Danto Sisir Tanah Berharap Dukungan Untuk Menolak Bandara Makin Meluas

Danto Sisir Tanah. Sumber: Soundcloud.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Ratusan pengunjung memadati Kedai Kebun Resto pada Kamis malam (14/12). Padatnya pengunjung hingga ke sisi jalan Tirtodipuran ini dalam rangka menghadiri acara solidaritas dan do’a bersama kepada para petani Kulon Progo yang menolak pembangunan bandara baru Kulon Progo dalam gelaran “Gugur Bumi, Gugur Pertiwi”.

Gelaran acara yang yang dipenuhi oleh ratusan pengunjung ini, turut dihadiri oleh drummer Superman Is Dead (SID) Jerinx, Fajar Merah, Melanie Subono, Iksan Skuter, Frau, juga Danto Sisir Tanah.

Mereka mengajak hadirin untuk bernyanyi bersama lagu-lagu mereka diselingi oleh lagu-lagu wajib nasional. Selain itu, turut pula hadir Gunawan Maryanto dan Dodok Putra Bangsa.

Baca juga: Selasa yang Panjang di Kulon Progo

Bagus Dwi Danto atau Danto Sisir Tanah yang turut tampil di acara tersebut mengatakan, bahwa acara ini digelar dalam rangka penggalangan dana dan dukungan untuk para petani Kulon Progo yang sampai hari ini menolak pembangunan bandara baru.

“Acara ini dalam rangka menggalang dukungan kepada mereka (warga penolak bandara-red) untuk tetap bertahan pada keyakinan mereka,” ujar pelantun lagu Konservasi Konflik ini.

Selain itu Danto pun berharap perjuangan petani Kulon Progo dalam menolak pembangunan bandara dapat didukung oleh banyak seniman lainnya.

“Aku pikir harusnya begitu. Acara ini memang dalam rangka ke situ (menggalang dukungan-red).”

Ditanya soal rencana pembangunan NYIA, dirinya mengaku tidak punya kebutuhan yang akut terhadap pembangunan bandara baru di Yogyakarta.

“Untuk pembangun NYIA, menurut aku nggak punya kebutuhan yang akut sih. Apalagi [bagi] para petani di sana. Jadi, ada skema yang lebih merugikan warga di sana. Apalagi ada nilai-nilai kemanusiaan yang diabaikan,” tuturnya.

Baca juga: Bantuan Dana Solidaritas Terus Mengalir ke Kulon Progo

Selain itu, pria kelahiran 28 Oktober 1978 itu pun berharap kepada semua yang datang dalam acara itu bisa lebih memahami isu tentang penolakan pembangunan bandara baru oleh para petani Kulon Progo.

“Harapannya teman-teman yang hadir bisa semakin memahami isu ini dan tidak ragu-ragu untuk menyatakan dukungan,” tandasnya kepada lpmrhetor.com usai acara.

Selain itu, Leilani Hermasih, atau Frau, turut menyuarakan bahwa isu ini sudah sepantasnya untuk dihadapi bersama.

“Saya pikir ini mungkin satu titik di mana kita jadi bisa melihat isu ini [dan] harus dihadapi bareng-bareng,” kata Frau dikutip dari Tirto.

Baca juga: Warga Bantah Tuduhan Polisi Sebut Aktivis Solidaritas Sebagai Provokator

Rangkaian praktik perampasan tanah dan ruang hidup memang telah lama terjadi di desa Palihan, Temon, Kulon Progo. Pada 27 November 2017 lalu, PT Angkasa Pura 1, BUMN yang bertanggungjawab atas pembangunan NYIA di Kulon Progo, melakukan penghancuran terhadap rumah dan lahan pertanian warga. Warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani tentu saja menolak.

Namun, penolakan tersebut justru ditanggapi dengan perlakuan represif dari kepolisian. Sedikitnya, 15 relawan solidaritas yang membantu perjuangan warga ditangkap polisi karena dituduh sebagai provokator. Hingga kini, warga dan relawan solidaritas masih bertahan di lokasi penggusuran untuk mempertahankan tanahnya agar tidak dirampas oleh PT Angkasa Pura 1 yang dikawal aparat.[]

 

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Menuntut UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

UGM dituntut menangani kasus Agni secara serius dan