Victim Blaming, Cara Memperkosa Dua Kali Korban Kekerasan Seksual

Ilustrasi: Ohio

Bukannya rasa aman yang didapat, penyintas kekerasan seksual justru disalahkan.

lpmrhetor.com – Senin, 5 November 2018 lalu, Balairung menerbitkan laporan investigasi berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Pemerkosaan.” Berita tersebut sekaligus menguak kasus kekerasan seksual yang menimpa Agni saat sedang melaksanakan program kegiatan KKN, 2017 lalu.

Agni merupakan satu dari sekian banyak kasus kekerasan seksual yang berani untuk speak up di tengah ramainya kasus kekerasan seksual.

Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2018, tercatat sebanyak 2.979 kasus kekerasan seksual di ranah privat, sedangkan terdapat 3.528 kasus kekerasan seksual di ranah publik.

Tindakan Agni patut diapresiasi dan patut segera diperjuangkan, mengingat tidak banyak korban kekerasan yang berani berdiri dan melaporkannya.

Cornelia Natasya, Humas Aksi Solidaritas #KitaAgni, mengatakan bahwa memang tidak mudah bagi penyintas untuk bisa mengungkapkan apa yang telah terjadi pada diri penyintas.

“Tidak semua penyintas yang punya psikis sampai sejauh ini, bahkan untuk cerita bahwa dia adalah korban perkosaan,” kata Natasya saat melakukan aksi solidaritas untuk Agni di Taman San Siro, Fisipol, UGM, Kamis (8/11).

Kekerasan seksual dalam hal ini dianalogikan dengan gunung es. Banyak yang melaporkan sehingga kasusnya dapat terkuak dan menjadi perhatian bagi publik, namun lebih banyak lagi korban yang memilih bungkam.

Praktik Victim blaming di lembaga pendidikan

Victim blaming menjadi salah satu faktor mengapa tidak banyak kasus kekerasan seksual yang terkuak. Alih-alih mendapat empati, penyintas malah mendapat berbagai perkataan yang cenderung menyalahkan penyintas sendiri. Hal tersebutlah yang dialami Agni ketika mencoba untuk mengadvokasi diri ke pihak-pihak terkait.

Dalam berita Balairung, dijelaskan kronologi bagaimana Agni seorang diri mencoba mengadukan kasus yang dialaminya kepada pihak kampus.
Sayangnya, praktik menyalahkan korban itu dilakukan oleh elit-elit UGM.

Dalam berita Balairung, dituliskan bahwa Adam Pamudji, DPL justru menganggap bahwa Agni juga memiliki andil atas terjadinya pemerkosaan tersebut.

“Ini sudah berlalu, sudah terjadi seperti itu. Diterimalah, sebagai pengalaman. Mau apa lagi? Saya sendiri merasa malu dengan warga di sana,” katanya seperti tertulis dalam berita Balairung.

Selain itu, ia juga malah meminta Agni untuk bertaubat atas perbuatannya yang dipandangnya sebagai sesuatu yang tidak pantas diketahui khalayak luas.

Tidak hanya Adam, salah satu penjabat DPkM yang tidak mau disebutkan namanya malah memberi analogi yang dinilai kurang masuk akal, “Jangan menyebut dia (Agni) korban dulu. Ibarat kucing kalau diberi gereh (ikan asin dalam bahasa jawa) pasti kan setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan.”

Pernyataan dari pejabat DPkM tersebut memang sering ditemui ketika seorang korban kekerasan seksual melapor dan justru ia ikut disalahkan. Bagaimana bisa ketika kita berbicara mengenai manusia, kemudian menganalogikannya dengan hewan.

Selanjutnya Ambar Kusumandari, Kepala Subdirektorat KKN yang baru, malah menyalahkan kondisi yang dialami Agni pada saat kejadian.

“Seandainya kamu tidak menginap di sana kan tidak akan terjadi, tho?”

Apa yang dilakukan Djaka, Ambar, dan si pejabat DPkM jelas merupakan praktik Victim Blaming. Hal itu yang membuat Agni tertekan dan kesulitan mengungkap kasus ini ke permukaan.

Korban juga salah?

Victim Blaming merupakan istilah yang digunakan pada suatu kondisi di mana korban yang malah disalahkan.

Seperti pada kasus kekerasan seksual yang telah dialami oleh Agni, dirinya sudah berusaha keras untuk mengadvokasi diri dan berani menyuarakan kekerasan seksual yang dialaminya.

Namun, yang Agni dapat dari keberanian dan kegigihannya malah sebuah lontaran kalimat yang makin memojokkannya sebagai korban.

Kasus Agni yang berhasil mencuat ke publik mengingatkan kita pada kasus-kasus senada yang pernah terjadi sebelumnya.

Masih kita ingat dengan jelas kasus kekerasan seksual yang sangat tidak manusiawi yang menimpa Yuyun, seorang siswi SMP berusia 14 tahun tinggal di Bengkulu meninggal karena diperkosa oleh 14 pemuda.

Tragisnya, korban malah disalahkan karena berjalan seorang diri di kebun. Seolah kematian Yuyun adalah salahnya sendiri karena berani-beraninya berjalan di kebun seorang diri.

Katakanlah kalau semua korban pelecehan dan kekerasan seksual selalu mendapat respon yang sama seperti pada kasus Yuyun dan Agni, bukan suatu hal yang aneh lagi kalau korban takut untuk melaporkan.

Insting mereka akan menjawab, korban yang disalahkan. Itu mengapa justru korban kekerasan seksual juga harus turut merasa menanggung aib, seakan-akan hal itu sengaja ia lakukan.

Laura Niemi dan Lianae Young, koresponden untuk The New York Times, membahas bagaimana victim blaming bisa terjadi. Hasil penelitian mereka yang terbit di The Personality and Social Psychology Bulletin, menunjukkan bahwa semakin kuat seseorang dalam menghargai kesetiaan dan kepatuhan dibandingkan dengan kepedulian dan kasih sayang, semakin besar kemungkinan orang itu untuk menyalahkan korban. Karena kecenderungan victim blaming disebabkan oleh pengertian moral yang dimilki sesorang.

Masih dalam penelitian Niemi dan Young, para psikolog menemukan ketika menyangkut tentang moralitas, terdapat dua sisi yang terbagi, yaitu: individualizing values dan binding values. Individualizing values merupakan orang-orang yang menjunjung tinggi kasih sayang dan menentang perlakukan tidak adil.

Sedangkan binding values lebih melihat dari segi keterlibatan korban pada kejadian tersebut, bukan pada sejauh mana korban tersakiti. Binding value ini banyak yang mengarah kepada sifat konservatif, hal tersebutlah yang kemudian menyuburkan adanya budaya victim blaming dalam kekerasan seksual.

Oknum-oknum yang melakukan victim blaming terhadap Agni dapat dikatakan memiliki binding value dalam dirinya. Victim blaming yang dilakukannya kepada korban kekerasan seksual mengacu pada latar belakang orang tersebut dan bagaimana pengertian moral berkembang pada dirinya.

Sayangnya, pengertian moral yang ada dalam diri seseorang yang kemudian membawanya kepada victim blaming tersebut diperparah dengan adanya stigma yang dilekatkan pada perempuan, yakni menimpakan kesalahan pada penyintas, bukan pelaku. Stigma tersebut yang kemudian menempatkan posisi perempuan pada posisi yang salah.

Dilansir dari ayowaca.com, dampak yang terjadi pada korban kekerasan seksual yang mendapatkan victim blaming terletak pada segi psikisnya. Korban kemungkinan akan mengalami stress paska tindak pemerkosaan.

Stress yang dialami oleh korban dapat berupa rasa bersalah, takut, cemas, malu atau tidak berdaya. Lebih lanjut, korban juga dapat mengalami trauma yang menyebabkan korban memiliki rasa kurang percaya diri, konsep diri yang negatif, menarik diri dari pergaulan.

Hal itulah yang kemudian membuat korban ketakutan untuk melaporkan apa yang telah terjadi kepadanya. Atau, orang-orang di sekitarnya justru akan menganggap bahwa kejadian tersebut merupakan aib bagi si korban, alih-alih aib bagi si pelaku.

Sementara itu, Iva Aryani, Humas UGM, mengatakan bahwa pihaknya akan mengkaji semua secara mendalam dan berjanji akan melakukan tindakan tegas terhadap para elit UGM yang diduga melakukan victim blaming.

“Kita akan kaji semua secara mendalam dan pasti akan ada tindakan tegas jika terbukti,” ujarnya saat dimintai keterangan via Whatsapp, Kamis (8/11).[]

Reporter: Fiqih dan Ina

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW