Ilustrasi by : https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/9d/7c/1a/9d7c1aab7c9d649a916781f435db673b.jpg

“Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.”

Pramoedya Ananta Toer-

Berangkat dari tulisan kawan Aris Lukmana Putra di lpmrhetor.com dengan judul “Degradasi Orientasi Gerakan Mahasiswa“,  yang telah memaparkan cukup jelas dan gamblang. Bahwasanya, mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change maupun agent of control, telah berbalik dari arah koridor tersebut. Histori sejarah yang telah meletakkan mahasiswa atas perubahan zaman ini yaitu mereka angkatan-angkatan dahulu, hanya menjadi simbol semata. Apakah mahasiswa yang dibilang sebagai aktor perubahan hanya selesai di mitos?

(Baca juga: Degradasi Orientasi Gerakan Mahasiswa)

Pernah suatu kali saya menulis sebuah opini di media online tubanjogja.org, di mana kemudian mendapat sebuah kritik di laman facebook saya dari seseorang yang tak perlu disebutkan namanya, seperti ini:

  1. Jangan menganggap mahasiswa itu segalanya dengan sejarahnya. Banyak mitosnya. Mau hidup dengan mitos?
  2. Jangan anggap masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan itu tidak memiliki kesadaran intelektual. Di berbagai tempat sudah banyak masyarakat yang mengorganisir dirinya sendiri. Bahkan lebih cerdas dan lebih baik dari mahasiswa.
  3. Segala bentuk generalisasi kadang menentukan kadar kualitas pengetahuan seseorang. Lingkungan penjahat bukan berarti tak ada malaikat, dan sebaliknya.

(Baca di tubanjogja.org: Duh, KIU: Kesadaran Itu dari Mana?)

Sejarah tinggallah sejarah. Bukan berarti kita harus meninggalkan sejarah. Sangat tidak benar jika itu yang dilakukan. Soekarno pernah mengatakan dalam orasinya, Jas Merah  (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Sejarah bisa dijadikan tumpuan bercermin untuk menuju masa depan yang cemerlang. Sering pula saya mendengar kawan-kawan mengatakan, hanya ada dua pilihan; mengulangi sejarah atau mencetak sejarah baru.

Hidup manusia tidak bisa lepas dari sejarah terbentuknya peradaban dunia ini. Dan manusia dengan para generasinya lah yang akan mencetak sejarah-sejarah baru, atau malah menghancurkan peradaban hidup dengan membangun sejarah yang kacau balau.

Kembali lagi pada pembahasan awal, mahasiswa. Pengertian mahasiswa menurut KBBI, yaitu seseorang yang menuntut ilmu perguruan tinggi. Di dalam dunia pendidikan, status mahasiswa adalah status tertinggi seorang murid.

Betapa status mahasiswa itu diagung-agungkan dalam dunia pendidikan. Jadi, tak ayal jika banyak terutama orang awan, ketika membahas kaum yang dianggap berintelektual, mengarahnya pada mahasiswa. Dengan itu, seseorang yang menyandang predikat mahasiswa mempunyai beban ganda, baik secara intelektual maupun secara moral.

Nah, di sini yang disebut, terkadang apa yang nampak oleh mata tidak sesuai dengan realita. Dilema, pasti iya. Bagus, ketika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agen perubahan itu memilki kesadaran—kesadaran kritis—jika tidak, nah ini yang dibilang idealita tak sesuai dengan realita.

Bahasanya kawan Lukman, mimpi buruk (duh). Di mana kehadiran mahasiswa selama ini? Ketika banyak persolan sosial, belum ada yang mampu terentaskan. Bukankah, mahasiswa itu juga punya penawar dari idealita yang dimilikinya? Yess, katakanlah organisasi. Organisasi yang dijadikan sebagai wadah untuk mengorganisir masanya serta mengorganisasikannya menuju  fase kesadaran.

Seharusnya, sebelum organisasi-organisasi—yang dibilang kawan Lukman itu—berekspektasi jauh sampai pada ranah politik praktis (di dunia kampus), selesaikanlah dulu persoalan internal yang ada. Sudahkah massa yang tergabung dalam barisan itu terorganisir? Berwacana dan berperspektif dalam satu koridor? Sudah selesaikah menentukan strategi arah pergerakan?

Bagaimana mau populis di tengah-tengah mahasiswa, jika gerakan secara mikro (internal) masih kocar-kacir? Setiap perjuangan terutama sebuah organisasi pergerakan, pasti memiliki senjata dan tak bisa dipungkiri bahwa itu menjadi sebuah kebutuhan. Senjata itu perlu dan harus diasah agar semakin tajam. Bagimana mempertajamnya? Dengan  kembali ke kandang masing-masing dahulu. Perkuat wacana, perkuat gerakan, perkuat perspektif menuju arah gerakan yang nantinya membumi pada ranah kehidupan sosial, terutama hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia).

Jika senjata yang dimilikinya tak pernah diasah, otomatis tumpullah ia. Dan ketika senjata itu hendak dibawa, bisa jadi senjata itu berbalik arah menyerang si pembawa. Sebab apa? Yang membawa saja belum paham betul dan tidak bisa mempergunakannya. Sia-sia saja akhirnya. Why? Senjata yang digandrunginya itu, bukan malah mengentaskan dan menyelamatkan kemaslahatan bersama, si pembawanya saja tertikam sendiri. Oh my God.

Agar idealita yang sudah dicita-citakan oleh founding father dahulu, tak dikhianati dengan emosional semata. Hendaknya, jika rasio masih bisa diajak untuk berkompromi dengan nurani, kenapa harus dibelokkan? Bagaimana mau mencita-citakan gagasan yang setinggi langit, jika yang dilakukan sudah cacat sejak dalam pikiran.

Kawan Lukman di situ menyinggung terkait Pemilwa dan OPAK, kalau mengutip bahasanya Pram: “Yang sudah tidak adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan kelak.”

Saya sepakat dengan Lukman, bahwa pemahaman tentang relevansi demokrasi menjadi semakin rumit. Padahal mereka—yang mengaku sebagai kaum intelektual sekaligus pergerakan, yang sering meneriakkan kehidupan demokratis—malah mencacati jalannya demokrasi tersebut.

Mempertegas perkataan dalam tulisannya Lukman, agar mampu kita jadikan renungan dan perbaikan di hari esok. “Dengan itu, sebagai kaum organisatoris seharusnya mampu menjadi sebuah senjata penghancur bagi sistem yang menghancurkan demokrasi sehancur-hancurnya. Dan, persaingan dalam ranah politik kampus dapat dilaksakan dengan demokratis, jujur, dan transparan.”

 

 

De KanDhang, 16 Mei 2017.

 

*Penulis aktif sebagai wartawan lpmrhetor.com dan saat ini menjabat pula sebagai staf Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM Rhetor.

You may also like

Santri dan Perjuangan Menolak Mahalnya Biaya Pendidikan

Oleh : Ahmad Hedar Berperang menolak dan melawan