Tiada Dewa Selain Dosen

Sumber: Istimewa

Oleh: Ni’amul Qohar*

Embun yang biasa ada di pagi hari kini telah hilang. Butiran-butirannya yang bagaikan kristal mutiara tersebut telah digantikan rintikan air hujan. Yogyakarta telah memasuki musim penghujan. Membuat segala aktivitas menjadi malas, mager tidak ada ketentuan. Kecuali membaca, melamun, mengemil dan ngopi. Memang musim hujan disamping dapat mengingatkan masa lalu yang kelam dalam kehinanaan maupun kebahagiaan. Juga sangat cocok untuk membaca, mengemil dan ngopi, ngobrol dengan teman.

Hujan ini telah mencipta pertemuan itu, pertemuan antara seorang santri dan aktivis kampus. Dia adalah teman sejurusanku, Ilmu Kesejahteraan Sosial. Jurusan ini bagiku suatu jurusan yang mulia, karena jurusan yang memberi solusi lalu juga ikut mengatasi permasalahan sosial yang ada. Masalah sosial tidak akan ada habisnya, selalu ada, dan setiap zaman pasti berbeda. Tetapi, lagi-lagi ini adalah masalah dosen. Ketika aku tanya pada teman yang jurusan lain, katanya, dosennya memberi tugas berhari ada.

Kadang aku mengeluh, dan protes. Di suatu hari aku bertanya kepada dosen mengapa begitu banyak tugas.

“Kan pertama kali kontrak belajar sudah kalian sepakati,” si Dosen enteng menjawab.

Mendengar jawaban dosen seperti itu aku langsung diam saja, malas bertanya lagi.

***

Mentari yang malu-malu kini telah redup ditutupi awan hitam, yang seakan-akan membendung kesedihan. Benar, sang awan ternyata sedih, dan sekarang air matanya meleleh jatuh.

Tepat pagi itu aku berangkat kuliah. Ku pandangi rintikan hujan. Seakan dalam rintikan hujan ada senyum seorang ibu yang menyapa, ada suara bapak yang selalu berkata, “jangan jadi orang pemalas!”

Ku beranikan diri menerjang hujan. Jalanan ku telusuri sembari mengenakan jas hujan agar badanku tidak basah semuanya. Hujan kini ku lewati. Jika ada yang bekata hujan bisa mengingatkan pada mantan, hujan kali ini mengingatkan kejengkelnku kepada dosen. Karena telah memberi tugas yang sangat banyak sehingga tadi malam aku bergadang mengerjakan tugas.

Hampir pukul 10 aku sampai di kampus. Aku langsung masuk kelas, ternyata kelas masih kosong. Aku menunggu di sekitar dinding kelas. Sendirian aku menunggu, karena teman-teman yang lain belum satupun datang. Setelah detik menjelma jadi menit, dan menit belum berubah menjadi jam, selama itu aku menunggu hadirnya dosen. Menunggu sangat menjenuhkan bagiku, apalagi menunggu dosen dalam keadaan basah kuyup. Hampir membeku badanku. Jengkel juga.

Sambil melihat grup WhatsApp kelas, ternyata baru saja ada pengumuman bahwa dosen tidak bisa hadir karena hujan. Apa? Kedinginan aku menunggu. Alasan macam apa ini, gumanku dalam hati. Dalam hatiku merasa jengkel, karena dengan mudahnya dosen membatalkan pertemuan. Bukankah Kartu Rencana Studi sudah dibuat jauh-jauh hari?

Ingin sekali aku teriak di hadapan wajahnya, “Kan pertama kali kontrak belajar sudah kita sepakati.” Kalau saja si dosen ada di posisiku, sudah habis nilai mahasiswanya.

Alamak. Mau jadi apa pendidikan kita nanti?

***

Kamar indekos ku sempit. Entah kenapa pengapnya lebih terasa ketimbang kemarin. Semalaman aku begadang kerjakan tugas. Pagi tadi aku basah kuyup untuk menghadiri kuliah yang batal. Dosen memberi tugas dan kebenaran adalah miliknya tunggal.

Ada cerita di mana mahasiswa yang penampilannya tidak sopan, ditimpuk nilai B meroket ke bawah. Mahasiswa aktif bisa dapat dinilai A. Aktif adalah pandai bicara. Ya, walau kosong sekalipun. Seakan dosen adalah Tuhan yang mengatur, memberi ketentuan sesuai keinginan hatinya belaka, memiliki kuasa atas kebenaran. Apakah dosen semua begitu? Tentu saja tidak, ini hanya sebagian kecil dosen seperti itu. Tapi, ya, menjengkelkan!

Akhirnya aku putuskan pergi ke kantin kampus untuk sekadar meminum kopi. Membeli rokok ketengan jadi teman. Maklum, ekonomi sedang melemah. Temanku si santri cum aktivis itu tiba. Aku ajak dia berdiskusi soal dunia ke-Dosen-an. Pendapat dia, dosen memang begitu, bertindak sewenangnya sesuai hatinya.

“Di dunia perkuliahan ada tugas mungkin bisa jadi kewajaran,” katanya, “tapi, jika tugas diberikan bertubi-tubi, yang ada malah menambah beban pikiran. Itu bisa dinamakan pembunuhan.”

“Apalagi tugas diberikan dosen dan penilainnya sesuai dengan kebenaran menurut dosen. Apa tidak gila semua itu?”

Dia habisi dunia perkuliahan.

“Karena dengan adanya tugas, pasti kita akan membaca dan belajar. Nah, ketika sudah tidak ada tugas, jangan sampai kita tidak membaca dan belajar,” anak pesantrenan itu belum berhenti nyerocos.

“Kita harus belajar dan membaca terus menerus. Mungkin niatnya dosen seperti itu,” katanya meyakinkanku.

“Meskipun begitu, ia adalah gurumu, yang memberi kesanadan ilmu. Kalau tidak ada dosen, kita tidak dapat kesanadan ilmu. Kamu mau keilmuanmu bersanad pada mbah Google?

“Tidak sih, tapi kok sampai segitunya?” Ada celah aku menimpali.

“Sudah, sudah. Nikmati yang ada, yang penting tetap ngopi agar pikiran tenang.”

Alamak…! Lagi-lagi seruan moral tak bersolusi.

Oh ya, bukankah dosen adalah fasilitator? Terus, maksudnya “Guru”?

 

*Aktif sebagai wartawan magang LPM Rhetor.

You may also like

Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta Di kamar 2 kali