UIN Sunan Kalijaga dan Masalah UKT

Ilustrasi: Finansialku
S ALAH satu masalah yang sering saya dengar dan lihat, bahkan ketika saya pertama kali duduk di bangku perkuliahan adalah UKT. Ya, Uang Kuliah Tunggal, bukan Usaha Kesehatan Tentara. Sejak awal saya sudah melihat berbagai aksi dari mahasiswa tentang penolakan terhadap sistem UKT. Mulai dari poster stensil, coretan di dinding, sampai pada demonstrasi. Pendapat-pendapat pun muncul dari kalangan mahasiswa sendiri, ada yang mendukung, ada yang mencibir, ada pula yang acuh tak acuh. Saya sendiri dulu masuk ke dalam golongan ketiga.

Karena banyaknya suara-suara yang bermunculan tentang isu tersebut, saya sendiri justru malah akhirnya penasaran. Ketika saya mulai mengobrol dengan kawan-kawan saya. Saya akhirnya mengetahui dan mencoba melihat data, bahwa UKT di UIN Sunan Kalijaga selalu naik setiap tahunnya. Awalnya saya pikir tidak masalah. Asal mahasiswa sepakat, maka tidak jadi masalah, kan?

Masalahnya, tidak semua mahasiswa mampu membayar biaya UKT yang diberikan. Dan tidak semua mahasiswa mengerti bagaimana cara mengajukan banding terhadap biaya UKT. Sebenarnya kawan saya sendiri ada juga yang merasa keberatan, namun ternyata memilih pasrah dan membandingkan dengan biaya UKT di universitas lain, maka jelas UKT di UIN akan terasa murah.

Setelah mendengar kepasrahan kawan saya itu, hal yang saya pikirkan adalah ketika saya makan ayam goreng di rumah makan pinggir jalan seharga sembilan ribu, dan harga ayam goreng di sebuah mall seharga dua puluh lima ribu, saya akhirnya sadar bahwa hal mencolok yang dapat membedakan harga adalah “tempat”.

Kenaikan UKT Untuk Pembangunan?

Sebelumnya, yang saya dengar UIN Sunan Kaljaga memiliki biaya kuliah yang sangat murah yakni 600 ribu rupiah, sehingga sering mendapat julukan ‘Kampus Rakyat’. Sistem UKT di UIN Sunan Kalijaga sendiri yang saya tahu dimulai tahun 2013. Dan ketika saya melihat data-data biaya UKT, selalu terdapat kenaikan tiap tahunnya.

UKT sendiri merupakan uang kuliah tunggal yang membuat pihak kampus tidak memiliki kemungkinan untuk menarik biaya apapun di luar biaya UKT itu sendiri. Maka, jika setiap tahun biaya UKT naik, saya berasumsi bahwa ini soal pembangunan infrastruktur. Namun, ternyata tidak terlihat pembangunan infrastruktur yang signifikan dari tahun ke tahun. Salah satu pembangunan yang paling terlihat adalah gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Jika melihat data, memang FEBI memiliki biaya UKT yang cukup tinggi, namun masih kalah dengan biaya UKT di Fakultas Sains dan Teknologi dengan fasilitas gedung yang normal saja.

Asumsi saya, jika memang kenaikan UKT mengarah ke pembangunan, hal seperti itu saya kira tidak perlu-perlu amat. Lagipula, yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa belajar, dan bagaimana dosen mengajar. Dan menurut saya pembangunan itu hanya akan menjadi usaha dalam persaingan pasar di dunia pendidikan.

Jika kampus menjadi seperti ini terus menerus, maka hal yang substantif dari pendidikan itu akan benar-benar mati. Paling kalau seluruh fakultas di UIN sudah cantik semua, dan UIN menjadi ‘Kampus Favorit’ ya yang bisa kuliah cuma orang-orang sudah pintar atau kaya saja, kan?

Soalnya kalau sudah jadi favorit tidak masalah mau UKT semahal apapun, orang akan tetap masuk. Tapi memang, saya rasa semua kampus, bahkan sekolah, menjadikan dunia pendidikan hari ini serupa  arena kompetisi untuk mendapat predikat ‘favorit’ . Ya, mungkin kenaikan UKT sedikit demi sedikit ini termasuk dalam usaha bersaing di pasar pendidikan. Karena, seperti pepatah bahasa Jawa, ono rego ono rupo, bisa saja kampus kita menuju ke arah situ.

Mengapa kita harus peduli terhadap mahalnya UKT?

Seperti yang saya bilang, awalnya saya tidak peduli dengan masalah-masalah UKT karena saya rasa saya sudah sanggup membayar biaya yang ditawarkan. Cuma masalahnya, cukup banyak mahasiswa yang merasa keberatan dan tidak sanggup membayar, dari masalah keluarga yang kesulitan mencari biaya sampai ancaman drop out dari kampus karena tidak dapat membayar UKT.

Saya rasa, kita semua harus bersimpati terhadap hal tersebut. Kan bukan dirimu saja yang kaya raya, tho? Dan menurut saya mahasiswa yang merasa kaya dan mampu tanpa peduli lingkungan sekitarnya adalah mahasiswa yang gagal. Jadi ayo, kita buat kampus ini untuk kembali menjadi kampus yang ramah terhadap rakyat kecil.[]

Kusharditya Albi. Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Kecil atau Besar, Pelonco Tetaplah Pelonco

Tahun ajaran dan penerimaan mahasiswa baru sudah dimulai.