Siang itu matahari sedang terik-teriknya. Tak hentinya aku mengibas-ngibaskan tanganku menghalau panas yang benar-benar menyengat sekujur tubuhku. Padahal, saat itu aku sudah berteduh di bawah atap mesin ATM samping masjid tempatku menunggu bus yang akan membawaku ke kota perantauan, Yogyakarta.

Sambil lalu menunggu kedatangan bus, aku memerhatikan beberapa tukang kuli bangunan yang sedang berteduh di bawah terpal yang dibentuk sedemikian rupa agar melindungi mereka dari sengatan matahari. Beberapa dari mereka ada yang sedang mengobrol, ada yang memerhatikan kendaraan yang lewat, ada pula yang sedang melamun. Di belakang mereka terdapat proyek bangunan yang mungkin sedang mereka kerjakan.

Melihat aku yang sedang memperhatikan mereka, ibuku yang saat itu sedang menemaniku bercerita tentang tukang-tukang tersebut. Beliau berkata, para tukang itu bukan sedang beristirahat, tapi sedang menunggu truk-truk yang membawa bahan bangunan. Ketika ada truk yang lewat mereka akan melambaikan tangan, isyarat bahwa mereka menawarkan jasa kepada supir untuk mengeluarkan bahan bangunan tersebut dari truk di tempat tujuan.

Aku terhenyak, tukang bangunan yang aku pikir sedang beristirahat di tengah pekerjaan mereka, ternyata sedang menggantungkan harapannya kepada truk-truk yang lewat. Tidak ada sedikitpun kepastian.

Sejurus kemudian, tibalah truk pasir yang lewat, mereka melambaikan tangan, tapi diacuhkan oleh supir truk yang sedang nikmat menghambuskan asap rokok dari mulutnya. Masih sambil menunggu bus, aku terus memerhatikan mereka. Berkali-kali mereka melambaikan tangan, berkali-kali juga mereka mendapat penolakan. Hingga busku datang, mereka belum juga menyerah menawarkan jasa ketidak-pastian.

 

Sukabumi, 6 Agustus 2017

 

Fotografer: Nadia Nur Hasanah

Editor: Dyah Retno Utami

You may also like

Gaung Penolakan IMF-WB Sampai Yogyakarta

lpmrhetor.com – Gemuruh suara penolakan gelaran Annual Meeting