Kampus Digital Terkesan Dipaksakan

Grafik dan persentasi mahasiswa yang mengakses laman SIA. (sumber: PTIPD UIN Suka)


Oleh : Emy Rosiana
Masa penginputan Kartu Rencana Studi (KRS) mahasiswa UIN (red : Universitas Sunan Kalijaga) sudah tiba. Setelah beberapa hari yang lalu mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Masa KRS dilaksanakan pada 25 Januari – 02 Februari 2016 selama dua putaran.
Penginputan KRS yang dilakukan secara online tidak berjalan dengan baik. System online yang kurang memadai menjadi penghambat penginputan KRS secara Online ini. Penginputan hari pertama terkesan kacau. Laman yang error menyebabkan mahasiswa sulit log-in ke bagian akademik untuk melakukan penginputan.
Hari pertama (25/1) jadwal fakultas adab dan ilmu budaya serta fakultas dakwah dan komunikasi yang melakukan penginputan. Bayangkan saja, dua fakultas sekaligus dengan masing-masing fakultas terdapat lima jurusan yang mengakses laman Sistem Informasi Akademik (SIA). Dengan banyaknya yang mengakses laman SIA, menyebabkan server error dan susah diakses.
Ribuan mahasiswa berebut untuk bisa log-in ke laman akademik. Pengisisan KRS tahun ini bisa dibilang pengisian terlama di UIN. Banyak mahasiswa yang menghabiskan waktu lebih dari 12 jam untuk menginput 9 atau 10 mata kuliah.
Laman yang error serta lambat ini, tidak hanya menghabiskan tenaga, bahkan uang. Karena sebagian besar mahasiswa melakukan pengisisan KRS di warnet. Bisa dihitung jumlah uang yang dikeluarkan, tinggal dikalikan biaya perjam di warnet dengan berapa jam mahasiswa berjuang untuk menginput KRS.
Tidak sedikit mahasiswa yang melakukan protes terkait pengisisan KRS semester ini. Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terbilang murah di UIN apakah menjadi penyebab fasilitas kampus tidak memadai? Apakah UKT untuk memperbaiki system di UIN agar lebih baik lagi? Kita lihat saja bagaimana proses pengisian KRS semester berikutnya. Apakah tetap seperti sekarang atau lebih baik? Ataukah kampus digital yang diharapkan terkesan dipaksakan? Tentu harapan mahasiswa adalah mendapatkan pelayanan yang lebih baik lagi. 
Editor : Suhairi Ahmad

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan