Media Arus Utama Cenderung Mengedepankan Objektivitas dalam Pemberitaan Kelompok Difabel

225
dok/hifzha/webinar

lpmrhetor.com – Pemberitaan terhadap kelompok difabel di media arus utama dari segi porsi masih sangat sedikit. Hal ini disampaikan oleh staf redaktur Solider.id, Ajiwan Arief Hendradi dalam sebuah webinar bertajuk “Bagaimana Media Memberitakan Kelompok Difabel?”. Acara tersebut diselenggarakan oleh LPM Mimbar, pada Sabtu (23/04/2022).

Ajiwan menyayangkan sikap media arus utama yang lebih tertarik memberitakan isu politik, ekonomi dan lain sebagainya ketimbang memberitakan isu difabel. Menurutnya media arus utama hanya memberitakan kaum difabel ketika menjelang Hari Disabilitas Internasional atau ketika ada perayaan acara dalam rangka Hari Disabilitas Internasional di berbagai daerah.

“Kawan-kawan difabel biasanya muncul di media arus utama itu misalnya ketika mepet-mepet Desember, jelang Hari Disabilitas Internasional. Kawan-kawan media, baru memunculkan hal itu ke permukaan,” ujarnya.

Selain minimnya perhatian terhadap kelompok difabel, media arus utama juga melakukan penggambaran kepada kelompok difabel sebagai objek yang inspirasional. Hal itu membuat pandangan masyarakat terhadap kelompok difabel yang sukses adalah hal yang luar biasa. Padahal, menurut Ajiwan, hal ini adalah hal yang wajar.

“Kawan-kawan difabel [diberitakan] menjadi sumber inspirasi karena berprestasi, lulus dari perguruan tinggi atau bisa membuka usaha sendiri dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Kemudian, banyak kawan-kawan aktivis difabel merasa jengah dengan hal ini,” imbuhnya.

Menurut Roy Thaniago, seorang pengamat media, dalam artikelnya yang berjudul ”Bolehkah Saya Menjumpai Difabel di Media dengan Layak?” penggambaran yang dilakukan oleh media arus utama mengenai kelompok difabel adalah objek inspirasional merupakan bentuk objektivikasi.

Media arus utama memosisikan kaum difabel sebagai objek inspirasional karena mereka semata-mata memiliki keterbatasan dan mereka menolak untuk menyerah. Dalam artikel yang sama, menurut Stella Young, seorang aktivis difabel, menjadikan kelompok difabel sebagai objek telah mendehumanisasi mereka, karena kelompok difabel hidup bukan hanya untuk menginsiprasi orang.

Dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/11/2021/ Tentang Pedoman Pemberitaan Ramah Disabilitas, wartawan menempatkan penyandang disabilitas sebagai subyek pemberitaan dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan empati. Serta wartawan tidak diperbolehkan untuk melakukan stigma dan stereotip pada penyandang disabilitas saat melakukan aktivitas jurnalisme.

Namun, belum banyak media yang mematuhi pedoman yang telah disusun oleh Dewan Pers. Media-media acapkali melakukan objektivikasi terhadap kelompok difabel. Dalam jurnal yang berjudul “Identitas Kelompok Disabilitas dalam Media Komunitas Online: Studi Mengenai Pembentukan Pesan Identitas Disabilitas dalam Kartunet.com” Aulia Dwi Nastiti menjelaskan, media membentuk suatu stigma terhadap kaum disabilitas yaitu: objek yang harus dikasihani dan menjadi bahan tertawaan. Hal ini bisa dilihat pada acara reality show di televisi yang seluruhnya menyudutkan kelompok difabel.

Melihat fenomena seperti itu, Ajiwan berharap agar media dapat memberikan porsi yang sesuai terhadap pemberitaan kelompok difabel. Angle yang dapat diliput tidak hanya seputar pencapaian kelompok difabel atau seremonial Hari Disabilitas Internasional yang dapat menciptakan stereotip seperti, superhero atau difabel harus dikasihani.

“Dari segi angle, ketika Hari Disabilitas Internasional, meskipun kami tidak 100% menyalahkan media yang memberitakan soal prestasi kaum difabel, mungkin kemudian porsinya terlalu berlebihan. Mungkin angle lain yang bisa muncul pada hari difabel, soroti saja sejauh mana pemerintah selama ini mengakomodasi hak-hak difabel,” pungkasnya. []

Reporter: Hifzha Aulia A

Editor: Lutfiana Rizqi Sabtiningrum

You may also like

Kisah Mahasiswa Baru: Gembira Saat Pengumuman Kelulusan, Kini Dipatahkan dengan Besaran UKT yang Harus Mereka Bayar

“Sakit banget kalau diceritain. Saya gagal empat kali