Menghapus Rasisme Dalam Kamus Kita

Ilustrasi: Boombastis

“Mother, Mother everybody thinks we’re wrong

Oh, but who are they to judge us?

Simply, because our hair is long

Oh, you know we’ve got to find a way, to bring some understanding here today”

(Marvin Gaye, What’s Going On)

B UKAN tanpa sebab, saya mengutip beberapa baris lirik lagu Gaye di dalam tulisan ini. Sebuah pesan, bahwa kita dapat dengan mudah bermusuhan dengan orang lain karena kita tidak tahu dan bahkan tidak mau tahu, bagaimana sebenarnya orang lain itu. Maksud saya, sangat penting bagi kita untuk mengenal orang lain mulai dari hal-hal yang sepele, seperti cara berbicara, cara berpakaian, atau bahkan cara memegang sendok dan garpu. Saya rasa dengan cara seperti itu, kita dapat menghargai seseorang dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah diskusi tentang intoleransi dalam ras dan etnis yang digelar oleh LPM Rhetor pada Sabtu (13/04/2019), saya menemukan sebuah pendapat yang menarik. Salah seorang panelis, kurang lebih mengatakan bahwa organisasi mahasiswa kedaerahan memiliki sisi negatifnya, karena hal itu akan membuat ruang-ruang perjumpaan menjadi lebih ekslusif. Saya sedikit setuju bahwa hal tersebut bisa saja membawa sifat-sifat cinta “kedaerahan” yang berlebihan, atau lebih jauh lagi munculnya sikap intoleransi antar daerah (ras dan etnis). Sebenarnya, tidak ada yang salah dari sikap-sikap mencintai daerah asalnya masing-masing, yang salah adalah jika kemudian hal tersebut menimbulkan fanatisme yang berlebihan.

Melting Pot dan Salad Bowl

Jika Indonesia diibaratkan seperti sebuah wadah, maka kita bisa memakai teori sosial melting pot dan salad bowl. Indonesia dengan suku, ras, dan bahasa yang berbeda-beda tidak akan bisa melebur menjadi satu (homogen). Sangat jelas di sini bahwa Indonesia bukanlah tempat peleburan (melting pot). Masyarakat Indonesia tidak mungkin bisa dibuat melebur menjadi “satu” dalam berbagai hal. Meskipun dipaksakan sekali pun.

Hal tersebut terpampang jelas dalam semboyan masyarakat Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika” bahwa masyarakat Indonesia memang terdiri dari kultur yang berbeda-beda (heterogen). Heterogenitas ini menuntut masyarakat Indonesia yang berbeda-beda dari segi ras dan kulturnya agar tetap menunjukkan identitasnya, dengan tanpa merendahkan yang lainnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa Indonesia sama halnya seperti salad bowl. Salad, yang di dalamnya memiliki banyak buah-buahan dan sayuran namun tetap menjadi satu tanpa meninggalkan identitasnya masing-masing, sangat merepresentasikan keberagaman masyarakat di Indonesia.

Jika dikaitkan dengan masalah organisasi mahasiswa kedaerahan, saya rasa hal tersebut masih wajar, jika usaha tersebut hanya untuk menunjukkan identitas daerahnya masing-masing. Asalkan tidak menimbulkan fanatisme dan sikap primodialisme yang berlebihan kenapa tidak? Dan saya rasa manusia memang seringkali mencari kesamaan-kesamaan yang ada pada orang lain, demi menjalin ikatan. Kesamaan itu bisa berasal dari daerah, ras, etnis, hobi, pola pikir, dan sampai pada tingkatan tertinggi, yaitu keyakinan dan kepercayaan.

Bagaimana Tingkat Diskriminasi Ras di Indonesia?

Sedikit aneh sebenarnya, jika Indonesia yang sudah berdiri bertahun-tahun dengan keberagamannya, ternyata masih saja mengidap penyakit rasisme. Seharusnya pelajaran-pelajaran tentang toleransi dan menghargai keberagaman harus sudah selesai sejak dulu. Jika kita melihat sejarah yang lampau, prasangka dan diskriminasi terhadap ras biasanya terjadi akibat munculnya kelompok ras yang merasa superior terhadap ras-ras yang lain.

Kita bisa lihat bagaimana bangsa kulit hitam dianggap sebagai budak, dan dianggap tidak setara dengan bangsa kulit putih. Begitu pula zaman pasca perbudakan primitif hilang, imperialisme dan kolonialisme juga sama bengisnya ketika memperlakukan bangsa kulit coklat (Asia) yang menurut bangsa kulit putih sangat terbelakang.

Hari ini, perilaku diskriminasi ras semacam itu sudah jarang ditemui, kecuali jika anda melihat neo nazi di Eropa, atau komunitas Bonehead dengan Brown Power-nya di Jakarta dan Malaysia, yang menganggap ras Melayu lebih tinggi dari yang lainnya.  Diskriminasi ras yang kita lakukan hari ini lebih tipis dan tidak kasat mata sifatnya, sampai-sampai kita sendiri tidak menyadari, bahwa kita terjangkit penyakit rasisme.

Kita sering tertawa mendengar teman kita saat aksen, atau logat bahasanya aneh. Ambil saja teman kita yang berasal dari Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya maka mereka akan merasa canggung berbicara dengan logat aslinya. Memang bukan maksud kita mengolok-olok cara berbicaranya, namun saya rasa kita memang harus menghargainya dengan logat bicara aslinya. Agar ia juga merasa nyaman.

Lagi, misalnya orang-orang di lingkungan yang mayoritas adalah penduduk asli (asal), sebut saja di Magelang misalnya, akan merasa lucu dan aneh ketika tiba-tiba muncul orang Papua di sekitar mereka, berbagai prasangka dan stereotip yang sering bermunculan dalam pergaulan pun memengaruhi sikap kita dalam berhubungan dengan orang yang bukan penduduk asli tersebut. Seolah-olah menjadi orang Papua adalah hal yang aneh sehingga banyak yang memperlakukan orang dengan warna kulit lain seperti menganggap aneh, atau bahkan menertawakannya diam-diam.

Diskriminasi ras yang klasik juga masih terjadi antara etnis Jawa dan etnis Tionghoa, permasalahannya tidak hanya stereotip, namun kecemburuan sosial juga ambil peran di sini. Orang Jawa menganggap etnis Tionghoa adalah orang yang pelit dan rakus. Begitu pula orang Tionghoa menganggap orang Jawa adalah pemalas, boros, dan pongna-pongno, mumpung enak mumpung ono, atau dalam bahasa Indonesia selagi enak dan selagi ada. Hal tersebut menyebabkan rasa canggung dan sentimen antar etnis, yang bahkan kemudian dapat memicu perseteruan di kemudian hari.

Tentu masih banyak lagi  prasangka dan stereotip yang menjangkiti tiap ras dan etnis. Prasangka dan stereotip yang ada dalam tiap-tiap etnis dan ras. Sebenarnya bagaimana prasangka dan stereotip terbentuk? Prasangka-prasangka sosial sendiri muncul akibat interaksi sosial antar kelompok yang saling menilai, kemudian menggeneralisir hasil penilaian itu, menjadi karakteristik suatu kelompok.

Menurut survey yang dilakukan Komnas HAM dan Litbang Kompas, menyebutkan bahwa 90 persen dari 1.270 warga dengan rentang usia 17-65 tahun, mengatakan belum pernah mengalami diskriminasi ras dan etnis. Meskipun begitu, kira-kira bagaimana parameter dan acuan perilaku diskriminasi tersebut? Apakah perilaku diskriminasi tersebut harus bersifat konfrontasi, perang, atau bahkan  genosida?

Data survey Komnas HAM dan Litbang Kompas juga menunjukkan beberapa hal. Pertama, 48 persen warga pernah melihat diskriminasi ras dan etnis di fasilitas umum, 82,7 persen lebih nyaman hidup dengan ras yang sama, 83,1 persen lebih nyaman tinggal dengan kelompok etnis yang sama, dan 81,9 persen lebih nyaman tinggal dengan keturunan yang sama. Sangat membuktikan bahwa perilaku diskriminasi ras dan etnis sangat halus, dan bahkan tidak disadari.

Media dan Negara

Media dan negara juga saya kira juga turut berperan terhadap perilaku diskriminasi yang terjadi di masyarakat. Media misalnya, terkadang juga  membentuk stereotip ras dan etnis melalui tayangan televisi. Dalam sinetron misalnya, orang Jawa digambarkan sebagai pembantu, malas, dan lain-lain. Orang Padang dengan karakteristik sebagai orang yang kikir, orang Makassar yang sering digambarkan sebagai preman, dan lain-lain.

Pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan media juga terkadang memengaruhi pandangan masyarakat. Sangat banyak contohnya, bukan tugas tulisan ini untuk mengulas lebih dalam terhadap hal tersebut. Kemudian, respon masyarakat terhadap berita kerusuhan antar etnis juga menjadi masalah dan pemicu kerusuhan yang lebih besar.

Negara juga sering menggembar-gemborkan hal-hal yang bersifat memusuhi sebuah kultur. Misalnya, kita sering menemukan negara, melalui edukasi, menganggap bahwa sebuah budaya tidak sesuai dengan budaya “ketimuran”. Sehingga, masyarakat merasa superior terhadap budaya-budaya yang dimilikinya. Masyarakat menjadi etnosentris, dan xenofobik. Sifat memusuhi bangsa asing yang menurut saya juga menjadi penyakit di masyarakat. Karena, di era globalisasi ini kita tidak bisa menghindari dinamika kebudayaan yang ada.

Dalam tingkatan yang lebih tinggi, negara bahkan pernah menggunakan “alat” negara untuk mempropagandakan tindakan diskriminasi terhadap ras dan etnis tertentu, demi sebuah kepentingan ekonomi dan politik. Sebut saja kasus PARAKU yang melibatkan militer untuk menumpas etnis Tionghoa.

Negara melalui sistem edukasi, seharusnya bisa memberikan informasi terhadap masyarakat bagaimana seharusnya seluruh lapisan masyarakat saling melindungi keberagaman dan melindungi kaum-kaum minoritas dari perilaku diskriminasi ras dan etnis.

Membangun Ruang Perjumpaan

Pada akhirnya, solusi dari semua itu adalah saling mengerti satu sama lain. Kita dapat menghapuskan segala prasangka buruk dan stereotip dengan bertemu satu sama lain. Jika kita mengenal suatu ras dan etnis, maka kita mengerti bagaimana cara memperlakukan orang lain dari golongan yang berbeda.

Indonesia sebagai negara yang multikultural, juga seharusnya menyediakan edukasi kepada masyarakat tentang perbedaan yang lebih daripada sekarang. Hal-hal semacam toleransi seharusnya bisa selesai sejak masa anak-anak. Ruang perjumpaan juga memungkinkan kita memiliki simpati dan empati terhadap masalah-masalah yang dihadapi ras dan etnis yang lainnya. Serupa dengan yang dilantunkan Marvin Gaye di atas, kita hanya butuh pengertian satu sama lain, agar tidak menimbulkan sikap menghakimi seenaknya.[]

Kusharditya Albi. Jurnalis LPM Rhetor dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Mei : Game of Thrones, Reformasi ’98, dan Quo Vadis Gerakan Mahasiswa?

“Koran-koran pun ikut membakar kedamaian pagi Hari itu