The Lobster: Tentang Kebebasan dan Ruang Privat

http://chakraswara.com

Sebelum fiksi ilmiah yang bercerita tentang tema distopia populer, Yegeny Zamyatin – novelis Russia—sudah lebih dulu mengangkat tema distopia dalam novelnya yang berjudul “We”, yang terbit pada tahun 1924. Setelah itu, pada tahun 1932 tema distopia kembali dibahas dalam novel “Brave New World” milik Aldous Huxley. Menyusul lah pada tahun 1949, sebuah magnum opus milik George Orwell berjudul “1984”.

Saya mengambil benang merah yang dibicarakan ketiga novel tersebut. Semuanya tentang hilangnya kebebasan dan kehidupan di ruang privat. Memang, aturan-aturan yang paling tidak masuk akal itu, ternyata adalah aturan-aturan yang membatasi kegiatan yang sifatnya privat. Pada tahun 2019 lalu, muncul sebuah guyonan yang selain lucu ternyata juga mengerikan “menikah dengan sistem zonasi”.

Sebuah Film Tanpa Luapan Emosi

Secara singkat, The Lobster menceritakan tentang dunia dengan aturan yang tidak masuk akal. Dalam film itu, digambarkan bahwa tiap orang wajib memiliki pasangan. Jika suatu saat seseorang berpisah dengan pasangannya, ia akan dibawa oleh negara ke tempat bernama “The Hotel”. Di tempat itu, orang yang tidak punya pasangan tersebut akan diberi waktu selama 45 hari, untuk mendapatkan pasangan, dan kembali ke kehidupan di kota.

Pada umumnya, film hanya memiliki dua suasana yang bisa dibaca: sedih atau bahagia. Berbeda dengan film garapan Yorgos Lanthimos, film The Lobster justru memberikan suasana minimalis mengenai emosi tokoh-tokohnya. Suasana yang diciptakan The Lobster, tidak terlalu menonjolkan kesan sedih ataupun bahagia. Adegan sedih yang tidak terlalu dramatis, adegan percintaan yang tidak terlalu romantis, bahkan adegan bunuh diri dan adegan ranjang pun, dibuat dengan suasana yang sedikit komikal.

Karakter tiap tokohnya nyaris datar di tiap-tiap sekuens. Misalnya dalam adegan pembuka, ketika David bercerai dengan istrinya, pengambilan gambar dilakukan dengan hanya memperlihatkan seperempat wajah David, untuk mengurangi kesan kesedihan yang terlalu dramatis. Lalu, pada adegan dansa pada menit ke 30, yang kelihatannya adalah suasana yang menyenangkan, seluruh tokoh dalam adegan itu hanya memperlihatkan ekspresi datar. Bahkan ketika salah satu tokoh ada yang mati dengan cara bunuh diri, suasana yang dibangun pun tetap sama. Mulai dari scoring, perilaku tokoh, dan suasananya sama: datar.

Lebih dari itu, Yorgos nampaknya memang sengaja menampilkan suasana datar ini. Justru untuk lebih memperkuat, bahwa orang-orang yang hidup dalam keadaan dunia yang distopia, akan merasa kehilangan perasaannya, akibat aturan dan keadaan dunia yang sudah tidak masuk akal. Bayangkan saja, dalam dunia yang dibangun The Lobster, orang-orang dipaksa untuk memiliki pasangan dengan waktu yang singkat dan tidak punya pilihan untuk hidup sendirian. Dengan demikian, tak ada yang nyata selain kepalsuan dalam dunia seperti itu.

Pemberontakan Melalui Ruang Privat dan Cinta

Dalam pengantar “The Rebel” karya Albert Camus, Herbert Read, seorang sejarahwan dan kritikus asal Inggris, menuliskan pemberontakan A la Camus, sebagai sifat esensial yang dimiliki tiap manusia. Pemberontakan tidak hanya ada karena penindasan yang sifatnya struktural. Lebih jauh dari itu, manusia memang memberontak sebagai bentuk eksistensi dari dirinya.
“Camus believes that revolt is one of the ‘essential dimensions’ of mankind. It is useless to deny its historical reality—rather we must seek in it a principle of existence…”

Sebagaimana yang dikatakan Camus, “aku memberontak maka aku ada”, tokoh-tokoh dalam film The Lobster juga melakukan hal yang sama. Dengan keadaan dunia yang distopia, tentu mustahil jika tidak ada pemberontakan. Jika kita mengamini kata-kata Camus, bahwa pemberontakan adalah insifat esensial manusia. Maka sampai kapan pun manusia akan terus memberontak. Entah di dunia yang ‘normal’ atau dunia yang penuh dengan ‘kegilaan’.

Kegilaan saya pikir bisa saja menjadi kata ganti bagi distopia. Dalam dunia distopia kita dihadapkan dengan sebuah keadaan di mana segala sesuatu sangat buruk, tidak menyenangkan, dan banyaknya aturan yang tidak masuk akal. Rasanya jika berada dunia distopia, menjadi kriminal dan melawan aturan, rasanya adalah salah satu tindakan paling waras. Narasi-narasi semacam itu bisa kita temukan dalam fiksi (entah novel ataupun film) yang bertema distopia.

Mari kita lihat dalam “1984” milik Orwell, Winston sebagai tokoh utama membeli sebuah pena dan buku catatan, dua hal yang cukup dilarang oleh negara. Namun, Winston tetap nekat, dan melakukan tindakan kriminal yang kedua, yaitu menulis catatan harian. Sebuah pemberontakan kecil terhadap pelarangan yang tidak masuk akal, pemberontakan terhadap hilangnya ruang privat dan kebebasan individu.

Dalam The Lobster pemberontakkan kecil juga dilakukan oleh salah satu tokoh. Charles, si cadel, dihukum akibat melakukan masturbasi berkali-kali, yang dalam film itu, masturbasi adalah perbuatan terlarang dan identik dengan perilaku “loners”, orang-orang lajang. Naasnya, ia harus menjalani hukuman yang cukup menyakitkan, yaitu memasukan tangannya ke dalam panggangan roti.

Pemberontakan selanjutnya adalah ketika David selesai membunuh istri barunya, karena ia terjebak dalam hubungan yang palsu. Kemudian ia bergabung bersama kelompok orang-orang lajang di hutan (the loners), dengan segala aturan-aturan yang mengikat. Aturan dalam kelompok lajang yang kontradiktif dengan kondisi David adalah: dilarang jatuh cinta.

Namun David adalah manusia yang memiliki sifat pemberontak, ia akhirnya jatuh cinta dengan ‘Si Rabun Jauh’ salah satu anggota kelompok lajang, yang dalam film juga digambarkan sebagai narator. Ketika dalam The Hotel, David dipaksa jatuh cinta, kemudian ia kabur dan bergabung dengan orang-orang yang menolak aturan The Hotel, namun kemudian ia berontak lagi ketika menemukan aturan yang tidak masuk akal.

Dalam “1984” milik Orwell, terdapat aturan yang kurang lebih serupa. Di mana di negara tersebut sangat dilarang bercinta dengan menggunakan sensualitas dan romantisme. Namun Winston memberontak dan melanggar semua itu bersama Julia. Mereka bercinta sekaligus melakukan tindakan paling politis.
“The sexual act, successfully performed, was rebellion. Desire was thoughtcrime…” (1984)

Kebebasan Ada Dalam Diri Masing-Masing

Tokoh-tokoh dalam film The Lobster mengingatkan saya pada apa yang dikatakan Jean Paul Sartre. Dalam pemikiran eksistensialisme Sartre, salah satu konsepnya adalah La Mauvaise Foi. Mauvaise Foi adalah sikap yang ditentang dalam eksistensialisme.

Secara singkat, mauvaise foi adalah sikap manusia yang tidak autentik. Sikap ini membuat manusia mengingkari kebebasan-kebebasannya.
Kita bisa menggambarkan sikap mauvaise foi, ketika seorang siswa SMA menerima keadaan bahwa rambutnya harus dipangkas sesuai aturan sekolahnya. Padahal, ia sangat menyukai jika rambutnya dibiarkan memanjang, namun sebagai penyesuaian ia menaati aturan sekolahnya. Kira-kira seperti itulah sikap mauvaise foi yang digambarkan Sartre. Siswa itu telah menolak kebebasannya dan menjadi tidak autentik.

Ketidakautentikan dalam film The Lobster bisa ditemukan ketika David mengikuti arahan negara, dan masuk ke dalam The Hotel. Ia menaati peraturan yang ia tidak sukai. Selanjutnya, ketika ia berpura-pura mengikuti sifat tokoh yang bernama ‘Heartless Woman’, agar menjadi serasi dan dapat menikah. Hal itu serupa dengan apa yang dilakukan kawan David, ‘Si Pincang’ dengan kepura-puraannya pada ‘Si Gadis Mimisan’. untuk menjadi pria yang selalu mimisan agar terlihat serasi.
David juga melepas sikap mauvaise foi-nya, ketika pada akhirnya jatuh cinta pada , salah satu anggota kelompok lajang.

Semua tokoh dalam The Lobster punya sikap tidak autentik terhadap keadaan mereka. Mereka juga punya potensi untuk memberontak sebagai pengukuhan eksistensi dan menegaskan kesubjektifannya. Pada akhirnya kebebasan adalah tentang kesadaran diri masing-masing.

The Lobster | Sutradara Yorgos Lanthimos | Tahun 2015 | Produksi Element Pictures, Scarlet Films | Durasi 118 menit | Pemeran Collin Farrell, Rachel Weisz, Lea Seydoux

Kusharditya Albi, Jurnalis Lpm Rhetor dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

You may also like

Perempuan dalam Kekangan Budaya Patriarki

K enapa perempuan yang mengeksistensikan dirinya di media