Polemik Alih-Tangan Panitia PBAK

Massa aksi membawa spanduk berisikan tuntutan-tuntutan penolakan terhadap keputusan sepihak kampus terkait PBAK.

lpmrhetor.com, UIN – Masa orientasi Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tahun 2017, yang akan diikuti oleh mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga tengah menjadi perbincangan. Pasalnya, pihak kampus diduga mengambil keputusan secara sepihak mengenai pembentukan kepanitiaan.

Pola penyelenggaraan PBAK dinilai terlalu banyak diintervensi oleh pihak rektorat dan dekanat sendiri. Hal itu terbukti dengan diikutsertakannya dosen dan karyawan ke dalam struktur kepanitiaan. Padahal, lembaga kemahasiswaan (LKM) di setiap fakultas telah melakukan proses seleksi panitia.

Tumpang tindih kebijakan tersebut tentu saja mengundang reaksi dari mahasiswa, terutama mereka yang telah tergabung ke dalam struktur kepanitiaan PBAK versi LKM.

Panitia pelaksana PBAK, bersama dengan Keluarga Besar Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (KMBU), pun melakukan aksi penolakan di depan gedung rektorat pada Kamis siang (20/07).

Massa aksi membawa beberapa tuntutan yang diajukan kepada pihak kampus, antara lain:

  1. Mengembalikan hak-hak mahasiswa
  2. Menjadikan PBAK sebagai media transformasi gagasan mahasiswa
  3. Menolak keputusan sepihak UIN Suka terkait kepanitiaan PBAK
  4. Tidak menciderai adanya Lembaga Kemahasiswaan sebagai lembaga yang sah di UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Ainul, koordinator lapangan aksi, akan ada banyak akibat buruk yang dapat ditimbulkan apabila kepanitiaan PBAK beralihtangan.

“Kita hanya akan menjadi kuli-kuli ideologi mereka. Mahasiswa hanya akan jadi pekerja dan dikendalikan dosen. Dengan begitu, secara tidak langsung cara berproses kita akan dibatasi,” ujarnya ketika ditemui lpmrhetor.com (20/07).

Ainul juga menilai pihak kampus telah melanggar amanat Pasal 6 UU No.12 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi. Dengan mengambil keputusan secara sepihak dan mengikutsertakan dosen dan karyawan ke dalam struktur kepanitiaan PBAK, pihak kampus dinilai telah melakukan praktik anti-demokrasi dan diskriminatif terhadap mahasiswa.

“Kita tidak akan bisa mengeluarkan ide dan gagasan yang akan disampaikan dalam PBAK, baik di tingkat Universitas maupun tingkat Fakultas,” katanya.

Massa aksi juga menilai bahwa pihak kampus sama sekali tidak mampu menampung aspirasi dengan baik dari semua kalangan, khususnya mahasiswa sebagai bagian penting dari kampus itu sendiri.[]

 

Reporter: Dyah R Utami

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Membedah Visi Misi Calon Perwakilan Mahasiswa Lewat Kampanye Monologis

lpmrhetor.com – Kampanye Monologis untuk pemilihan ketua DEMA