Kemanusiaan Harga Mati! NKRI, Tanah Air Beta

Doc. LPM Rhetor. Tugu Jogja. Salah satu aksi kepedulian terhadap masalah kemanusiaan.

Oleh : Septia Annur Rizkia*

Sejak Sekolah Dasar, Pancasila telah diajarkan kepada anak bangsa terutama yang menikmati bangku pendidikan. Pengetahuan bahwasanya Pancasila memiliki lima sila, di mana masing-masing sila memiliki makna yang mendalam dan patut untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhir-akhir ini, banyak media lokal maupun dunia sedang menggunjingkan perkara kemanusiaan. Manusia seharusnya menjadi sosok yang bisa dibesarkan juga membesarkan melalui kemampuan untuk peduli. Kebersediaan untuk melibatkan diri dalam perkara kemanusiaan hingga membela persoalan terkait dengan dirampasnya hak-hak sebagai manusia harusnya muncul dalam diri kita.

Ambillah landasan dari sila kedua dalam Pancasila yang berbunyi: ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kalimat pendek itu tak sekedar kata-kata mutiara atau pajangan di ruang-ruang tamu, sampul buku ataupun aksesoris lainnya. Kalimat itu merupakan sebuah frasa sakral atas berdirinya bangsa ini, atas tetesan peluh, air mata, juga darah para pejuang dahulu.

Satu baris kalimat, yang mengandung makna mengajak masyarakat untuk mendeklarasikan dan memperlakukan setiap orang sebagai manusia yang memiliki martabat mulia serta hak dan kewajiban asasi. Dalam artian, adil juga beradab terhadap sesama dan perlu adanya sikap menjunjung tinggi martabat serta hak-hak asasi yang ada. Manusia adalah sederajat, kalimat yang sering digaungkan oleh mereka yang sadar akan hak sesamanya.

Kalimat itu menyerukan bangsa Indonesia sebagai bagian dari seluruh umat manusia, maka sikap hormat-menghormati perlu dikembangkan dan juga bekerja sama untuk mempersatukan tanah Ibu Pertiwi. Bersama-sama mengusir segala bentuk penjajahan atas ketidaksadaran akan ketertinggalan dan ketertindasan.

Sila kedua, dengan kata lain menjamin diakui dan diperlakukannya manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan. Makhluk yang sama derajat, hak dan kewajiban asasinya, tanpa membedakan suku, keturunan, agama, kedudukan sosial, jenis kelamin, warna kulit dan lain-lain.

Adanya rasa kemanusiaan, dikembangkanlah sikap saling mencintai sebagai sesama makhluk, sikap tenggang rasa, sikap adil terhadap orang lain. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan berarti melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran serta keadilan. Memberantas kebodohan, dan ketidaktahuan sama dengan melepas belenggu ketertindasan.

Terkadang manusia mengatas namakan agamanya masing-masing, hingga mampu merapuhkan rasa kemanusiaan. Mengutip perkataan Gus Dur, “Tuhan tidak perlu dibela, dia sudah maha segalanya, belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”

Lihatlah manusia-manusia yang ada di Papua, hanya menuntut keadilan malah mendapat perlakuan tidak manusiawi, dan berakhir dengan peluru. Korban-korban lumpur Lapindo yang sampai saat ini belum mendapatkan ganti rugi penuh, banyak akan ketidak pahaman manusia akan hal itu. Penggusuran tanah di Kulonprogo yang mau dijadikan tambang pasir besi dan bandara. Sudahkah negara, atas rasa kemanusiaan, mendengarkan jeritan dan rintihan mereka?

Pembangunan pabrik semen yang ada di Rembang sangatlah menyengsarakan nasib rakyat, tapi justru dikalahkan oleh keputusan pengadilan. Pernahkah Negara maupun para penguasa membela hak-hak rakyat kecil? Atau malah membungkam mulut, menutup telinga, dan mengalihkan penglihatan?

Belum lama usai kejadian kasus dugaan penistaan agama dengan terlapornya Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga menuai aksi turun jalan yang melibatkan ribuan orang. Terangkatnya isu itu, membuat polemik di media sosial dan menjadi sorotan utama. Seolah-olah tak ada perihal lain yang sekiranya lebih layak lagi untuk diperbincangkan oleh khalayak publik. Pentingkah masalah itu bagi rakyat yang terpinggirkan, termarginalkan serta tersubordinasi?

Dihadapkan lagi dengan kasus meninggalnya seorang gadis kecil yang menjadi korban penegeboman atas nama jihad agama. Sebagaimana masyarakat berduka atas nama kemanusiaan, membela manusia yang patut diperlakukan sebagaimana manusia yang sepatutnya.

Selayaknya, semua masyarakat Indonesia merasa prihatin dan terluka ketika jiwanya sebagai manusia digores, dilukai dan disayat-sayat. Ketika hak manusianya direnggut tanpa alasan kemanusiaan, LAWAN! Adalah cara untuk menahan  kejadian yang terus terulang dan mengembalikan hak sebagai manusia seutuhnya.

Berkomitmen pada landasan hukum, aturan yang tidak diperjual belikan semaunya. Konstitusi Pancasila dan UUD 1945, seharusnya sebagai perekat utama bagaimana rakyat tetap bersatu dalam lingkup NKRI (Negara Kesatan Republik Indonesia).

Keadilan perlu dihadirkan dengan perjuangan, perebutan, pengerahan, dan pengorbanan. Hukum dibangun untuk menegakkan keadilan, yang tak hanya menunggu dan ditunggu, tapi dihadirkan oleh para penghadir. Selamanya, hukum tak akan tegak kalau hanya menerkam para kaum kelas sosial bawah.

Jangan biarkan ketakutan mengungkung kesadaran berbangsa dan bernegara. Memenjarakan sikap kemanusiaan demi menjadi penguasa. Tak ubahnya hewan melata yang tak punya pikiran. Hanya memenuhi hasrat dan keinginan semata. Manusia dicipatkan dan dihadirkan di dunia ini  tak lain untuk memanusikan manusia untuk menjadi manusia yang berbudi, berakal dan mampu meluhurkan sejarah bangsa nanti. Mencetak manusia-manusia berwatak ‘manusia’ yang dapat merasakan dengan akal dan perasaan, bukan hewan atau pun benda mati.

 

 

*Septia Annur Rizkia

Menjadi mahasiswi dengan segala kebingungan yang belum terjawab oleh waktu.

 

 

 

 

 

 

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan