Playing Victim, Pelaku Merasa Menjadi Korban

sumber: merdeka.com

Fiki emosi, meninggikan volume suaranya, berdiri, dan hendak memukul pendamping (CMY). Ia berpura-pura tak mengenal penyintas B, tetapi mengakui pernah menampar B hingga berdarah. Di satu sisi Fiki menyangkal, di sisi lain ia mengakui.

 

Kronologi yang tertera berdasarkan pemaparan penyintas yang ditulis dalam pernyataan sikap Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta.

lpmrhetor.com – Selasa, 18 November 2019, sebuah informasi tentang kasus kekerasan seksual datang pada LPM Rhetor. Informasi tersebut bersumber dari postingan Cakrawala Mahasiswa Yogyakarta (CMY) di akun Facebooknya pada tanggal 17 November 2019.

Tidak hanya menceritakan kronologi kejadian saja, CMY juga menuntut pelaku untuk meminta maaf dan mengganti kerugian secara materiil.

Dalam postingan yang sama, CMY menuntut pertanggungjawaban Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) – DN atas ketidaktegasannya dalam menindak pelaku yang notabennya merupakan anggota aktif dalam organisasi tersebut.

Sesaat setelah mengetahui perkara itu, LPM Rhetor berusaha menghubungi penyintas melalui CMY selaku pendamping.

Wawancara dilakukan atas persetujuan penyintas.

Kronologi Kejadian

Kejadian ini bermula pada April 2019. Hari itu, penyintas yang berinisial B bertemu dengan Fiki Randi Aneke, seorang mahasiswa Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) angkatan 2011 yang juga aktif dalam organisasi LMND-DN.

Pertemuan dilakukan di kos pelaku, Jalan Wahid Hasyim Nomor 155. Pada awalnya penyintas B dan Fiki hanya mengobrol biasa, tetapi pelaku kemudian merayu dan mengajak B untuk melakukan hubungan seksual.

Berdasarkan keterangan penyintas kepada CMY, kehadiran pelaku juga menimbulkan relasi kekuasaan atas dirinya. Fiki kerap meminta uang kepada B dengan dalih “meminjam”. Penyintas B pun mau tidak mau memberikannya.

“Diiming-imingi, perkataan orang tuanya yang akan mengganti ketika pembicaraan itu terjadi. Ini harus dipahami dalam konteks relasi kuasa. Dalam konteks ini relasi kuasa yang dipakai pelaku untuk menundukan penyintas,” papar CMY kepada wartawan lpmrhetor.com.

Dalam kesehariannya, biaya makan Fiki bahkan harus ditanggung oleh penyintas B. Fiki pernah meminta uang sebesar Rp100.000,-  kepada penyintas untuk membayar makannya bersama Ronal, teman satu kos Fiki.

Tidak hanya itu, penyintas mengungkapkan bahwa Fiki sempat meminjam uang sebesar Rp150.000,- untuk judi bola. Uang tersebut diberikan penyintas dengan syarat telepon genggam pelaku digadaikan kepadanya sebagai jaminan.

Siasat tercipta, selang dua hari telepon genggam itu diambil oleh pelaku secara kasar dan melanggar syarat dengan dalih untuk menghubungi teman satu organisasinya. Telepon genggam akhirnya berpindah tangan, tanpa adanya pengembalian uang dari pelaku.

Awal Juni 2019, penyintas mulai merasakan ada hal yang aneh pada dirinya. Ia merasa janggal karena tak kunjung datang bulan. Kejanggalan itu pun ia utarakan kepada Fiki. Sayangnya, respon Fiki tidak sesuai harapan penyintas. Pelaku justru menganggap apa yang diceritakan penyintas hanya omong kosong belaka. Mendengar respon pelaku yang tak acuh, penyintas hanya bisa menangis dalam kesendirian.

Hubungan pelaku dan penyintas masih berlanjut. Pertengahan Juni 2019, pelaku bahkan membicarakan perihal uang kuliah sebesar Rp2.550.000,- kepada penyintas.

Perbincangan tentang uang tersebut sebenarnya telah terjadi sejak bulan Mei, pelaku berujar bahwa orang tuanya telat memberi kiriman karena harga kopra terus menerus mengalami penurunan. Akhirnya pada 19 Juni 2019, pergilah penyintas bersama pelaku ke bank untuk menarik uang dari rekening penyintas.

Selang beberapa hari kemudian, ketika penyintas bermalam di kos pelaku, terjadilah pertengkaran hebat di antara keduanya. Penyintas membuka WhatsApp pelaku dan mendapati chat mesra pelaku dengan perempuan lain. Pelaku lantas marah, ia tidak terima dengan tindakan penyintas dan mengusirnya dari kos pada pukul 02.00 dini hari.

Kemarahan pelaku membuatnya alpa akan kehadiran sepupu penyintas dan Ronal di kosnya. Setelah menyadari hal tersebut, pelaku bergegas menahan penyintas yang sudah menangis dan hendak keluar kamar.

Pertengkaran tak bisa dihindari, pelaku mendorong penyintas hingga ia terbentur ke dinding kamar. Ia meremas bibir penyintas berulang kali dengan harapan penyintas dapat berhenti menangis.

Air mata tak berhenti mengalir, begitu juga dengan darah di hidung penyintas. Tidak cukup dengan kekerasan, pelaku masih melontarkan ancaman terhadap penyintas.

Dalam keadaan yang masih trauma, penyintas kembali memikirkan kejanggalan yang terjadi pada siklus menstruasinya. Ia akhirnya memberanikan diri untuk menggunakan test-pack. Dua garis biru tertera dalam alat tersebut, penyintas B  positif hamil.

Mengetahui itu, B berusaha memberitahu Fiki atas keadaannya. Namun, ia justru memaki penyintas dan tidak mau mengakui janin yang dikandung B sebagai buah dari hubungan mereka. Fiki bahkan menyuruh penyintas untuk menggugurkan kandungannya.

Memasuki dua bulan usia kehamilan, kondisi penyintas dan kandungannya kian melemah. Penyintas berulangkali mengalami pendarahan serta penganiayaan dari pelaku.

Dengan sekuat tenaga penyintas berusaha menjaga kestabilan kandungannya. Namun, takdir berkata lain, ia keguguran. Darah beserta janin dan semua jaringan keluar serentak dari rahim penyintas hingga berceceran di lantai. Berdasarkan pernyataan penyintas, pelaku yang menyaksikan kejadian tersebut justru bersikap tak acuh dan tidak menggubris kepanikan dari penyintas B.

Penyintas mengalami pendarahan hebat yang tak kunjung usai, ia juga mengalami demam tinggi dan muntah-muntah. Tepat pada tanggal 18 Agustus 2019, pukul 02.00 dini hari, B menghubungi Ali dan Dede yang merupakan merupakan anggota dari CMY.

Ketika ditemui di kosnya, B sudah dalam keadaan lemas dan pucat. Penyintas pun segera dilarikan ke rumah sakit (RS). Hasil diagnosa dokter menunjukkan bahwa B mengalami infeksi di daerah rahim dan anemia akut.

Mendengar hal itu B langsung menghubungi Fiki. Sayangnya, selama perawatan, pelaku tidak pernah menjenguk penyintas dengan alasan sedang sibuk kegiatan dan hanya membuang waktu jika harus pergi ke RS.

Tanggal 23 Agustus 2019, hubungan pelaku dan penyintas berakhir. Meskipun demikian, pelaku masih sempat mengancam, mengejek dengan tidak sopan, dan meminta makan serta uang sebesar Rp200.000 untuk digunakan bersama perempuan lain.

Playing Victim yang dilakukan oleh pelaku

Sejak permasalahan kekerasan dalam pacaran (KDP) diketahui oleh CMY, pihaknya langsung mengupayakan banyak cara untuk bertemu dengan Fiki. Hingga pada suatu konsolidasi, pendamping (CMY) berhasil bertemu dengan pelaku.

Dalam pertemuan itu pula, ketika pendamping mengkonfirmasi kasus B kepada Fiki, ia pura—pura tidak mengenal penyintas dan menganggap hal tersebut sebagai serangan terhadap nama baiknya dan LMND – DN.

Laporan kasus tersebut juga telah disampaikan CMY kepada LMND-DN secara organisasial. Namun, respon yang didapat tidak seperti yang diharapkan.

Menurut penuturan CMY, ketua Nasional LMND-DN sempat menganggap bahwa kasus tersebut merupakan kasus pribadi dan bukan tanggungjawab organisasi.

Bersyukur, respon berbeda disampaikan oleh LMND-DN Yogyakarta yang kemudian turut menginvestigasi kasus tersebut.

LMND-DN mengusulkan adanya sidang terhadap kasus ini. Mulanya, Fiki ingin dipertemukan dengan penyintas, tapi CMY dengan tegas menolak. Akhirnya sidang hanya diikuti oleh dua kawan LMND-DN (Agung dan Joli), pihak CMY, dan Fiki.

Baru berjalan sekitar lima menit, pertemuan sudah memanas. Fiki tidak terima ketika pendamping menyebutnya sebagai pelaku. Fiki emosi, meninggikan volume suaranya, berdiri, dan hendak memukul pendamping.

Beberapa saat kemudian, Fiki akhirnya mengaku pernah menampar B hingga berdarah. Namun, ia masih menyangkal telah melakukan kekerasan seksual dan fisik terhadap B.

Pendamping menganggap pernyataan Fiki ambigu. Di satu sisi Fiki menyangkal, tapi di sisi lain ia mengakui.

Selain itu,  Fiki juga menuduh B sudah terbiasa melakukan hubungan seksual. Pelaku lantas tidak mau mengakui janin yang pernah dikandung penyintas sebagai hasil dari hubungan mereka. Ia menuduh B hanya berpura-pura dan melontarkan berbagai macam tuduhan: penyintas B mengancam Fiki dan keluarganya, serta B tidak mengalami trauma berat akibat ulahnya.

Fiki kembali memposisikan dirinya sebagai korban kebohongan dari B. Pendamping memandang Fiki sedang melakukan playing victim untuk mengelak perbuatan yang telah dilakukannya.

Hingga detik ini, pelaku masih playing victim, bahkan CMY sangat menyayangkan pelaku tidak ada itikad baik sama sekali.

“Nah pelaku sendiri tidak ada itikad baik sama sekali, malah terus melakukan kekerasan verbal dan psikis, dengan membangun argumen playing victim lewat story wa [whatsapp-red] pelaku, yang didapatkan dari salah satu kawan pelaku yang kuliah di ITNY,” jelas CMY.

LMND-DN tak serius?

Setelah pertemuan dengan Fiki berakhir, pihak LMND-DN berkeinginan bertemu secara langsung dengan penyintas. Permintaan tersebut disepakati. Dengan tangan gemetar dan menangis, penyintas menceritakan kembali serangkaian kejadian yang membuatnya mengingat kembali luka lamanya.

Penyintas B menegaskan tuntutannya kepada pelaku, yakni Fiki harus meminta maaf kepada penyintas dengan pernyataan tertulis, dibubuhi materai, lalu dipublikasikan. Penyintas pun memberikan waktu 1 minggu kepada LMND-DN untuk menyelesaikan kasus ini.

LMND-DN menyanggupi tuntutan tersebut. Kepada penyintas dan pendamping, pihak LMND-DN berjanji akan turut menyelesaikan kasus ini serta akan belajar melihat dari perspektif penyintas.

Satu bulan telah berlalu, namun LMND-DN tidak kunjung menunjukan tanda-tanda keseriusan dalam menangani kasus kekerasan seksual ini.

Dengan persetujuan penyintas, pada tanggal 17 November 2019, CMY merilis kronologi kejadian kekerasan seksual yang dialami penyintas B, pernyataan sikap, sekaligus tuntutan terhadap pelaku dan LMND-DN.

Tepat pada tanggal 19 November 2019, Eksekutif Nasional LMND-DN baru merilis pernyataan sikap terhadap kasus kekerasan seksual yang melibatkan anggotannya, Fiki Randi Aneke.

Baca juga: Pernyataan Sikap Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi – Dewan Nasional (EN-LMND-DN).

Berdasarkan kronologi yang diceritakan CMY serta hasil dari investigasi yang dilakukan pihak LMND-DN, organisasi ini akhirnya melakukan pemecatan terhadap Fiki Randi Aneke selaku anggota aktif LMND-DN.

Keputusan tersebut tercantum dalam SK Eksekutif Nasional LMND-DN nomor: 004/A/EN-LMND-DN/EW-EK-EKOM-EFAK/XI/2019.

Pihak LMND-DN menyatakan turut bertanggungjawab atas pemenuhan hak-hak penyintas, dan berupaya menyelesaikan masalah hingga tuntas.

Kondisi dan kelanjutan kasus

Saat ini penyintas masih dalam proses trauma healing. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh pihak CMY ketika diwawancarai oleh lpmrhetor.com via Facebook.

“Untuk kondisi penyintas sejauh ini masih dalam proses untuk kemudian melakukan trauma healing, karena penyintas masih sering teringat perlakuan pelaku Fiki Randi Aneke. Secara Fisik penyintas masih sering merasakan sakit perut tiba-tiba,” tulis CMY.

CMY juga menuturkan bahwa kasus kekerasan ini telah diketahui oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak.

Keluarga pelaku telah menyerahkan semua kepada penyintas. Keluarga dari penyintas tentu sangat marah dan akan menindak pelaku melalui jalur hukum.

CMY menambahkan, saat ini kasus tersebut masih ditangani oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta.

Penyintas dan Pendamping tidak bergerak sendirian

Unggahan pernyataan sikap dari CMY memantik organisasi lain untuk memperjuangkan keadilan bagi penyintas B. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Social Movement Institute (SMI), Kontras, Mahasiswa & Masyarakat Ngayogyakarta, serta Amnesty Internasional di Tugu Pal Putih Yogyakarta sebagai bentuk dukungan terhadap penyintas dan pendamping bahwa mereka tidak sendiri, Kamis (21/11/19).

Setelah menceritakan kronologi kejadian, Staff Devisi Jaringan dan Pengorganisasian, Mutia Iftiyani menuturkan bahwa ia juga turut merasakan kepedihan yang terjadi.

“Saya sebagai penulis rilis juga tersayat hati saya, ada manusia [Fiki-red] seperti ini,” ungkapnya kepada wartawan lpmrhetor.com.

Melalui aksi tersebut, Mutia juga berharap pelaku segera mengakui dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tak hanya itu, ia juga meminta ITNY bersikap tegas terhadap Fiki dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan segala bentuk kekerasan seksual.

“Mengajak semua elemen masyarakat, mahasiswa, butuh tani, pokoknya semuanya untuk kita mengampanyekan sama-sama anti kekerasan seksual, supaya kita memutus mata rantai itu. Jangan ada lagi saudara atau saudari kita yang mengalami itu kembali,” pungkasnya.

Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) mengambil sikap

Setelah berita tentang kekerasan dalam pacaran yang dilakukan oleh Fiki Randi Aneke terhadap B beredar. Pada tanggal 19 November 2019, berdasarkan surat nomor: 110/ITNY/BKA/XI/2019, ITNY telah melakukan pemanggilan terhadap Fiki.

Berdasarkan surat pemanggilan, pemeriksaan telah dilaksanakan pada Jumat (22/11/12). Namun, hingga berita ini diterbitkan, lpmrhetor.com belum mendapatkan informasi lebih lanjut.[]

Reporter: Khusnul Khotimah, Dewi Shinta N, Eko Wahyudi

Editor: Isti Yuliana

You may also like

Surat Pernyataan Keputusan Bersama Bukan Akhir dari Perjuangan

lpmrhetor.com – Selasa (30/06/2020), puluhan mahasiswa melakukan aksi