Media, Seonggok Muntahan Kepentingan

Ilustrasi: Istimewa

Dalam suatu kurun waktu tertentu, sesuatu—kecuali Yang Abadi—tentu berubah. Ada perputaran arus yang ritmenya tak begitu abstrak namun seringkali tidak terbaca. Semua, termasuk media massa di Indonesia, (katanya) punya arah gerak mendalam, sekaligus luas dan mendunia. Media, yang katanya menampung aspirasi dari rakyat jelata hingga kaum priyayi, kalangan mustadh’afin hingga para ulama kaya (mumpung Ramadhan), yang menjadi jembatan buat informasi publik hingga yang berupa opini pribadi. Kata orang itu namanya media, iya, me-di-a.

Bahasan ini bisa jadi terlalu luas atau malah tidak terdefinisikan sama sekali saking banyaknya orang menafsirkan. Tapi mari kita mulai dengan suatu kesepakatan bahwa media yang akan kita bahas adalah sepotong dunia yang berisi gagasan, ide, segala abstraksi otak manusia dalam bentuk tulisan, gambar, suara, atau malah audio-visual sekalian.

Saya melihat dunia itu ada di mana-mana—kadang suatu lembah kemiskinan hanya cukup terkotak pada rubrik esai atau feature human interest yang rapi dan renyah. Sayangnya, tulisan bagus itu saya baca ketika membeli nasi kucing di angkringan, jadi bungkus nasi sambal teri. Kadang, ada ledakan dana korupsi yang gambarnya saja hampir separuh halaman, itu tergulung tidak beraturan di kotak sampah. Media itu ada di kotak sampah, tempat buat sampah, dibuang !.

Yang bentuknya bukan kertas cetakan, kadang cuma didengar saat sedang terjebak macet—seringkali malah diganti saluran musik dangdut atau yang muda-muda dialihkan ke channel K-Pop. Satu lagi, yang kata guru agama saya sewaktu SMA disebut blackbox neraka, sebab merekam segala jenis hal yang menjerumuskan akal sehat—itu juga media, lho. Tetapi lima, ah mungkin lebih dari lima tahun terakhir, setiap channel-nya penuh tayangan picisan. Opera sabun muncul setiap lima menit, malah sekarang jeda suatu tayangan diisi lagu propaganda politik. Aduh! Kok begitu, sih?

Mari duduk, kita ingat sebentar alasan keberadaan media. Kenapa yang terjadi hingga saat ini, media tidak lebih seperti remah-remah biskuit? Yang bertebaran di mana-mana tapi tidak membuat kenyang, tidak juga menyehatkan. Masih ada sih, fungsinya, buat makan ikan di kolam atau ayam di kandang belakang rumah—pun kalau mereka doyan.

Media massa, saudara, dongengnya dibuat untuk menjadi penyampai informasi. Saya dengar juga ada yang bilang media itu sarana edukasi, buat mendidik anak bangsa—entah dididik jadi apa sih. Lalu di buku lain ditambahi bahwa media ini diciptakan sebagai alat kontrol sosial, tapi untuk mengatur sosial yang bagaimana? Terakhir, malah yang bikin laris sekarang, media itu sarana hiburan masyarakat. Oh, satu lagi, sekarang media punya fungsi baru jadi lapangan pekerjaan, buat cari duit. Oalah…

Ini situasi macam apa?

Apakah semacam penyelaras kebutuhan masyarakat yang katanya sudah hidup modern? Apakah ini situasi dimana dunia media makin lama makin bias oleh intervensi ghaib pemegang saham perusahaan dan pemangku kebijakan? Atau situasi media sekarang ini adalah pelampiasan dari gagalnya kemerdekaan yang baru diantar sampai gerbang? Tidak adakah yang berkenan bangkit dari duduk santai di kursi goyangnya untuk kemudian menyusun struktur media seperti ketika idealisme itu kokoh didirikan?

Aih! saya lupa, media tadi itu yang umum, mainstream begitu. Substansi yang mereka angkat ya tidak jauh dari seberapa banyak ide itu dibeli orang. Media yang begitu itu didagangkan, yang seksi gayanya dan bergengsi tatarannya akan semakin laku dikomersialiasi. Pemilik saham media—yang belajarnya tentang politik apa saja, mungkin malah sudah khatam jurnalistik media—sekarang justru dimabuk rating. Redaksional sekarang menjadi kantor rekonstruksi fakta, kebenaran dan prinsip idealisme hanya berupa gantungan pigura dengan hologram berkilau. Itu kenapa?

Dalam dunianya, media merebak seperti jamur di musim hujan. Mereka yang dari awal sudah hidup, bukannya mati malah tambah besar, seringkali orientasi jadi terpusat ke sana dengan alasan pengalaman yang lebih banyak. Sedang media kecil yang baru tumbuh, malah jadi ikut-ikutan, seringnya jika kekurangan wartawan justru mengimpor bahan dari kantor berita yang dibeli oleh media kecil lainnya. Jadi, mau tidak mau isu yang diusung mereka akan serupa, seringkali malah seperti tidak punya pendirian, angle-nya, lho… itu-itu saja.

Memang, setiap media punya strukturnya sendiri-sendiri, tapi kok mau dibilang independen itu meragukan, ya? Soal keberpihakan, kebijakan, sudut pandang, tiap media punya garisnya masing-masing, tentu saja. Itu bisa dicerna, masih bermanfaat jika tiap media menerapkan kebijakan dalam porsinya di lingkup jurnalisme. Akan tetapi, entah kenapa sesuatu itu memang selalu berubah, media kebijakannya dicampur dengan kepentingan dan logika politik. Porsi penampilannya disusun berdasarkan tinggi rendahnya minat publik, bukan lagi besar kecilnya kebutuhan publik.

Kadang, jika kita membaca sedikit lebih detail, lebih telaten, dan lebih jeli lagi, setiap kata, suara, hingga gerak yang terlihat itu disusun amat halus dalam panggung sandiwara. Media membuat sebagian dari kita percaya bahwa kebenaran itu adalah apa yang media sodorkan. Kita kadang dibuat berjalan di rute  yang mereka selipkan lewat sihir kata-kata, melalui suara magis, atau video manipulasi. Media mainstream saat ini kurang lebih begitu, seringkali tidak terlalu jujur, yang muluk-muluk malah berakhir sebagai kebohongan. Membohongi pembaca, pendengar, dan pemirsa—media membohongi masyarakat.

Jadi sebetulnya, media sekarang itu memihak pada siapa?

Pelaku media—jika pertanyaan itu diajukan dalam seminar oleh seorang rakyat biasa—mungkin akan jalan pelan-pelan di barisan belakang, sambil menunduk, mencoba keluar dari seminarnya. Mereka mungkin enggan ditanyai, takut jawaban idealis mereka bertolak belakang dengan realitas yang mereka lakukan. Pelaku media yang jika sejarah menuntut ilmunya pernah bertemu dengan jurnalistik, pasti paham dimana dan bagaimana seharusnya media meletetakkan keberpihakannya.

Namun jika sudah begini rupanya, siapa dan bagaimana sepotong dunia itu akan sungguh-sungguh menjadi media? Realitanya, media mainstream yang dijadikan pusat informasi massa saat ini tak ubahnya perut yang dijejali kepentingan-kepentingan banyak pihak. Lama-lama jenuh, penuh, dan meluap jadi muntahan yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Iya, media sekarang ini sudah kebanyakan intervensi—saking banyaknya sampai basi.

 

*Penulis merupakan mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Soal keberpihakan, jangan ditanya, dia adalah “mantan” redaktur lpmrhetor.com. Kini naik jabatan jadi Sekretaris Umum-nya LPM Rhetor.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan