Mengeluh

Pertama-tama saya harapkan para pembaca agar tidak tegang menatap layar kaca. Karena jika serius Anda akan tertipu bahwa dalam tulisan ini tak satu pun yang dianggap serius. Jadi harapannya agar tetap rileks dan tersenyum. Hitung-hitung senyum anda yang manis adalah ibadah.
Kedua, besar harapan saya tulisan ini bisa dibaca dan bernilai sesuatu. Bernilai baik dan bermanfaat atau sebaiknya dianggap sebagai satu hal yang tak bermutu sama sekali. Dan, baik kiranya jika ekspresi tersebut di tuliskan sebagai bentuk somasi atau hal lainnya.
Ketiga, saya akan segera memulai apa yang akan menjadi bahan diskusi kali ini tanpa perlu berbasa-basi? atau sudah terlalu banyak basa-basi? Baiklah saya akan memulainya.
Siapa dan makhluk apa yang tidak pernah mengeluh? Dalam Al-qur’an pun manusia dianggap makhluk yang sering berkeluh kesah. Jika tak percaya silahkan buka kembali Al-qur’an-nya. Zaman yang serba wah nan mewah lengkap ini, jiwa manusia seolah kering tanpa seperitualitas. Kering bahkan kalau boleh dikatakan sebagai kemarau batin yang berkepanjangan. Beberapa kian manusia terjebak dalam kondisi seperti ini. Bukan karena telah membaca dan berbuat sesuatu atas kondisi yang terjadi, namun hanya sibuk mengeluhkan nasib diri sendiri. Mengeluh merupakan penyakit atau bahkan menjadi virus yang dapat mematikan. Mematikah harapan dan mematikan kehidupan secara perlahan.
Kehidupan dijalani terlalu serius sehingga lupa untuk dapat sedikit tersenyum. Bayangkan saja, orang lebih mudah menyimpan dendam dari melepaskan kata maaf demi kemerdekaan jiwanya sendiri. sudahlah, saya tak mau banyak brkhotbah mengenai hal itu.
Perlu kita ingat, kondisi hari bukan lagi kondisi waktu Ir.Soekarno dan Moh. Hatta lahir yang ketika brojol kedunia ini, langsung mendengar dentuman senjata dimana-mana. Maka wajar kondisi itulah yang membentuk jiwa dan kepribadian para tokoh proklamator terssebut. Tapi tidak dengan Anda, Saya dan kita semua. Kita hidup dimana suara soundsystem menggema dimana-mana. Deru suara kendaraan menjadi penghias laksana musim yang tak pernah berganti, semakin hari semakin banyak dan membuat jalanan semakin sesak.
Mereka lho, hidup ditengah keterputusasaan namun tak pernah sedikit pun mengeluh hingga sampai mampu membawa Indonesia merdeka. Kita, yang hidup di zaman yang aman sentosa sok-sok-an putus asa. Lalu, “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,” nah loh, kok jadi khotbah lagi.
Kondisi hari ini memang bukan kondisi seperti dahulu yang langsung berhadapan dengan moncong senjata. Hari in kita sedang berhadapan dengan senjata yang amat halus dan tak terasa sekali sudah menembus benteng pertahanan jiwa pada setiap manusia.
Sudahlah, kita kembali ke tema inti. Mengeluh selain perilaku atau kebiasaan yang tidak terpuji, ia merupakan alat yang ampuh bagi kapitalisme untuk dapat merasuk dalam kesadaran masyarakat. Perlu diketahui, masyarakat yang sering atau yang mengidap penyakit bernama mengeluh ini akan mudah di doktrin ‘ala motivasi yang menjual sedekah atau semacam AMT yang sibuk dengan intropeksi diri. Pada akhirnya hal semacam ini mewajarkan segala hal yang terjadi. Kemiskinan terjadi karena masyarakat malas, tanah atau pun pemukiman warga digusur karena memang pantas di gusur karena mengganggu keindahan kota. Sebuah logika pembangunan yang aneh dan sesat.
Saya sarankan, bagi yang sering mengeluh sudah saatnya mengakhiri penyakit ini. Karena selain tidak baik untuk kesehatan kita ia juga tidak baik untuk perkembangan kualias pengetahuan. Tak jarang, orang yang sering mengeluh hanya akan menemukan jalan buntu. Jangan kalah dengan pepatah “banyak jalan menuju roma.” Ya, banyak jalan untuk dapat menemukan cara untuk dapat berbagi sesama. Jaga semangat. Semoga tetap tumbuh dan berbagi kebaikan serta jangan lupa untuk berbagi senyum kepada siapapun. Tapi ingat jangan sembarangan berbagi hati dengan orang lain jika tak ingin tersakiti.

#SA. Djogjakarta, 03 November 2015, 12.34 WIL (Waktu Indonesia Laptop)

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan