Katanya Kampus Inklusif Ramah Difabel

UIN Sunan Kalijaga, kampus inklusif pertama di Indonesia. Setiap periodenya melayani 30 sampai 40 orang mahasiswa difabel. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa UIN secara keseluruhan yang bisa mencapai  16 ribuan mahasiswa.  Setiap tahunnya, UIN menerima sekitar 3600 mahasiswa baru, dari jumlah tersebut Pusat Layanan Difabel (PLD) sendiri tak pernah menerima lebih dari 15 orang per angkatan atau hanya menerima sekitar 0,004 persen per tahunya.

Menerima dan melayani difabel memang tidak akan pernah menjadi tugas yang mudah. Melayani difabel membutuhkan komitmen lebih, membutuhkan waktu lebih, membutuhkan strategi yang lebih, membutuhkan biaya yang mungkin juga lebih. Tetapi, kalau memang  sulit, apakah secara moral kita pantas menolak mereka? kalau kita menolak, adakah pihak yang menurut kita lebih berkewajiban mendidik dan menerima mereka?. Sungguh, sebagai perguruan tinggi negeri yang dibiayai dengan uang rakyat dari hasil pajak, bagi penulis tidak ada yang lebih wajib menerima penyandang difabel selain universtas negeri seperti UIN Suka. Artinya, yang wajib membantu penyandang difabel adalah seluruh civitas akademika UIN Suka, bukan hanya PLD.

PLD  memang mempunyai peranan yang sangat penting bagi para penyandang difabilitas. Akan tetapi, PLD juga tidak akan mampu menjalankan berbagai program yang dimilikinya sebagai penunjang bagi difabel, tanpa adanya uluran tangan dari para relawan atau yang biasa dikenal dengan sahabat inklusi. Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri sendiri, memulai dari hal yang paling kecil dan dari saat ini. Marilah kita bersama-sama wujudkan kampus kita tercinta ini menjadi kampus inklusi yang benar-benar ramah akan difabel.

Misalnya, kita bisa memulainya dengan melakukan hal terkecil seperti membantu mereka dalam melaksanakan ujian dengan memberikan bantuan berupa penglihatan dan tangan untuk menuliskan jawaban yang mereka bisikan. Membantu mengikuti peroses perkuliahan dengan memberikan bantuan berupa alat pendengaran, juga tangan kita untuk menuliskan materi, dan hal-hal kecil lain yang mampu kita berikan. Karena hal kecil yang kita berikan, bermakna besar bagi mereka. Semangat! Salam inklusi.

Ela Nurmalasari jurusan BKI ‘15

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan