Piye tho, Pak?

Oleh: Ihda Nurul Sholeha

Mahasiswa baru memebanjiri Kampus Putih, di acara OPAK hari pertama. Lebih dari 3.600 calon cendekia muda berbondong memasuki kampus yang beberapa tahun lalu masih menjadi kampus termurah sedunia akhirat, katanya. Mereka datang dengan wajah cerah meski mungkin pagi-pagi sudah dibentak oleh kakak-kakak panitia OPAK. Tapi lihatlah bentakan itu tak menyurutkan semangat mereka untuk menjadi mahasiswa, menjadi agen perubahan di mana masa depan Indonesia berada di tangan mereka.

Sorak sorai mahasiswa membahana, sesekali diselingi lagu-lagu perjuangan, “Buruh Tani mahasiswa rakyat miskin kota bersatu padu rebut demokrasi–Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berbakti…”  sungguh membakar dan menyulut semangat, jika diresapi.

Wajah berbinar dengan atribut lengkap, mereka berjalan tegap menuju tempat berkumpul untuk pertama kalinya. Di sana, di gedung yang terkadang oleh kampus disewakan untuk acara pernikahan, mereka dikumpulkan. Sudah menunggu para birokrat dan pejabat kampus untuk memberi sambutan, sekaligus mengucapkan selamat datang pada para mahasiswa, sang penyumbang dana untuk pembangunan kampus kita, UIN Sunan Kalijaga.

Detik berikutnya, orasi-orasi dikumandangkan, sambutan disampiakan. “IPK diusahakan jangan kurang dari 3,50. Jangan sampai jadi mahasiswa abadi, akan sangat merugikan bagi mahasiswa… Jika prestasi akademik mahasiswa baru jeblog maka akan di DO.” Ucap Pak Rektor.

Duh! Pak, doktrin pertama yang kau sampaikan kenapa harus IPK dan lulus cepat? Bukankah itu tak berguna jika mereka nantinya tak mengabdi pada rakyat dan bangsa? Piye tho Pak, sambutan pertama yang kau ucapkan harus tentang DO? Tidakkah banyak yang bisa mahasiswa kerjakan daripada sekedar menghitung absen yang harus 75%? Menjadi mahasiswa kritis dalam pengetahuan juga turut bergerak dalam perjuangan misal, atau menjadi cendekia peduli yang tak tutup mata melihat ketidakadilandan perampasan kemerdekaan.

Sungguh kata dalam lagu yang mereka kumandangkan terdengar lebih mulia. Bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat…”

 

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan