Ideologi Dalam Perspektif Louis Althusser

Sumber: google.com

Ideology has very little to do with ‘consciousnes– it is profoundly unconscious.”

-Louis Althusser-

 

Semasa hidupnya, Louis Althusser dikenal sebagai seorang kritikus marxis berpengaruh dekade 1960 dan 1970-an, serta mendapat predikat filsuf abad 20 pasca wafatnya. Berkat dua karyanya yang berjudul Pour Marx dan Lire le Capital, ia jadi dikenal di kalangan intelektual Perancis, terutama setelah dua karyanya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Althusser lahir di Aljazair pada tahun 1918 dan meninggal di usianya yang 72 pada tahun 1980. Semasa hidupnya, kebanyakan waktu Althusser dihabiskan untuk mengajar di Perancis. Landasan pemikirannya dipengaruhi oleh beberapa filsuf politik seperti Karl Marx, Freud, Lacan dan filsuf lainnya.

Althusser memiliki pandangannya sendiri mengenai ideologi. Menurutnya ideologi adalah representasi dari hubungan imajiner manusia tentang realitas yang merupakan dampak internalisasi lingkungan yang kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan manusia secara tidak sadar.

Misalnya, karena dari kecil lingkungan si A menkonstruk si A dengan pemikiran bahwasanya tabu bagi wanita untuk merokok, si A jadi mempunyai pemahaman (imajiner) wanita yang merokok adalah wanita yang tidak bermoral.

Jadi ketika si A bertemu dengan wanita yang seperti itu, ia akan menjudgenya sebagai wanita murahan, wanita gila dan wanita yang patut untuk dijauhi. Walau dengan sikapnya yang seperti itu ia tidak memutuskannya secara sadar melainkan berkat konstruk yang terinternalisasikan di masa mudanya.

Konsep ideologi Althusser menjadi terkenal dan menarik ketika dikaitkan dengan negara, yakni, relasi penguasa dengan yang dikuasai. Althusser menyebutkan dua mekanisme utama; RSA (repressive state apparatus) dan ISA (ideological state apparatus) sebagai perangkat yang ideologis.

RSA mekanisme kerjanya memaksa, seperti pengadilan, penjara, atau militer. Sedangkan ISA mekanisme kerjanya halus, seperti pendidikan, ormas, parpol dan media. Kedua perangkat ini memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk melanggengkan kekuasaan penguasa terhadap warga yang dikuasai.

Dari pemikiran Althusser tentang RSA dan ISA ini kita jadi memahami mengenai posisi subjek sebagai yang mendominasi dan yang terdominasi. Althusser mengatakan,

Tidak ada praktik apapun kecuali melalui dan di dalam ideologi, dan tidak ada ideologi apapun kecuali demi subjek dan melalui subjek”.

Jadi ideologi tidak hanya digunakan dalam bernegara saja tapi juga dalam segala bidang kehidupan manusia.

 

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan