Peringatan Satu Tahun Pengepungan Aparat Kepolisian di Desa Wadas: Masyarakat Wadas Istikamah Melawan Tambang

859
dok/hifzha/lpmrhetor

lpmrhetor.com- “Kami lari dan berlindung di hutan selama satu hari lebih. Tidur di hutan, makan makanan yang ada di hutan. Mereka [polisi] ngejar-ngejar sampai malam. Kami benar-benar takut,” kenang Bagong, salah seorang pemuda Desa Wadas. Cerita itu terjadi saat pengepungan sekaligus penangkapan oleh aparat kepolisian terhadap warga Wadas pada (08/02/2022).

Untuk mengingat kembali peristiwa pengepungan tersebut, masyarakat Desa Wadas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) beserta Solidaritas Wadas menggelar acara bertajuk “Menolak Lupa Represi dan Kedzaliman Negara” di Desa Wadas.

Acara ini berlangsung selama tiga hari. Dimulai pada hari Rabu (08/02/2023) hingga Jumat (10/02/2023). Beragam kegiatan diadakan, seperti: mujahadah, pentas seni barongan, pasar solidaritas, pameran karya seni, dan peresmian tugu perlawanan.

“Tujuan diadakan acara ini adalah untuk memperingati satu tahun represi aparat di Desa Wadas. Agar masyarakat tidak lupa,” ujar Sudiman selaku ketua Gempadewa.

Selain untuk mengingat peristiwa pengepungan polisi terhadap warga Wadas, acara ini juga untuk menegaskan kembali bahwa warga Desa Wadas tetap melawan dan menolak kegiatan pertambangan di desanya. Maka, mereka bergotong royong membuat tugu tangan mengepal yang dinamakan ‘Tugu Perlawanan’.

“Tugu ini dibuat sebagai respon putusan PTUN Jakarta. Apapun keputusannya, warga akan tetap bertahan dan melawan. Simbol tangan mengepal menandakan bahwa warga akan tetap bertahan,” ujar Siswanto salah satu warga Wadas.

Dilansir dari cnnindonesia.com PTUN Jakarta menolak gugatan warga Wadas terhadap Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM terkait penerbitan izin tambang material batuan andesit di Wadas.

Tugu Perlawanan dibuat menggunakan batuan andesit yang berasal dari Desa Wadas. Waktu pengerjaan tugu ini hanya memakan satu minggu. Warga Wadas bergotong royong membangun tugu ini.

“Tugu ini dibangun dengan batu andesit yang diinginkan oleh pemerintah dan itu asli Desa Wadas,” beber Siswanto.

Acara ini menunjukkan bahwa masih banyak warga Wadas yang kontra terhadap rencana penambangan. Karena itu, Siswanto berharap pemerintah mendengar keresahan warga dan membatalkan rencana penambangan tersebut di Desa Wadas

“Harapannya kita didengar oleh pemerintah. Banyak media yang memberitakan bahwa warga Wadas 99% pro tambang. Setelah acara ini selesai, kita naikkan isu lagi untuk menjawab publik. Tinggal momennya warga kontra untuk menaikkan isu ini,” pungkas Siswanto. []

Reporter : Hifzha Aulia Azka

Editor : Muhammad Rizki Yusrial

You may also like

Perjuangan dan Mogok Kerja Serikat Pekerja Taru Martani Akhirnya Menang

Serikat Pekerja Taru Martani hari ini, 10 Maret