Suara Pelajar dalam Aksi Selamatkan Warga Yogya

Dok/lpmrhetor/Khusnul

lpmrhetor.com- Sabtu (09/10) ratusan masa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak mengadakan aksi demonstrasi dalam rangka peringatan satu tahun pengesahan Omnibus Law, dengan tajuk ‘Selametanatkan Warga Yogya’ dengan titik kumpul di pertigaan Gejayan, Yogyakarta. Aksi tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari mahasiswa, LSM, individu merdeka, bahkan para pelajar.

Michael Lim, koordinator acara dalam aksi tersebut menyatakan, bahwa memang tidak ada batasan bagi masa aksi, sehingga para pelajar juga diperbolehkan mengikuti aksi tersebut. Para pelajar yang bergabung dalam aksi ini berasal dari berbagai SMA/SMK di Yogyakarta.

Diki, salah satu masa aksi pelajar menjelaskan, bahwa alasan ia dan teman-teman mengikuti aksi karena memiliki keresahan yang sama dan harus disuarakan.

“Dari kemarin kan banyak tuntutan-tuntutan yang belum diselesaikan oleh pemerintah, terus teman-teman juga ngajak buat berpartisipasi sama acaranya dan akhirnya mau ikut,” jelasnya.

Para pelajar mengaku memiliki keresahan yang ingin disampaikan terkait persoalan pendidikan, seperti tidak adanya pengurangan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Bahkan, bantuan yang mereka terima selama pandemi hanya sebatas bantuan kuota saja, itupun tidak dapat mereka gunakan secara optimal.

“Kalau potongan, beberapa sekolah mungkin ada ya, tapi kebanyakan enggak, jadi kita tetep bayar utuh tapi sekolahnya di rumah, nanti kita kan kayak masih ada tambahan (beli) kuota atau perangkatnya gak mendukung itu harus beli lagi, terpaksa gitu,” ungkap Adi [bukan nama sebenarnya], pelajar SMK di salah satu Kabupaten Bantul.

Hal serupa juga dirasakan oleh Diki, ia mengaku tidak ada potongan biaya SPP selama pandemi, bahkan bantuan kuota yang ia dapat hanya untuk akses google clasroom.

“SPP di sekolahku ada SPP untuk makan, tapi sama sekali gak ada pengurangan gitu, padahal cuma online,” jelasnya.

Para pelajar mengharapkan pembelajaran offline segera diberlakukan karena berbagai kesulitan yang mereka alami selama pembelajaraan online.

“Jika tempat wisata saja dibuka kenapa sekolah tidak,” imbuh Diki.

Selain isu pendidikan yang menjadi keresahan mereka, para pelajar mengaku telah mempelajari isu-isu lain yang menjadi poin tuntutan dalam aksi tersebut. Menurut Adi, selain mental, pemahaman terhadap isu-isu yang diangkat juga penting untuk mereka siapkan sebelum turun aksi.

Reporter: Halimatus Sakdiyah EM.

Editor: Lutfiana Rizqi S.

You may also like

Photo Story: #GejayanMemanggil ‘Selamatkan Warga Yogya’

lpmrhetor.com – Sabtu (09/10) masa aksi yang terdiri