Resensi Buku Jejak Langkah: Berfikir, Berorganisasi, Melawan Melalui Jalan Jurnalistik

Sumber: google.com

“Bicara soal organisasi adalah bicara tentang kepentingan bersama, bukan untuk menjadi Nabi atas sesamanya atau di antara sesamanya”

-Raden Mas Minke-

Judul               : Jejak langkah

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Cetakan           : Cetakan kesembilan, Februari 2012

Tebal               : 724 halaman

ISBN               : 979-97312-5-9

 

Tiba saatnya kaki Minke berpijak di alam Betawi di abad dua puluh, zaman modern yang dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan adat, darah, bahkan bumi. Bebas sepenuhnya. Iya, bebas karena hanya kepentingan pribadi yang akan melekat.

Pemandangan yang tak pernah dilihat Minke di Surabaya kini terhampar di depannya, kendaraan yang berjalan di atas rel besi dengan lonceng kuningan pengusir kantuk terhenti di depan menunggu penumpang menghampirinya.

Dengan berbagai barang bawaannya, koper tua, tas dan sebuah lukisan wanita dalam sampul beledu merah anggur, membawa Minke menuju halte terakhir Weltevreden atau Gambir kata orang Betawi. Pemuda lulusan HBS (Hoogere Burgerschool) yang bercita-cita mencari jati diri dan melanjutkan studi di sekolah dokter Pribumi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandische Artsen) ini, harus menahan pedihnya hidup di asrama karena karakternya yang cenderung mengagungkan kebebasan.

Meski hidupnya terjamin karena mendapatkan pesangon dari gubermen setiap pekan, namun ia sangat terkekang karena berbagai peraturan yang di terapkan oleh sekolah, selain itu Minke harus selalu menggunakan pakaian adat tradisional jawa selama mengikuti kegiatan sekolah.

Pramoedya Ananta Toer dalam roman ketiga Jejak Langkah ini, ingin menyampaikan kepada  pembaca bahwa dalam roman kali ini peran Minke lebih mendominasi. Tidak seperti kedua roman sebelumnya, Minke hanya menjadi bayang-bayang Nyai Ontosoroh, seperti yang disampaikan Minke sendiri dalam Anak Semua Bangsa.

Setelah Annelies Mallema, anaknya Nyai Ontosoroh meninggalkannya untuk selama-lamanya, kini putra bupati Bojonegoro itu mengenal seorang putri Tionghoa berkat wasiat yang diberikan Khouw Ah soe, seorang pejuang untuk negerinya Tiongkok namun harus terbunuh di bumi Hindia.

Ang San Mei  dengan kulit putih halus dan mata sipitnya berhasil meracuni mata dan hati Minke. Lambat laun hubungan mereka kian memekar hingga akhirnya Minke memperistri Ang San Mei. Ada suatu keajaiban setelah memperistri gadis Tionghoa ini, pemikiran Minke menjadi semakin tajam dan kritis terhadap Belanda kala itu.

Muncul suatu keinginan Minke untuk melakukan revolusi di tanah Hindia, seperti yang dilakukan gerakan Angkatan Muda di Tiongkok, perlawanan rakyat Filipina terhadap penjajahan Spanyol, dan kemajuan pesat bangsa Jepang.

Terbentuknya Syarikat Priyayi

Setelah memiliki keinginan untuk menjadikan bangsanya seperti bangsa Jepang, yang sudah sederajat dengan bangsa Eropa, namun ide yang ia punya tak mampu di salurkan dalam sebuah Output, hingga akhirnya datang satu kesempatan brilian ketika menghadiri kuliah umum di STOVIA yang diberikan oleh seorang dokter Jawa senior, yang tak lain adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo.

Beliau menekankan kepada siswa STOVIA untuk berorganisasi sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme, dan membebaskan pikiran pribumi dari adem ayem-nya hiruk-pikuk yang terjadi pada saat itu. Kebanyakan pribumi belum sadar akan hukum yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda. Dr. Wahidin berkata,

“Dengan berorganisasi, golongan pribumi akan bangun dari tidurnya. Dengan berorganisasi, akan timbul kesadaran bangsa dalam diri golongan pribumi. Jika tidak berorganisasi, pribumi akan jauh tertinggal oleh bangsa lain. Jangankan setara dengan bangsa jepang yang sudah sederajat dengan bangsa Eropa, dengan golongan Tionghoa Arab di Hindia saja, golongan pribumi sudah jauh tertinggal.”

Pidato dokter Jawa itu terus terngiyang-ngiyang di kepala Minke, rupa-rupanya kata-kata itu sangat mempengaruhi apa yang selama ini ia cita-citakan. Tak perlu menunggu lama ia pun segera membentuk organisasi, yang menghimpun semua golongan yang mau bergerak, melawan ketidakadilan pemerintah kolonial, menampung aspirasi rakyat yang tertindas.

Berbekal dengan beberapa bantuan dari teman sekolah dokter, kalangan priyayi, dan wedana, terbentuklah sebuah organisasi bernama Syarikat Priyayi yang kemudian disahkan oleh Gubermen. Namun, tak hanya golongan Priyayi yang hanya bisa bersyarikat, semua kalangan yang menuntut keadilan, yang direnggut haknya, yang tertindas, suaranya yang dibungkam, bersatu dalam Syarikat Priyayi melawan kolonialisme.

Pemerintah kolonial menjadi murka dan tak karuan dengan hadirnya organisasi itu. Ketakutan yang luar biasa lahir dalam diri pemerintah kolonial, karena dirasa kaum pribumi sudah cerdas. Pada akhirnya Minke menjadi buronan pemerintah kolonial.

Jurnalistik sebagai alat perlawanan

Pria yang senang dengan membaca dan menulis ini ternyata tidak mempunyai ketertarikan untuk menjadi dokter meski Ang San Mei menginginkan suaminya menjadi dokter. Namun naas, nafas Ang San Mei tak cukup mampu untuk mendampingi suaminya dalam melawan ketidakadilan yang terjadi di bumi Hindia.

Akhirnya Minke berhenti sekolah, keluar dari STOVIA. Minke mengambil jalan menjadi Jurnalis, baginya pers bagai senjata yang mampu mencabik dan menelanjangi pemerintah kolonial, yang bertindak semena-mena terhadap kaum pribumi, menselaraskan hukum yang berlaku di Hindia, tak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.

Bersamaan dengan berdirinya Syarikat priyayi, Minke membentuk Medan Priyayi, media satu-satunya dan pertama di Hindia Belanda yang berbahasa Melayu, untuk menyalurkan aspirasi rakyat, sumber informasi, edukasi hukum, dsb. Tak memerlukan waktu yang lama, Medan pun segera mendapat posisi tersendiri di hati masyarakat.

Ia mengajak masyarakat dalam tulisan-tulisannya yang tajam dan menghantam untuk berani melawan, bangun dari ketiksadaran, lawan kolonialisme melalui jurnalistik. Terbitlah koran Medan Priyayi pada 1 Januari 1907 dalam bahasa Melayu.

Pada permulaan seri Tetralogi Buru, diceritakan bahwa Minke seorang yang sangat menjunjung tinggi martabat seorang wanita, ia digambarkan sebagai pencinta wanita.

Maka tak heran jika Minke memperistri banyak wanita. Di antaranya, Annelies Mallema, istri pertamanya yang merupakan anak dari Nyai Ontosoroh, setelah kepergian Annelies, Minke memperistri Ang San Mei, gadis Tionghoa yang mencari surat wasiat dari sahabat Minke, Khouw Ah Soe.

Umur gadis cantik itu pun tak bertahan lama. Setelah beberapa bulan tanpa pasangan dan sibuk dengan pergerakannya, Minke kedatangan tamu yang dipanggilnya mama bersama Jean Marais dan Maisaroh, sebelum mereka berlibur ke Paris, Nyai Ontosoroh Menawarkan Maisaroh, anaknya Jean Marais, sahabat Minke di Surabaya yang pandai melukis. Yang pada akhirnya diketahui bahwa Jean telah memperistri Nyai Ontosoroh. Namun, Minke tak memberi jawaban, dia merasa masih harus fokus dengan apa yang telah ia bangun selama ini.

Di tengah pergolakan Syarikat dan media nya, ia bertemu Prinses Van Kasiruta, seorang ratu di negeri Kasiruta yang dibuang dari negerinya oleh Tuan Asisten Residen ke Priangan. Prinses telah belajar banyak dari Ayahanda nya ketika dalam pembuangan tentang kerasnya kehidupan, ia dilatih menembak, menunggang kuda, memanah dan keahlian lainnya.

Minke ditawarkan oleh Tuan Raja, Ayahanda Prinses untuk menikahi putrinya, sebelum prinses dinikahi, ia sempat menjadi staff di kanto redaksi Medan. Setelah menikah, prinses merasa perlu melindungi suaminya dari bahaya pemerintah kolonial, yang bertindak seenaknya dan ingin membunuh Minke. Ia lindungi Minke dari kekejaman De Knijpers, Organisasi Robert Mallema, anak Nyai Ontosoroh juga kakak Annelies.

Syarikat Priyayi ke SDI

Seiring berjalannya waktu, Minke merasa perdagangan juga merupakan kunci kemajuan dan kemakmuran bangsanya. Dari ide itu muncullah inisiatifnya untuk menjadikan Syarikat Priyayi menjadi Syarikat Dagang Islamiah (SDI). Bersama Medan Priyayi, Minke menjalankan propagandanya untuk melawan ketidakadilan.

Di SDI Minke menggandeng Thamrin Muhammad Thabrie, untuk menyukseskan organisasi yang tak disangka akan mengahsilkan banyak cabang di berbagai penjuru kota. Sedangkan di Medan priyayi, Minke menggandeng Mas Marco (Marco Kartodikromo) sebagai bodyguard-nya, dan memiliki andil besar dalam Medan Priyayi.

Meski baru menjadi staff di kantor redaksi Medan, mentalnya yang berkobar dan tulisan-tulisannya yang tajam menyebabkan kantor redaksi Medan Priyayi pernah di tutup oleh pemerintah Kolonial karena tajamnya kritikan terhadap pemerintah kolonial.

Di akhir roman yang ketiga ini, Minke akhirnya ditangkap karena kesalahan anak buahnya di Medan Priyayi yang telah melancarkan serangan kasar terhadap Gubernur Jenderal Idenburg.

Segerombolan polisi datang ke rumah Minke untuk menahannya. Seorang pembesar polisi yang tak lain adalah Pangemanann dengan dua n, mengeluarkan selembar surat perintah. “Atas nama Sri Ratu, atas nama keadilan, Tuan aku tahan.” Surat itu berasal dari kantor pengadilan.

Detik-detik penangkapan Minke, sebelum ia pergi, ia berpesan kepada Piah, pembantu rumah tangganya,

“Jadilah propogandis Syarikat. Ajak semua perempuan jadi anggota dan pimpinlah mereka.”

Walau diterjang berbagai rintangan dan halangan, tak menghalangi seorang penulis sejati untuk menyampaikan kebenaran, melawan ketidakadilan, yang terus membara di bumi manusia ini. Meski nyawa harus melayang, kau akan dikenang karena tulisanmu yang abadi.

Cerita yang dikemas Pram dalam sebuah roman, dengan berbagai bumbu kisah cintanya membuat pembaca bisa menerawang melalui semua perspektif, namun pram dalam roman kali ini menyajikan kepada pembaca, seperti apa pergolakan yang di jalani Minke hingga ia dipenjara. Meski harus merangkak, ia tak patah semangat dengan anak semata wayangnya, Medan Priyayi. Baginya menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kata Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”[]

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan