Siti Soendari yang Hampir Terlupakan

Ilustrasi: https://wartafeminis.files.wordpress.com

Oleh: Septia Annur Rizkia*

 

Untuk kesekian kali ku akui dia sudah sepenuhnya beremansipasi, dan secara Barat. Ia sudah cerah. Bagiku, ia wanita pribumi dari awal zaman modern di Hindia. (Pramoedya Ananta Toer)

Sejak belia, ia sudah menyerahkan hidupnya pada perjuangan membela bangsanya. Dengan menggunakan nama pena SS, ia kerap menuliskan pemikiran-pemikirannya untuk kemudian diterbitkan oleh beberapa media cetak Hindia Belanda. Ialah Siti Soendari, seorang orator ulung pada masa kolonialisme, yang hingga hari ini belum banyak orang mengenal siapa sebenarnya perempuan tersebut.

Seorang Pramoedya Ananta Toer kerap kali mengangkat sosok Siti Soendari, terutama dalam bukunya yang berjudul Rumah Kaca dan Sang Pemula. Siti Soendari adalah murid rohani dari seorang bapak pers nasional, Tirto Adhi Soerdjo. Ia telah belajar menulis dari seorang Tirto sejak masih muda. Soendari dibesarkan oleh sosok bapak tanpa ibu, ia piatu sejak masih bayi. Kasih sayang dari seorang ibu belum pernah ia rasakan.

Sang bapak adalah pegawai negeri Gubermen lulusan STOVIA, sekaligus sahabat Tirto. Sejak kecil, sang ayah mendidiknya dengan kasih sayang. Berbeda dengan nasib perempuan pribumi lain pada masa itu, ia justru diberikan kebebasan dalam menjalani hidupnya. Putri dari dua bersaudara ini merupakan seorang perempuan pribumi yang berhasil lulus dari  HBS Semarang. Ia cakap dalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis dan Inggris.

Bidang tulis-menulis telah ia geluti semasa remaja. Ia redaktur perempuan pribumi pertama di Surat Kabar  Poetri Hindia yang di dirikan oleh Tirto. Penanya yang tajam,  mampu menarik perhatian pemerintah kolonial. Gerak-geriknya tak jauh dari pantauan para Gubermen Belanda.

Hal menarik ketika Soendari mejadi redaktur, yaitu sewaktu ia didorong oleh para pembaca perempuan lewat surat-surat kaleng. Mereka meminta agar Soendari menuliskan perihnya  luka seorang perempuan yang diceraikan dengan seenaknya oleh lelaki dan kebiasaan memiliki istri lebih dari satu. Masih dengan segala pertimbangan, ia tidak seceroboh itu memuat tulisan yang menjadikan penghantam buat para pembaca. Tapi tetap mendahulukan kesetaraan dan keadilan, karena pembaca tidak hanya dari pihak perempuan saja, melainkan juga laki-laki.

Sebagai gantinya, Siti Soendari menulis laporan panjang lebar kepada Komisi Kemakmuran. Laporan tersebut berisi fakta, usulan supaya perempuan tidak dipermainkan lelaki dalam institusi perkawinan, termasuk penolakan terhadap poligami.

Seperti pejuang-pejuang nasional lainnya, ia tak lepas pula dari pengamatan Intelejen Belanda. Ulah seorang perempuan pribumi yang mengganggu stabilitas kedudukan Gubermen Belanda di tanah Hindia. Pemerintah kolonial kemudian memunculkan inisiatif untuk menghentikan gerak perempuan pribumi itu dengan jalan mengawinkannya. Perasaan dilematis melanda hati seorang bapak yang sangat menyayangi putrinya itu, di lain pihak, sang ayah juga takut kehilangan kedudukannya sebagai pegawai negeri.

Perjalanannya  juga mengalami segala rintangan seperti Kartini. Ia  menjalani masa pingitan di kota kelahirannya yaitu Pemalang. Bedanya,walaupun dia dalam belenggu pingitan, ia masih aktif menulis. Tulisannya pun semakin tajam, mampu membombardir para kolonial yang menjadi musuhnya.

Bersamaan diselenggarakannya rapat akbar oleh VTSP (Sarekat Pegawai Kereta Api dan Trem), terjadi pembakaran ladang-ladang petani tebu di Pemalang. Siti Soendari pun menjadi tersangka atas kejadian tersebut, hendak ditangkap oleh Pemerintahan Belanda. Namun ia diselamatkan oleh anggota VTSP lain dan ayahnya sehingga ia berhasil lolos dan melarikan diri ke Belanda. Siti Soendari akhirnya dilarikan ke Belanda.

Seorang Siti Soendari yang cerdas, seorang orator, dan penulis, yang tak jauh dari sosok seorang Tirto Adhi Soerdjo, Kartini dan Marco yang menjadi guru rohani dalam proses perjalanan kehidupannya.

Kisah Siti Soendari kemudian lekang oleh waktu. Namun demikian, kisahnya sungguh menyadarkan sekaligus mengajak kepada para perempuan untuk terus bergerak melawan, Sekaligus mengajak kepada semua lapisan kaum untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender.

 

 

*Septia Annur Rizkia, penulis aktif sebagai mahasiswa, jelasnya adalah seorang pemuda Indonesia.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan