Tentang (Perdebatan) Persatuan Demokrasi

Oleh : Ardy Syihab*

“Beberapa waktu belakangan terjadi perdebatan yang bahkan belum tuntas di dalam Front persatuan gerakan perjuangan demokrasi khususnya di Yogyakarta. Terakhir, dalam Komite Bersama Panitia 18 Tahun Rerormasi terjadi perdebatan yang berujung antagonistik karena menimbulkan keluarnya beberapa organisasi dari komite.   

Satu hal yang penting bahwa perdebatan mengenai selebaan bebas mesti dituntaskan agar tidak menimbulkan keterpecahan lagi dalam front perjuangan demokrasi, dan perdebatan yang sama serta berlarut-larut di front-front yang lain. Persatuan kaum progresif pejuang demokrasi adalah mutlak adanya.  

Menurut kami, letak perbedaan substansial yang melatarbelakangi perbedaan perspektif adalah tafsir tentang demokrasi itu sendiri. Untuk itu penulis memberikan gagasan tentang demokrasi sejati yang kita cita-citakan bersama. Dengan kesamaan perspektif dan tafsir ini diharapkan menuntaskan polemik tentang kebebasan propaganda.

Harapan dari tulisan ini bertujuan untuk menjembatani ragam perspektif untuk menyogsong persatuan gerakan pro demokrasi”

Demokrasi Macam Apa yang Kita Perjuangkan

Dalih demokrasi menjadikan pembenar kaum borjuis untuk memeras nilai lebih pada pekerja, dengan penekanan kesamaan hak atas akses ekonomi, yang menjadikanya kaum penindas rakyat. Liberalisme yang menjadi argumetasi dan dasar struktur berfikir kpitalisme berimpikasi pada watak individualitas sebagai pusat. Individualitas ini yang kemudian menjelma menjadi kebebasan tak terbatas individu dalam melakukan eksploitasi, ekspansi, dan akumulai serta menyerap keringat dari kaum pekerja. Buankah ini sistem yang kita tolak? Bukankah ini sistem yang akan kita hancurkan keberadaanya, bukankah ini sistem yang mengakibatkan ribuan persoalan rakyat miskin, rakyat mayoritas yang ditindas oleh sebagian kecil bojuasi yang memeiliki modal dan kekuasaan. Masihkan akan kita perjuangkan demokrasi macam ini? Demokrasi tanpa batas yang justru menindas rakyat ? Demokrasi liberal yang menjadi penopang kapitalisme? Jawabanya tidak.

Founding people bangsa indonesia, sebetulnya sudah memberikan rumusan tentang demokrasi apa yang kita perjuangkan. Dalam mengusir kolonialisme pejuang kala itu sudah membuat rumusan dasar Indonesia merdeka. Pancasila, dasar negara kesatuan republik Indonesia sekaligus cita-cita bersama menuju sosialisme Indonesia telah mengandung prinsip-prinsip demokrasi sejati tersebut, meski akhirnya diselewengkan baik tafsir maupun implementasinya pasca jatuhnya Soekarno. Pancasila ketika diperas menjadi tri sila menjadi sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan. Dalam konteks demokrasi ini mari kita kupas demokrasi seperti apa yang mestiknya kita perjuangkan bersama dalam sosio-demokrasi.

Sosio-demokrasi bermakna demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Demokrasi politik seperti hak menyampaikan pendapat, memilih dan dipilih, berserikat dan berkumpul, dan lain sebagainya memang saat ini belum bisa dirasakan sepenuhnya.  Konsepsi HAM  sebagai representasi dari pelindungan hak individu pun baru sebatas melindungi demokrasi politik, padahal, demokrasi politik tak akan pernah setara karna selalu dideterminasi persoalan ekonomi, dan jelas saat ini bahwa kesenjangan ekonomi masih begitu jauh. Dalam perkembanganya HAM juga merambah ke sisi Ekosob(Ekonomi sosial dan budaya) tapi tetap saja ini belum menjawab karena struktur ekonomi dan corak modus produksi masyarakat yang masih berwatak kapitalistik. Untuk itu perjuangan rakyat dalam memperjuangkan hak-hak ekonomi adalah juga proses pokok dalam perjuangan mewujudkan demokrasi sejati.

Demokrasi ekonomi bermakna kesetaraan dalam kepemilikan, peruntukan produksi, maupun distribusi hasil produksi atau dengan kata lain terwujudnya masyarakat adil dan makmur tanpa penindasan manusia atas manusia. Ketidak setaraan ekonomi ini akan selalu mendeterminasi kebebasan dalam hak-hak politik, merusak ruang-ruang demokratik dan mengobrak abrik HAM. Contoh sederhana dapat dijumpai pada media minestrim hari ini yang masih banyak dikuasai oleh kaum borjuasi dengan orientasi profit, alhasil berita yang muncul tak selalu objektif dan keberpihakan pada kaum tertindas. Atau investasi korporasi yang berkonspirasi dengan pejabat pemerintah yang akhirnya mengeser ruang hidup rakyat miskin. Menggusur rumah, merampas lahan pertanian dan tempat usaha yang hanya diganti dengan hal yang sama sekali tak seimbang nilainya.

Sentralisme Demokrasi  Sebagai Metode Gerak Perjuangan

Lenin, Mao, Soekarno, Caves, Casro, hanyalah tokoh pemimpin dibalik perjuangan rakyat melawan penjajahan, lebih dari itu ada ribuan bahkan jutaan rakyat yang besama-sama berjuang dalam satu wadah dengan cita-cita bersama bernama organisasi. Dari organisasi-organisasi progresif tersebut kemudian membangun satu kekuatan besar berwujud front dalam menuju kepentingan yang sama.  Pertanyaanya kemudian, mekanisme perjuangan macam apa yang harus digunakan untuk mencapai cita-cita besar masyarakat adil dan makmur ? Jawabanya adalah sentralisme demokrasi atau sering disebut demokrasi terpimpin.

Perjuangan tanpa kepemimpin serta perumusan permasalahan pokok sama saja dengan anarkisme dan penghambaan pada egosentrisme. Karena terdapat ribuan masalah dalam kehidupan masyarakat dan oleh karena itu cara paling efektif untuk menyelesaikanya adalah mecabut akar permasalahanya, bukan untuk mengesampinkan masalah riel di lapangan, tapi untuk menghentikan masalah-masalah serupa secara sistematis lewat perubahan besar membongkar dan mengganti sistem ketidak adilan ini.

Egosentrisme dan sektarianisme adalah hal mutlak yang harus terlebih dulu di kesampingkan untuk merebut demokrasi sejati. Tak akan ada perdebatan yang final ketika harus menyimpulkan golongan rakyat tertindas mana yang terlebih dahulu harus diprioritaskan dan diperjuangkan terlebih dahulu, karena jawabanya adalah tak ada yang lebih prioritas dan tak ada yang lebih dulu. Semua rakuat yang tertindas secara bersama-sama bergotong royong dan bersatu untuk mewujudkan demokrasi sejati.

Perjuangan Kelompok yang Mendapat Ketertindasan Ganda

Kita ketahui bersama mayoritas masyarakat hari ini tertindas oleh sistem kapitalisme, namun kita juga pahami  bahwa ada kaum yang mendapatkan ketertindasan ganda. Semisal kaum perempuan yang juga masih hidup dalam masyarakat patriarki hari ini, kaum LGBT yang masih mendapat persepsi negatif sehingga seringkali masih dipinggirkan, dan banyak contoh yang lain. Ketertindasan ganda oleh sistem kapitalisme yang menjepit serta dikriminasi dalam masyarakat.

Lantas apa yang mesti dilakukan ?

Langgengnya penindasan tentu tak hanya berbicara mengenai seberapa kuat hegemoni kaum borjuis penindas rakyat, namun juga karna ketidakbersatuanya kaum tertindas, kaum pejuang demokrasi. Demokrasi sejati mesti diwujudkan secara bersama-sama, memperjuangkan demokrasi sejati adalah juga bagian dari memperjuangkan seluruh kaum tertindas termasuk yang mendapatkan represi dan pembredelan ruang-ruang demokrasi. Kaum yang medapat penindasan ganda mesti juga bersatu untuk mewujudkan keadilan secara bersama-sama. Persatuan kaum tertindas adalah prasyarat perjuangan demokrasi sejati.

Esensi Front (Persatuan)

Apa yang membedakan kita? Sesama pejuang demokrasi yang bersatu dalam front? Tentu saja banyak. Mulai dari yang berbeda dasar idiologis, perbedaan  strategi taktik perjuangan, berbeda rijit tujuan akhir, sampai berbeda bentuk organisasi dan metode perjuangan. Lantas, apa yang menyatukan kita? Tentu saja isu. Dalam politik basis kesamaan pandangan dalam front adalah isu. Dalam suatu isu satu organisasi bias bergabung, namun di isu yang lain organisasi tersebut bias saja tak sepakat. Jika demokrasi yang kita junjung tinggi, bukankah hal tersebut yang harus kita hargai?

Dalam isu demokrasi semisal, sering terjadi perselisihan pendapat, namun masih bisa dijembatani lewat pendiskusian dan perdebatan dalam forum konsolidasi.  Namun beberapa kali juga muncul perdebatan antagonis hingga menimbulkan keretakan front demokrasi. Hal mendasar yang melatarbelakanginya adalah tafsir tentang demokrasi itu sendiri.

Namun haruskah sekali lagi kita menyempitkan perjuangan kita? Disaat rakyat masih terjepit hak-haknya, rakyat menjerit meminta pembelaan atas penindasan sistem kapitalisme? Tentu tidak. Mari hentikan keterpecahan front karna tafsir mimpi, hilangkan egosentrisme untuk perjuangan menjuju demokrasi sejati !

*Komponen Pejuang Demokrasi

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan