Hapus UKT Sekarang, atau Sengsara di Kemudian Hari

Orasi Mahasiswa pada saat apel pagi hari terakhir orientasi mahasiswa

Oleh : Ahmad Hedar

 

Polemik persoalan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sudah mencapai titik puncaknya. Penerapannya yang sarat dengan masalah, terbukti merugikan banyak mahasiswa. Tercatat ada ratusan mahasiswa tiap tahunya yang teridentifikasi mengaku keberatan dan dirugikan atas kebijakan pembiayaan tersebut. Ratusan korban UKT kemungkinan besar akan terus meningkat menjadi ribuan, jika kebijakan pembiayaan kuliah tersebut tak dihapus.

Upaya yang dilakukan untuk menolak penerapan kebijakan itu pun sudah dilakukan berulang kali oleh kelompok mahasiswa. Namun, kriminalisasi, intimidasi dan ancaman dari kampus berulang kali pula terjadi. Birokrasi kampus sebagai representasi dari pengambil kebijakan terlihat tak punya iktikad untuk merubah, apalagi menghapusnya. Imbasnya banyak mahasiswa korban UKT menjadi terkatung-katung nasibnya.

Seperti mainstream diketahui, bahwa penerapan kebijakan UKT sudah cacat sejak dalam logika. Subsidi silang yang diimpikan kementrian pendidikan tinggi justru menjadi cerminan, bahwa negara semakin melepaskan diri dari tanggung jawabnya. Negara tak hadir dalam pemenuhan pendidikan terhadap seluruh lapisan rakyat. Rakyat di ilusi dengan logika subsidi silang, dibuat seakan-akan rakyat Indonesia wajib membayar biaya pendidikan dengan dalih pemerataaan.

Disisi yang lain, birokrasi kampus juga tak pernah prihatin dan peduli terhadap nasib mahasiswa beserta keluarganya yang kurang mampu. Mahasiswa yang masuk UIN Suka dipaksa membayar UKT dengan nominal terlampau jauh dari kemampuan ekonomi keluarga mahasiswa. Kesempatan untuk menolak pun diintervensi dengan ragam ancaman dan intimidasi. Ini jelas ancaman serius terhadap wajah pendidikan nasional kita.

Cita-cita mewujudkan pendidikan gratis, demokratis dan bervisi kerakyatan pun semakin jauh dari angan. Negara serta apparatus kampus justru mendorong kebijakan kuliah terhadap pasar dan modal, swastanisasi kampus menjadi tak terbantahkan. Dari sini kemudian lahir banyak wajah pendidikan yang menyerupai pasar industri, atau biasa kita sebut dengan komersialisasi pendidikan.

Dengan mendorong penghapusan UKT, maka kita masih bisa berharap agar potret mahal pendidikan nasional perlahan tercerabut. Dengan menolak UKT di UIN SuKa, setidaknya kita masih memberikan harapan bagi mahasiswa yang kurang mampu untuk tetap melanjutkan belajar di bangku kuliah dengan tenang. Dengan menolak UKT, setidaknya kira masih bisa memberikan harapan bagi orang tua mahasiswa untuk melihat anaknya lulus kuliah tanpa berhutang dan sengsara. Dengan menolak UKT pula, kita masih terus konsisten  mengingatkan kelalaian negara dan birokrasi kampus dakam memenuhi tugasnya.

Saatnya kita bangkit bersatu, menyatukan perspektif dan menolak penerapan UKT di tiap-tiap perguruan tinggi, khusunya di UIN SuKa. Kepeloporan untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat yang dipinggirkan dalam perguruan tinggi harus digelorakan. Mahasiswa baru tak bisa lagi tunduk dan diatur oleh kebijakan pembiayaan yang nyata-nyata menyengsarakan. Dalam konteks persoalan UKT, mahasiswa baru harus menekan rasa egois dan oportunis guna kepentingan bersama yang lebih baik.

Oleh sebab itu, dengan dasar cacatnya logika UKT serta penerapannya yang terus menuai masalah, merugikan, serta menyengsarakan mahasiswa, maka kami atas nama mahasiswa UIN Sunan Kalijaga menyerukan kepada mahasiwa untuk:

  1. Mendukung penghapusan kebijakan Uang Kuliah Tunggal di UIN Suka dan di Seluruh PTN di Indonesia.
  2. Mewujudkan pendidikan nasional yang mudah di akses dan bermutu bagi rakyat.
  3. Mewujudkan kebebasan akademik yang pro terhadap kepentingan mahasiswa dan rakyat banyak.
  4. Melawan segala bentuk intimidasi dan kriminalisasi terhadap mahasiswa yang melakukan advokasi penghapusan UKT.
  5. Bersedia terus konsisten memperjuangkan secara bersama penghapusan UKT hingga diabut dan diganti

 

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan