Sebentar Berkelana ke Persma Pendahulu

Ilustrasi: Profesi UNM

“Kesetiaan pada kebenaran membedakan wartawan dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama.” (Andreas Harsono)

J IKA mendengar kata pers mahasiswa, tentu bertanya-tanya apa perbedaan pers pada umumnya dengan pers mahasiswa, benar?

Esensi yang terkandung dalam pers umum dan pers mahasiswa hampir seluruhnya sama. Melakukan peliputan, mengawal isu, baik lokal, nasional, dan global. Jika pers umum bekerja atas kepentingan bisnis perusahaan, maka pers mahasiswa bekerja atas kepentingan mahasiswa. Termasuk juga di dalamnya penyaluran bakat di bidang jurnalistik.

Status pers dan mahasiswa merupakan dua kata yang mengandung makna cukup dalam. Penyandang status tersebut tentu memiliki nalar yang kritis, emosional, bahkan radikal sekalipun. Kenapa? Karena mahasiswa adalah pemuda yang terbiasa berpikir bebas, bertindak tanpa ada yang bisa menghasutnya, berani menyatakan pemikiran-pemikiran yang kritis, yang sebenarnya sikap itu adalah hasil dari didikan perguruan tinggi.

Tapi, bisa kita buktikan di zaman yang katanya bebas berekspresi ini, kampus pun menjadi penghalang kekritisan mahasiswa yang mengkritiknya, bahkan dibungkam.

Maka dari itu, persma adalah dua subjek yang sama-sama potensial dan berat. Sebagai pers, ia dituntut untuk menjalankan kerja kewartawanannya secara independen. Sedangkan sebagai mahasiswa, ia juga dituntut untuk menjadi agent of change, yang tidak hanya mampu berteori tapi juga mampu menyelesaikan persoalan dalam masyarakat.

Luqman Hakim Arifin, dalam catatan kongres PPMI di Lombok pada 24-29 Mei 2000 (Inayah: 201), mengatakan kedua entitas pers dan mahasiswa jika digabungkan, bisa dibayangkan betapa agung dan beratnya nama itu. Artinya, ia secara implisit mengajak awak persma untuk bertindak seideal mungkin.

Sikap keilmuan yang didapat di perguruan tinggi dan tata nilai kepemudaaan adalah hal yang sangat substansial dari pers mahasiswa. Bagaimana tidak, sikap itu yang membentuk kaum pers mahasiswa berani mengkritisi, memiliki jiwa yang emosional dan radikal hingga berani mengkritik kampus bahkan negara sekalipun.

Railon dalam bukunya Politik Dan Ideologi Mahasiswa Indonesia juga mengatakan hal serupa. Kesempatan yang didapat oleh mahasiswa merupakan peluang untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya yang kemudian akan di salurkan ketempat mereka berasal, yaitu masyarakat. Ia mengatakan mahasiswa bukan anak muda biasa, melainkan avent garde, yang sangat membenci sikap hipokrit dan peka terhadap keadilan (1985: 191).

Jika ada mahasiswa yang di luar sikap itu, anda bisa simpulkan sendiri apa status yang cocok disandangnya.

Mengenal pers mahasiswa tak hanya kenal karyanya, teorinya, dan eksistensinya yang sudah terbangun. Tapi, mengenal pers mahasiswa ialah mengenal cikal bakal pers mahasiswa itu sendiri. Apa yang telah dilakukan persma di masa lalu tak luput dengan yang dialami persma saat ini.

Maka dari itu, mengenal sejarah adalah langkah yang tepat untuk introspeksi diri. Mari kita simak sedikit review masa lampau pers mahasiswa.

Indische Vereeniging/ Perhimpunan Indonesia (1908-1925)

Siapa pendiri pers mahasiswa pertama di Hindia Belanda? Apa nama dari organisasi itu?

Pertanyaan itu terus terngiang di benak orang yang kepo akan akar dari setiap persoalan. Berbicara pers mahasiswa pasti ada asal muasal dari kata itu. Tahun berapa sih persma itu ada? Siapa dalang di balik didirikannya organisasi persma itu? Dan kenapa harus berdiri? Pertanyaan itu yang akan mengantarkan kita pada core of the core nya persma. Betul?

Iyap, you know? Pada tahun 1908, bersamaan dengan gemparnya pergerakan nasionalis di Hindia Belanda, beberapa tokoh nasionalis mencoba untuk mengadvokasi kemerdekaan ke berbagai penjuru dunia, khususnya di Eropa. Selain itu kaum priayi dan bangsawan berlomba-lomba mengirim anak-anak mereka ke Belanda untuk menganyam pendidikan di universitas yang ada di Belanda. Hingga disana bertemu dengan pendahulu maupun orang Belanda yang peduli akan kemerdekaan, anti dengan imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme.

Kenapa harus ke Belanda om kuliahin anaknya? Kenapa ya? Mungkin karena di negeri kincir angin lebih terjamin pendidikannya. Dan itu terbukti, beberapa tokoh yang kuliah disana mendirikan sebuah perkumpulan pelajar Hindia Belanda. Namanya Indische Vereeniging.

Indische Vereeniging berdiri di Belanda pada tahun 1908. Saat itu, Soetan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto Soeroto mencetuskan ide untuk membuat sebuah organisasi sosial dan budaya, sebagai perkumpulan pelajar Hindia Belanda yang mengenyam pendidikan di Belanda.

Seiring berjalan waktu, pencetus ide itu mengajak beberapa teman yang sekiranya memiliki frame yang sama dengan mereka, orang-orang yang ingin mempersatukan pelajar Hindia Belanda dalam satu organisasi. Termasuk juga orang yang meneliti tentang Hindia Belanda yaitu Conrad Theodore van Deventer. Selain itu, Raden Ambia Poerbo Soedibio dan Jacques Henri Abandanon juga merupakan pendiri Indische Vereeniging.

Nah, karena organisasi itu sudah kokoh, ketika Tjipto Mangunkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) masuk pada 1913, mereka mulai memikirkan kelangsungan organisasi ini yang memang harus terjun ke ranah politik. Terbitlah buletin Indische Vereeniing yang pertama, diberi nama Hindia Poetra.

Pada saat itu, nama Indische Vereeniging terkesan sangat Belanda, sehingga Prof. Cornelis Van Vollenhoven memperkenalkan nama Indonesisch (Indonesia) pengganti Indische (Hindia) pada 1917. Ketika M. Nazir Datuk Pamuntjak menjadi ketua pada 1924, nama majalah Hindia Poetra berubah nama menjadi Indonesia Merdeka.

Masih nyimak, gan? Lanjut ya. Berselang setahun ketika Soekiman Wirjosandjojo menjabat sebagai ketua, Indische Vereeniging resmi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Masa jabatan setiap ketua masing-masing hanya satu tahun sebelum Moh. Hatta menjabat ketua pada 1926-1930. Dialah yang membangun politik luar negeri untuk mencari dukungan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu tujuan kunjungannya yaitu ke Perancis, tapat pada kongres ke-6 liga demokrasi internasional, ia berorasi di depan rakyat perancis bersama orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan.

Berakhirnya PI disebabkan anggotanya yang memilih berkarir daripada melanjutkan perjuangan perhimpunan Indonesia. Moh. Hatta tak bisa melakukan apapun untuk menahan mereka dalam memperjuangkan PI. Pada akhirnya, Moh. Hatta mempertahankan organisasi yang telah dikelolanya dengan cara mengubah organisasi ke ranah yang lebih besar, tentunya di ranah politik. Berdirilah Indonesische Volks Partij (Partai Rakyat Nasional Indonesia).

Mahasiswa Indonesia (1966-1974)

Awalnya, Mahasiswa Indonesia ini lahir di Bandung dan terbit pertama kali pada bulan Juni 1966. Mayoritas anggota Mahasiswa Indonesia berasal dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), membuat mereka dipandang tidak independen, sehingga mereka memisahkan diri dengan KAMI. Mahasiswa Indonesia terlihat seperti media-nya KAMI, padahal  Mahasiswa Indonesia adalah sebuah organisasi yang seharusnya sangat Independen.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), menjadi motor penggerak bagi seluruh kegiatan yang diadakan oleh berbagai organisasi mahasiswa dalam menjatuhkan rezim Soekarno. Dalam tubuh KAMI terdapat dua jenis organisasi reformasi. Pertama, berdasarkan keagamaan seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perhimpunan Mahasiwa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Kedua, organisasi non agama seperti Sekretaris Bersama organisasi-organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL), Pelopor Mahasiswa Sosialis Indonesia (PELMASI), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).

Elyvia Inayah dalam bukunya Melawan Dari Dalam mengatakan tujuan dibentuknya KAMI adalah untuk memperkuat organisasi yang ikut andil dalam meruntuhkan rezim Soekarno. Termasuk didalamnya Mahasiswa Indonesia yang lahir pada 19 Juni 1966.

Mingguan Mahasiswa Indonesia merupakan model utama dari orde baru. Karena turut berperan dalam meruntuhkan demokrasi terpimpin dan membela, menjamin, serta mendukung keberlangsungan kekuasaan Soeharto.

Mingguan ini bergerak di luar kampus dan memiliki kantor sendiri di jalan Tamblong dalam Bandung (Inayah: 172). Pengelola mingguan ini adalah Rahman Tolleng, Awan Karmawan Burhan, Dadi Pakar, Sarwono Kusumaatmadja, dan mahasiswa yang anti Soekarno di Bandung.

Selain itu, Mahasiswa Indonesia tidak hanya menerbitkan artikel-artikel yang teoritik, radikal dan cenderung mengkritik demokrasi terpimpin pada saat itu, tetapi juga mengawal gagasan-gagasan yang telah dilontarkan Mahasiswa Indonesia untuk menjamin kelangsungan kekuasaan Soeharto.

Francois Raillon (1985) melihat peranan Mahasiswa Indonesia dalam Orde baru ada tiga tingkat, yaitu politik, ideologi, dan kritik. Ketika Rahman Tolleng dan beberapa temannya yang gencar saat itu menurunkan kekuasaan Soekarno, dipandang oleh elit pemerintahan Soeharto. Sehingga berkat reputasi mereka dalam berjuang melawan demokrasi terpimpin, Mahasiswa Indonesia menjadi animator dari lobi Orde baru (Raillon: 331).

Melihat tingkatan peranan Mahasiswa Indonesia, yaitu ideologi dan kritik yang sangat dijunjung tinggi dalam mingguan tersebut –Rahman Tolleng mempolitisasi politik dalam tingkatan peranan–maka Mahasiswa Indonesia tidak bisa membiarkan Rahman Tolleng dan kawan kawannya yang telah mendapatkan kursi di DPR, sudah terkontaminasi dengan kekuasaan orde baru yang cenderung otoriter dan tidak sesuai lagi dengan ideologi mereka.

Padahal Rahman Tolleng salah satu aktivis angkatan ‘66 yang sangat militan lho, sob. Bagaimana tidak, dia yang menggerakkan Mahasiswa Indonesia menjadi pelopor orde baru di Jawa Barat, dan diklaim sebagai propogandis tergiat di Indonesia untuk mengawal gagasan-gagasan modernisasi, mengeluarkan rakyat Indonesia dari keterbelakangan dan ketertinggalan dengan mendukung tesis pembangunan orde baru (Raillon, 1985: 330).

Begitulah pertarungan ideologi ketika masih menjadi mahasiswa dan setelah lulus dari perguruan tinggi. Jabatan melupakan perjuangan yang telah dilalui ketika menjadi mahasiswa. Dari pergulatan ideologi itu, terjadilah dua peristiwa yang menghambat karir politik mereka. protes-protes yang dilayangkan Mahasiswa Indonesia, kali ini terhadap Orde baru. Di tempat lain, muncul pertikaian politik antara orang-orang kuat yang dekat dengan presiden Soeharto.

Di tahun 1970 muncul gerakan-gerakan mahasiswa yang mengecam korupsi serta efek-efek negatif dari pertumbahan ekonomi. Mahasiswa Indonesia pun ikut mengkritik Orde baru dengan melakukan manuver politik. Perubahan haluan Mahasiswa Indonesia yang dulunya menjamin keberlangsungan kekuasaan Soeharto, kini berputar haluan seiring dengan gerakan mahasiswa yang memprotes ketimpangan ekonomi akibat pembangunan rezim Orde baru.

Raillon (1985) menganggap Faktor itulah yang menyebabkan Mahasiswa Indonesia dilarang terbit pada 1974. Ali Murtopo dan sahabat-sahabatnya menarik masalah itu dengan peristiwa 5 Agustus 1973 di Bandung dan 15 Januari 1974 di Jakarta. Ia menyebarkan tesis adanya komplotan melawan negara dimana Mahasiswa Indonesia dan beberapa koran lainnya ikut terlibat didalamnya.

Dengan demikian, terputuslah harapan mingguan Mahasiswa Indonesia untuk terus berkarya. Namun, tetap masih ada organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik yang sudah terbentuk dari tahun 1958. Yaitu Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).[]

M. Nizarullah. Kepala PSDM LPM Rhetor.

You may also like

Menghapus Rasisme Dalam Kamus Kita

“Mother, Mother everybody thinks we’re wrong Oh, but