Kelas Fotografi: Pahami Esensi Foto Jurnalistik, Yuk!

lpmrhetor.com – Suatu pagi, saya sedang membaca sebuah berita yang diterbitkan oleh salah satu media dengan judul “Selasa Wage, Pedagang Stop Jualan Untuk Bersih-bersih Malioboro”. Sebenarnya, tak ada yang kurang dari isi yang disampaikan dalam berita tersebut.

Namun, ada yang mengganjal dan membuat berita tersebut menjadi kurang “sempurna”. Setelah saya pikir-pikir, ternyata terdapat pada bagian foto pelengkap yang ditampilkan.

Foto pelengkap tersebut hanya sebuah foto ”plang Jalan Malioboro”, hanya sebatas itu. Memang tidak salah, masih sama-sama menampilkan tentang “Malioboro”, tetapi fungsi foto pelengkap yang ditampilkan menjadi tidak efektif, bahkan seakan tidak berguna.

Menurut saya, akan lebih menarik apabila foto pelengkap yang ditampilkan tentang kegiatan yang dilakukan para pedagang, ataupun foto Jl. Malioboro yang bersih dan tidak ada pedagang.

Dengan begitu, ketika selesai membaca berita tersebut, pembaca bisa membayangkan keadaan Malioboro. Bahkan hanya melihat judul dan foto saja, pembaca sudah mengetahui apa isi berita.

Berita dengan judul di atas dan kekurangan yang saya rasakan ketika membacanya, mengingatkan saya mengenai satu aspek penting yang tidak boleh luput dari berita, yakni nilai berita dalam sebuah foto jurnalistik.

Jadi apa sih nilai berita pada foto jurnalistik, sehingga dianggap penting pada sebuah berita?

Pertama, nilai berita (news value) merupakan acuan yang dapat digunakan oleh jurnalis untuk memutuskan fakta yang pantas dijadikan berita. Kriteria mengenai nilai berita merupakan patokan berarti bagi reporter.

Dengan kriteria tersebut, seorang reporter dapat menilai mana peristiwa yang harus diliput dan dilaporkan, dan mana peristiwa yang tak perlu diliput dan harus dilupakan. Singkatnya, nilai berita adalah acuan kelayakan suatu peristiwa untuk dimuat di media.

Untuk mengukur nilai berita dalam foto jurnalistik, Brian S. Brooks, George Kennedy, Darly R. Moen, dan Don Ranly dalam News Reporting and Editing (1980:6-17), menawarkan sembilan kriteria. Di antaranya, keluarbiasaan, kebaruan, akibat, aktual, kedekatan, informasi, konflik, orang penting, kejutan, human interest, dan seks.

Kemudian, pengertian foto jurnalistik adalah foto yang bernilai berita atau foto yang menarik bagi pembaca tertentu, dan informasi tersebut disampaikan kepada masyarakat sesingkat mungkin (Wijaya, 2011:10).

Sedangkan menurut Henri Cartier-Bresson, salah satu pendiri agen reportase Magnum Photo, foto jurnalistik adalah cara berkisah dengan sebuah gambar, melaporkannya dengan sebuah kamera, merekamnya dalam waktu, yang seluruhnya berlangsung seketika saat suatu citra tersebut mengungkap sebuah cerita.

Intinya foto jurnalistik adalah foto yang memiliki nilai  berita dan berkisah. Sehingga ketika pembaca melihat foto yang ditampilkan langsung tahu apa yang terjadi. Tetapi, tidak semua foto yang dimuat di koran adalah foto jurnalistik, tergantung apa yang diberitakan.

Sebagai berita dalam bentuk foto, sebuah foto jurnalistik memiliki beberapa fungsi antara lain melengkapi berita, menambah daya tarik berita, memperkuat bukti kejadian, memberikan gambaran atau memperkuat ilustrasi peristiwa, meningkatkan kualitas berita

Nah, tidak semua foto memiliki nilai berita, dan itulah yang membedakan genre foto jurnalistik dengan genre foto lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur untuk sebuah foto dijadikan berita:

Proximity: yaitu kedekatan peristiwa yang divisualisasikan dalam foto bagi pembaca, baik kedekatan secara geografis, kultural, maupun psikologis. Misalnya foto mengenai bencana alam di dalam negri akan lebih menarik rasa ingin tahu pembaca, dibanding foto kejadian di luar negri.

Magnitude: seberapa luas pengaruh peristiwa yang ditampilkan dalam foto bagi masyarakat. Misalnya foto kemenangan seorang atlet bulutangkis ketika mengikuti Sea Games akan lebih luas pengaruhnya dibanding foto kemenangan pemain bulutangkis antar kelas di sebuah sekolah.

Significance: seberapa penting arti suatu peristiwa yang ditampilkan dalam foto jurnalis bagi masyarakat. Misalnya foto mengenai kenaikan harga sembako lebih penting dibandingkan foto penyuluhan Keluarga Berencana.

Impact: berapa banyak manusia terkena dampak peristiwa yang ditampilkan dalam foto tersebut, seberapa besar dan seberapa lama dampak tersebut dialami.

Human Interest: foto yang memvisualisasikan peristiwa yang dapat menyentuh rasa kemanusiaan selalu menarik dan layak dijadikan sebagai sebuah berita.

Kebaruan: peristiwa yang ditampilkan dalam foto yang mengandung sesuatu yang baru, baik berupa gagasan, penemuan, ataupun perkembangan suatu peristiwa.

Luar biasa: foto yang mengambarkan sesuatu yang aneh, janggal, atau tidak biasa layak dijadikan sebagai foto jurnalistik.

Konflik: foto yang menampilkan sebuah konflik memiliki daya tarik bagi pembaca, sebab konflik selalu menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan pembaca.

Drama: meski tidak terlau penting bagi publik, namun foto yang memvisualisasikan kejadian-kejadian yang bersifat dramatis mengandung daya tarik yang cukup tinggi bagi pembaca.

Keselamatan Pribadi: foto peristiwa yang mengambarkan terancamnya keselamatan manusia, seringkali bukan hanya dianggap menarik, tapi juga dianggap penting oleh pembaca.

Kejelasan: foto jurnalistik harus dapat memvisualisasikan suatu kejadian dengan jelas, sehingga tidak menimbulkan makna ambigu bagi pembaca.

Objektif: sebuah foto jurnalistik yang baik diambil berdasarkan fakta yang ada, bukan hasil rekayasa dan tidak memihak.

Aktual: sebuah foto jurnalistik harus menggambarkan kejadian atau peristiwa terbaru, sehingga tidak bersifat basi[]

Fotografer: Ahmad Fajril Haq

Editor: Ina Nurhayati

dok: Rhetor/Fajril

You may also like

Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

Pendidikan merupakan nilai dasar kehidupan manusia. Bahkan bisa