Beragam Pendapat Ulama Soal Cadar

Perempuan bercadar. Foto: Tempo.

Dari berbagai pendapat, tidak ada satupun ulama yang menghukumkan haram secara absolut.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Bagi seorang muslim, menjaga diri dari perbuatan yang melenceng dari syariat adalah sebuah keharusan. Menjaga diri dari perbuatan maksiat, menghindari fitnah lawan jenis, dan melakukan hal-hal yang dalam Islam disebut sebagai Al-Munkar dapat disebut pula sebagai upaya menjaga muru’ah (wibawa).

Banyak sekali upaya yang dapat dilakukan dalam rangka menjaga diri dari kegiatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Salah satunya adalah dengan mengenakan kopiah bagi lelaki, dan mengenakan penutup wajah (cadar) bagi perempuan.

Setidaknya hal itu sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Qosim Alghozi dalam Syarah Taqrib yang dikarangnya, Fathul Qarib Mujib. Dalam syarah tersebut, Ibnu Qosim mengatakan, bahwa jika seseorang akan terjaga wibawanya jika mengenakan penutup kepala dan penutup badan selain aurat.

“Tidaklah diterima persaksian orang yang tidak memiliki wibawa, seperti orang yang berjalan di pasar dengan tanpa tutup kepala, atau tanpa menutupi badan selain aurat. Karena hal itu tidaklah pantas baginya,” seperti tertulis dalam syarah langganan kaum pesantren itu.

Belum siap

Namun sayang, sepertinya masyarakat Indonesia, terkhusus masyarakat UIN Sunan Kalijaga, hanya mampu menerima sosok lelaki berkopiah ketimbang perempuan bercadar.

Buktinya, belum lama ini rektorat UIN Sunan Kalijaga sedikit ‘mengusik’ keberadaan cadar di lingkungan kampusnya.

Melalui surat edaran pembinaan dan pendataan mahasiswi bercadar yang diterbitkan belum lama ini, sang rektor melalui wakilnya, Waryono, berdalih bahwa upaya tersebut ditempuh dalam rangka mengontrol masuknya aliran radikalisme ke lingkungan kampus.

Pendapat empat madzhab

Rektorat UIN Sunan Kalijaga sepertinya belum mengetahui, bahwa hukum mengenakan penutup wajah masih menjadi perdebatan beberapa ulama fiqh. Bahkan, beberapa ulama dari rumpun madzhab ahlussunnah juga tidak memiliki persamaan pendapat.

Salah satunya Muhammad ‘Alaa-uddin. Ulama Hanafiah itu mengatakan dalam Ad Darr Al Muntaqa, bahwa menutup wajah bagi perempuan adalah wajib jika berpotensi menimbulkan fitnah terhadap lawan jenis.

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki,” katanya.

Ulama Hanafiah yang lain, Al Hashkafi, mengatakan, jika seandainya tidak berpotensi menimbulkan syahwat, maka hukumnya mubah hingga dianjurkan.

“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan,” katanya dalam Ad Darr Mukhtar.

Lain dengan Hanafiah, ulama-ulama madzhab Malikiah lebih ‘keras’ lagi. Rentang hukum bercadar bagi Malikiah adalah dari Sunnah hingga Wajib.

Ibnu Al Arabi adalah salah satu ulama Maliki yang paling tersohor. Menurutnya hukum menutup wajah adalah wajib bagi perempuan. Namun, hukum tersebut akan gugur apabila menghadapi keadaan darurat.

“Perempuan itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan),” katanya dalam Ahkaamul Qur’an.

Lain dengan Al Arabi, Al Qurthubi lebih rasis dan lebih seksis lagi. Menurutnya wajah perempuan sama dengan kecantikan, maka bagi mereka wajib hukumnya menutup wajah.

Menariknya, Al Qurthubi melanjutkan dalam Tafsir Al Qurthubi bahwa perempuan boleh memperlihatkan wajahnya ke hadapan lawan jenis apabila ia sudah tua dan berwajah jelek.

“Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya,” katanya melansir perkataan ulama Maliki lain, Ibnu Juwaiz Mandad.

Madzhab Hanbali kurang lebih sama dengan Maliki dalam menyikapi cadar. Bahkan Imam Ahmad Ibn Hanbal sendiri pun mengatakan demikian. Menurutnya, seluruh tubuh perempuan adalah aurat, bahkan kukunya.

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya,” katanya dinukil dari Zaadul Masiir.

Ulama Hanbali banyak menyepakati bahwa wajah termasuk aurat bagi perempuan di luar melaksanakan shalat. Salah satunya dikatakan oleh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari.

“[…] Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha,” katanya dalam Raudhul Murbi.

Lain lagi dengan Syafi’iyyah. Dalam madzhab yang mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia tersebut, menutupi wajah di hadapan lawan jenis adalah wajib hukumnya selama menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Ibnu Qosim Al Ghozi dalam Syarah Fathul Qarib Mujib mengatakan bahwa menutupi wajah di hadapan lawan jenis adalah keharusan di luar shalat.

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan,” katanya.

Ulama Syafi’iyyah lain lebih fleksibel lagi. Salah satunya Ibnu Qosim Al Abadi. Ia mengatakan bahwa menutup wajah di hadapan lawan jenis bukanlah karena wajah merupakan aurat. Melainkan hal itu dilakukan dalam rangka meng-counter perilaku yang cenderung menimbulkan fitnah.

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah,” katanya dalam Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj.

Pada intinya masih perdebatan

Berbagai pendapat ulama fiqih, terutama yang termasuk dalam keempat madzhab ahlussunnah, jelas terlihat berbeda-beda. Namun ada satu titik persamaan dari ikhtilaf para ulama fiqih di atas. Yakni tidak adanya ulama yang menyatakan haram secara absolut terhadap penggunaan cadar.

Okrisal Eka Putra, Dosen Fiqih Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, mengatakan bahwa pada intinya pendapat ulama terhadap cadar adalah mubah atau boleh.

“Sepakat ulama tentang aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Tentang cadar masih terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mewajibkan, [dan] memubahkan. Tapi, kesimpulanya mubah atau boleh,” katanya (23/02/2018).[]

Reporter: Halida Fitri

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Kampanye Monologis FSH: Parpol Kritik Kinerja KPUM

KPUM dan Parpol saling menyalahkan. Tapi seperti biasa,