salah satu penyampai risalah kenabian, sebuah pemberitaan sudah seharusnya mematuhi kode etik dan aturan moralitas umat. Namun realitanya, berita hoax merebak, wartawan ‘kacang’ muncul dengan isu-isu murahan, belum lagi tercampurnya berita (baca: informasi) dengan dunia entertaintment. Lah, jadi infotaintment! Atau malahan di-mixed sedemikian rupa dengan agenda politik praksis. Tapi itu bukan suri tauladan yang baik, Kawan.

Kondisi seperti itu, Kawan, sebetulnya sangat tidak amanah bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan kita—apalagi jika sumbernya murni dari wacana media. Lalu bagaimana kiranya sebuah media itu akan menjadi tauladan dan menyehatkan bagi masyarakat?

Jawabannya adalah taubat. Media harus kembali pada apa yang telah diamanahkan, di mana media hanyalah sebuah media. Perantara, penengah, medium, jembatan, cukup sampai di sana. Taubatkan apa-apa yang dibawa dalam badan media pada substansi—yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel dirangkum ke dalam The Elements of Journalism, yang ada Sembilan itu (atau menjadi Sepuluh setelah direvisi dalam buku yang berbeda). Biarkan masyarakat mendapatkan apa yang shahih dan bersih untuk mereka cerna, tidak perlu dibumbui macam-macam, biar para pembaca, pendengar, dan pemirsa saja yang menabur bumbu sesuai tangkapan mereka.

Namun realita—yang dibangun sejak waktu-waktu lalu, yang saat ini sedang terjadi, atau yang akan membangun esok hari—tidak sesederhana itu. Media itu ada di badan lembaga, pers menjadi bagian dari korporasi—yang hidup dan memiliki banyak kehidupan di dalamnya. Maka substansi itu bukannya tidak bisa ditaubatkan, apalagi dengan Taubat An-Nasuha. Hanya cukup perlu dibekali dengan sesuatu yang (seharusnya) tidak merusak keasliannya.

Berbicara soal lembaga, manusia, dan realita, maka di situ ada sistem ekonomi dan manajemen media massa. Tanpa mencoba mengurangi keabsahan kode etik jurnalistik atau mengabaikan substansi berita yang Uswatun Hasanah, media memang perlu penghidupan. Bukan dengan menjual isi informasi kiranya, sebab itu hanya akan membuat media jadi rancu dan buram keberpihakannya. Bagi saya, komersialisasi media itu bisa disiasati, asalkan perlu digarisbawahi—media tidak menjual fitnah omong kosong dan produk politis!

Ada, kok, media yang tetap hidup bahkan sukses tanpa memperdagangkan amanah ke-shahih-an informasi dan berita yang mereka tabligh-kan. Media alternatif itulah namanya, yang perlu kiranya dikembangbiakkan supaya tidak sekadar bayang-bayang bias yang samar-samar dilihat masyarakat. Jika butuh dana, dapatkan saja dari iklan—dengan format yang terpisah dari pemberitaan, yang tidak melebur bersama karya. Kelola saja sudut-sudut dan celah kosong yang ada tanpa merusak badan beritanya. Tidak usahlah, ngomong-ngomong soal politik praksis hanya karena diiming-imingi promosi jabatan, atau malah menyediakan laman promosi eksklusif buat calon pemangku jabatan pemerintahan. Na’udzubillah!

Media masih bisa hidup, kok, meski hanya mengandalkan iklan ayam goreng atau toko kue di perempatan jalan—bukannya gambar muka nyengir dengan V sign sebagai simbol nomor calon parpol. Tidak akan bangkrut media, meskipun hanya ada sedikit pelanggan dan penyewa kolom iklan jual tanah kapling. Media punya ribuan cara untuk hidup dan menghidupi manusia. Prinsip ekonomi itu memang benar, tapi bukan berarti media tidak bisa kembali pada substansi fungsi yang sesungguhnya dan malah memunculkan kecacatan fungsional.

Bagaimanapun, memang, media tidak bisa lepas dari bisnis. Meski begitu, mempertahankan dan membenahi sudut pandang, keberpihakan, dan orisinilitas idealisme bukanlah sesuatu yang perlu digadaikan hanya karena mengejar tingkat rating semata. Media perlu dikembalikan ke rumahnya, dipulangkan pada idealismenya, diajak bertaubat kembali kepada amanah Uswatun Hasanah-nya, dengan oleh-oleh secukupnya saja. Media biarlah menjadi media, perantara yang tidak berpihak, yang tetap hidup tanpa menjadi parasit. Sebagaimana Rasul yang mendeklarasikan dirinya sebagai bagian dari kelas fakir maal (bukan fakir ‘amal), media cukup berharakah dengan cara-cara yang sehat dan fair saja.

 

*Penulis “insya Allah” juga sedang berupaya menuju Taubat yang Nasuha. Sebagai mahasiswi KPI dan salah satu awak media lpmrhetor.com, penulis juga harus menjadi Uswatun Hasanah sebagai bagian dari amanah risalah kenabian. Insya Allah.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan