Musoyem, Kuli Panggul Ingin Upah Layak

Usianya boleh lapuk, namun semangatnya masih membara. Musoyem, nenek berusia 74 tahun tidak mau kalah dengan pejuang yang lain. Harapanya tidak banyak, ada kenaikan upah untuk buruh.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Pukul 11.00 WIB, ratusan orang memadati titik 0 km Yogyakarta, meski panasnya terik menyengat kulit. Ada yang bawa bendera, megaphone dan menyebarkan selebaran, Minggu, 01/05. Kesibukan mereka untuk memperingati hari buruh Internasional atau yang biasa disebut May Day.

May Day merupakan hari penting dalam perjuangan kelas buruh. Awalnya ada ratusan ribu buruh di Amerika Serikat melakukan demonstrasi menuntut diberlakukanya 8 jam kerja dalam sehari pada tanggal satu Mei. Akan tetapi, aksi tersebut dihadapkan pada tembakan polisi yang menewasan beberapa orang buruh. Sontak, aksi represif tersebut mendapat kecaman dari seluruh belahan dunia.

Pada perjalananya, May Day selalu diperingati dengan aksi di jalan, termasuk di Yogyakarta. Kali ini May Day dilakukan dengan aksi long march sepanjang jalanan Malioboro, dimulai sejak pukul 08.00 pagi dari tempat parkir Abu Bakar Ali hingga titik 0 km Yogyakarta.

Sekilas, aksi tersebut terlihat biasa, diikuti oleh kelompok buruh, LSM dan sebagian Mahasiswa. Prosesinyapun lumrah, dilakukan dengan aksi damai, sebagaian besar orang sebagai massa aksi  dan beberapa sebagai orator. Namun siapa sangka, diantara deretan masa aksi hadir pula seorang nenek yang usianya tergolong tidak muda lagi.

Musoyem nama panggilanya, seorang perempuan berusia 74 tahun. Untuk melangkahkan kakinya mungkin tak sekuat dulu, seperti masa ia muda, otot-ototnya mungkin juga sudah lemah termakan usia. Namun baginya hal itu bukanlah sebuah alasan untuk sebuah perjuangan. Perjuangan untuk kesejahteraan buruh.

Bersama beberapa buruh yang lain, perempuan-perempuan seumuranya, ia mengaku hapir setiap tahun mengikuti aksi serupa. Mereka tergabung dalam jenis perkumpulan serikat pekerja perempuan di Yogyakarta. Melalui aksi-aksi semacam ini, perempuan berkacamata tersebut berharap bisa ada kenaikan upah untuk buruh agar kehidupan lebih layak, lebih sejahtera.  “upah layak, sejahtera,” katanya.

Bisa dibilang, Yogyakarta merupakan kota dengan upah terendah dibandingkan kota-kota besar lainya. Pada bulan Novemebr 2015 lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono memutuskan besaran upah minimum kabupaten (UMK) atau regional (UMR) paling besar RP 1.452.400 untuk kota jogja sendiri, untuk kota lainya lebih rendah.

Musoyem tidak ada urusan dengan itu, ia bukan buruh pabrik ataupun sejenisnya, melainkan buruh di pasar Gamping. Penghasilanya bergantung dari kerjanya angkat barang belanjaan orang dipasar. Upah yang diperoleh sebagai kuli panggul dipasar memang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, namun ia masih setia dengan pekerjaan ini.

Meskipun dengan penghasilan tidak menentu, baginya pekerjaan ini harus tetap dijalani. Profesi tersebut ia geluti sudah sejak tahun 1974 silam. Itu berarti telah 42 tahun ia menjalani pekerjaan ini, namun kesejahteraan yang di damba belum kunjung datang. Ia mengaku dalam sekali angkat barang biasanya hanya diberi upah oleh si tuan barang sebesar dua ribu perak, itupun tidak setiap hari ramai.

Apa saja yang bisa mendapatkan uang ia lakukan dipasar. “angkat-angkat apa saja yang bisa diangkat, biasanya buah,” tuturnya sambil mengerutkan dahi.

 

Reporter: Eko Sulistyono

You may also like

Sulitnya Warga Tamansari Bertahan di Rumahnya Sendiri

Program Rumah Deret membawa beragam petaka. Warga RW