Pendidikan Seks Untuk Anak, Kenapa Tidak?

Ilustrasi: Shutterstock
T EMAN saya pernah bercerita bahwa beberapa waktu lalu, saat menunggu bus Trans Jogja di halte pemberhentian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sontak ia dikagetkan dengan volume suara yang bernada kencang dari seorang ibu di samping kanannya, keadaan itu terlihat cukup rumit ketika ibu itu dengan sigap merebut handphone dalam genggaman anaknya yang berumur 6 tahun yang ternyata ketahuan melihat konten-konten vulgar di Youtube.

Saat dimarahi ibunya, sang anak dengan polosnya menanyakan alasan mengapa ibunya begitu marah ketika ia membuka konten yang sejatinya hanya sekadar tayangan sepintas lalu pada sebuah beranda youtube. Namun ibunya hanya mengatakan “tidak boleh” yang diucapkan dengan nada yang terdengar marah.

Cerita ini cukup merefleksikan ingatan saya. Pernah, ketika saya menjumpai kasus yang sama dengan cerita  itu, pikiran masa bodoh dan tidak mau ambil pusing mungkin menjadi alasan yang pas mengapa saya menganggap kejadian seperti itu adalah hal yang wajar-wajar saja. Orang tua yang khawatir ketika anaknya melihat adegan seks pada usia yang masih dini adalah hal yang biasa saja terjadi. Padahal di sisi lain, keadaan itu tentu membuat anak cenderung penasaran dan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mengapa adegan seperti itu tidak boleh dilihat, dan mengapa ada pengkotak-kotakan antara konten dewasa yang hanya dapat ditonton oleh orang-orang dengan usia 18 tahun keatas sementara  anak-anak hanya disuguhkan dengan film-film tertentu yang dianggap cocok dengan usia dan psikologisnya.

Seks dianggap sebagai wilayah privat

Seperti yang terjadi dengan ibu di halte tersebut, saat dimintai alasan oleh anaknya, ia cukup kesusahan dalam menjawab, karena mengaggap bahwa obrolan seperti itu belum pantas untuk anaknya yang masih berusia 6 tahun. Fenomena ini tentu adalah hal lumrah kita jumpai, bahkan di masyarakat sendiri, berbicara secara gamblang tentang seks tentunya merupakan hal yang sangat asing dijumpai, dan tak jarang obrolan-obrolan seputar itu dianggap sebagai suatu bentuk ketidakwajaran, disebabkan kebanyakan orang menganggap bahwa seks merupakan wilayah privat dan tidak patut untuk diperbincangkan secara terbuka.

Ketika kita mencoba menelisik keadaan yang terjadi dalam masyarakat, hampir dapat dipastikan bahwa tak akan ada orang tua yang merasa nyaman ketika harus mengajarkan seksualitas kepada anaknya. Perasaan malu, risih ataupun cemas terkadang menjadi teman sejati yang tak dapat dihindari. Kecemasan tersebut timbul karena orang tua beranggapan bahwa usia anak yang masih terlalu dini bukanlah waktu yang tepat untuk mentransfer pengetahuan tentang seks, ditakutkan ketika pengetahuan tentang seks terlalu cepat diberikan, akan mendorong anak untuk merasa penasaran dan akhirnya terburu-buru untuk melakukan hal tersebut. Apalagi mengingat usia anak yang masih labil dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dapat melahirkan kemungkinan-kemungkinan tertentu diluar batas nalar orang tua.

Asumsi masyarakat, khususnya orang tua terkait seks sebagai wilayah privat bukanlah alasan semata, melainkan dilandaskan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, karena seks itu sendiri ibaratnya pisau bermata dua, disamping sebagai informasi yang mendidik juga dapat menjadi motivasi yang kuat bagi anak untuk ingin tahu lebih dalam tentang seks dan pada akhirnya mendorong untuk mencoba.

Bukan hanya sekedar “Hubungan Intim”

Perilaku orang tua yang selalu menyembunyikan pengetahuan seks terhadap anak justru menjadikan anak semakin penasaran dan tak jarang menanyakan hal-hal yang terkadang sulit dijawab oleh orang tua. Hal ini pulalah yang membuat orang tua tak jarang menunjukan sikap tabu dengan mendiskreditkan seks sebagai suatu aktivitas yang kotor dan menjijikkan. Sehingga menimbulkan asumsi bagi anak bahwa mencari tahu lebih dalam mengenai seks adalah suatu kesalahan.

Tidaklah bijaksana ketika orang tua terus menerus menutup segala informasi tentang seks kepada anak. Sebab seksualitas tak hanya sekadar bahasan tentang “hubungan intim”, melainkan juga penjelasan mengenai pemahaman alat kelamin secara biologis, fisiologis dan fungsi hormonal, pemahaman gender dan seksualitas, pemahaman hastrat seksualitas, komunikasi seksualitas, sumber rangsangan seksualitas, akil baligh, orientasi seksual, maupun terkait penyimpangan dan kejahatan seksual serta hukumnya.

Rasa canggung dan kesulitan yang dialami oleh orang tua dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan anak mengenai seksualitas, mendorong anak untuk mencari segala macam bentuk alternatif yang dapat menjawab rasa penasaran yang semakin rumit mengenai seks.

Realita kehidupan yang semakin hari semakin merujuk pada hal-hal praktis, khususnya dalam bidang IPTEK, menyediakan ruang dalam menjawab segala persoalan yang dialami oleh seseorang, baik itu menyangkut hal-hal kecil hingga persoalan yang besar sekalipun. Keadaan ini kemudian membuat banyak anak yang lebih memillih internet sebagai alternatif yang paling mujarab ketika persoalan tidak terjawab sesuai dengan keinginan. Namun disamping memberikan kemudahan dalam mengorek informasi, portal internet yang tergolong bebas bagi semua situs, baik yang layak maupun yang tidak layak sama sekali, menjadikan anak-anak maupun remaja mengalami kesulitan dalam memfilter arus informasi yang diterimanya.

Seiring dengan perkembangan anak-anak maupun remaja baik secara fisik, psikis, maupun sosial, ia akan berusaha mencari dan mencoba serta ingin diakui jati dirinya (Davison & Neale, 1990). Apabila pada masa tersebut remaja tidak mendapatkan arahan yang baik dari orang tua maupun orang-orang di sekitarnya, maka ditakutkan akan memunculkan perilaku ingin meniru dan coba-coba sesuatu yang tidak sesuai atau melanggar norma dan hukum dalam masyarakat.

Lalu, masihkah pendidikan seks dianggap tabu?[]

Naspadina. Jurnalis LPM Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Alienasi dan Peradaban Modern

Masyarakat modern dikelilingi oleh barang-barang yang mempermudah hidupnya