Kampanye Stop Bullying Adalah Hal Paling Jahat dari Bullying Itu Sendiri

581
pict/yus

Di era media sosial seperti sekarang ini, banyak kampanye-kampanye yang digalakkan khususnya oleh mereka yang melabeli dirinya sebagai social justice warior (SJW). Kampanye stop bullying adalah salah satu hal yang menjadi fokus utama dari kelompok SJW ini, mereka percaya apa yang mereka lakukan adalah langkah terbaik dalam mewujudkan dunia yang ideal.

Tanpa sedikit pun meng-encourege bullying dan menghalangi niat baik untuk menghilangkan hal serupa itu, saya rasa kampanye stop bullying adalah hal paling jahat dari bullying itu sendiri. Para SJW yang mengampanyekan ini, secara tidak sadar memberi harapan palsu kepada masyarakat bahwa hal tersebut dapat dihilangkan.

Perkara kampanye ini bisa menyebabkan orang yang berpotensi menjadi korban akan merasa yakin dan aman. Sehingga dapat membuat mereka tidak siap mengantisipasi apabila akhirnya menjadi korban dari bullying.

Pada kenyataanya kita tidak dapat mengelak bahwa bullying tidak akan pernah hilang sampai kapanpun, apalagi dengan adanya media sosial yang mempermudah terbentuknya stigma-stigma tentang standar kebahagiaan, kesuksesan, kesempurnaan dan sebagainya. Sehingga orang-orang yang memenuhi standar tersebut merasa superior dan layak merundung kelompok-kelompok lainnya.

Bill Burr, seorang komika pernah bilang dalam jokes-nya “ngapain sih ada iklan stop abusing woman, lu pikir orang yang abusing woman nonton iklannya dan mikir oh gak boleh gitu ya sama perempuan”. Poin yang ingin disampaikan Bill burr dalam jokes-nya tersebut adalah niat baik juga perlu diimbangi dengan cara yang tepat, alias kalo lu mau mengatasi masalah yang besar lu juga perlu usaha yang besar, perlu mikir lebih keras.

Sebelumnya, kita memang harus tau apa makna dari bullying itu sendiri. Menurut para ahli, bullying merupakan suatu agresi atau perilaku agresif di mana seorang melakukan perlakuan tersebut bertujuan untuk melukai atau membuat korban merasa tidak nyaman. Perlakuannya bisa dilakukan dalam bentuk fisik, verbal, tindakan pengucilan, seksual dan lain sebagainya.

Yang menjadi masalah sekarang bullying itu sendiri sering diromantisasi sehingga batas batas yang membedakan antara bullying dan candaan semakin tidak jelas. Salah satu contoh yang paling jelas adalah munculnya berbagai macam istilah istilah yang awalnya hanya body shaming menjadi foot shaming, hand shaming, hingga book shaming atau reader shaming.

Harus banget gitu semua ada istilahnya? semang seming pala lu miring.

Kalo dipikir-pikir bullying kayaknya gak jelek-jelek banget, buktinya banyak orang hebat yang kita kenal sekarang dulunya menjadi korban. Contohnya Tom Cruise, waktu kecil sering mendapat kekerasan verbal maupun fisik dari ayahnya. Kemudian dirinya juga kerap berpindah-pindah sekolah dan sialnya ia selalu menjadi korban bullying dari setiap sekolah yang ia pijak. Tapi sekarang siapa yang gak kenal Tom Cruise.

Ada lagi Chris Rock, komika yang sudah mendunia ini juga merupakan produk dari bullying. Di Indonesia sendiri penyanyi sekelas Tulus pun memiliki latar belakang yang sama. Namun, mereka bisa bangkit dan membalas semua itu dengan karya. Bahkan tokoh yang menjadi kiblat pergerakan mahasiswa Soe Hok Gie yang awalnya tidak suka dengan perpeloncoan, akhirnya menyadari banyak sisi positif yang dapat diambil dari sana.

Sekali lagi saya harus memberi disclaimer, mengingat mudahnya masyarakat sekarang tersinggung menanggapi segala hal, tulisan ini tidak sedikit pun mendukung bahkan menganjurkan bullying, tapi hanya sekedar membuka mata bahwa dinamika ini adalah sesuatu yang lumrah dan selalu eksis dari masa ke masa.

Saya sangat yakin SJW pasti benar-benar peduli pada masalah ini, gak mungkin kayaknya kampanye terus-terusan ini cuma mencari eksistensi doang. Mereka juga pasti sangat pintar dan ngerti dengan masalah ini serta punya solusi terbaik yang menggemparkan dunia. Tapi kok sampe sekarang masalahnya gak selesai-selesai? Ah mungkin perasaan saya saja.

Supaya gak terlalu mumet, mari kita lihat masalah ini dari sudut pandang yang lain, gampangnya bisa dilihat dari kisah Marcus Aurelius berikut.

Marcus Aurelius adalah seorang Kaisar Romawi yang memerintah antara tahun 161-180 M. Ia terkenal sebagai pria yang penuh cinta dan kasih sayang serta bijaksana dalam mengahadapi masalah-masalah semasa hidupnya. Bahkan ia membuat jurnal-jurnal yang akhirnya dikompilasikan menjadi buku yang kini dikenal dengan judul meditation. Buku yang menjelaskan tentang prinsip stoic yang dianutnya, bagaimana agar hidup lebih tenang dan bahagia dengan memfokuskan apa yang bisa dikendalikan.

Tentunya semua yang telah dicapai Marcus tidak didapati begitu saja, ia telah melewati begitu banyak penderitaan mulai dari peperangan, wabah, dan banyaknya kematian orang terdekat yang langsung ia saksikan. Dari usianya yang masih tiga tahun, ia sudah melihat ayahnya meninggal dunia. Kemudian ia juga menangis begitu keras pada saat pengajar yang paling dicintainya menuyusul sang ayah. Para pelayan istana selalu berupaya menghentikan Marcus dalam sedihnya.

Dari kisah Marcus di atas kita dapat melihat setidaknya dua hal yang beririsan dari kasus kampanye stop bullying ini. Pertama, bahwa dalam menghadapi masalah yang terus berkelanjutan, yang diperlukan bukan hanya terus mencoba tetapi mencari cara terbaik dalam mengahadapi masalah tersebut. Kegagalan memahami konsep bahwa “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” telah menjadikan kampanye stop bullying hanya sekadar bualan belaka.

Kemudian bahwasanya kita tidak bisa mengontrol hal-hal di luar dari diri kita. Jadi, masalah sebenarnya adalah, apakah memang bullying ini begitu berbahaya atau jangan-jangan mental orang saja yang terlalu lemah?

Pada akhirnya dapat kita sadari bahwa bullying berhubungan erat dengan konsep ketidakadilan.  Tapi mungkin kita harus berdamai dengan itu semua, seperti yang pernah dikatakan teman SpongeBob, Patrick Star bahwa “hidup memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu”.

Fajrian Alhafizh, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

You may also like

Menggapai Keindahan Melalui Pernikahan yang Berkeadilan

lpmrhetor.com- “Keputusan apapun itu di dalam hidup harus