Rektor Sulit Ditemui, Mahasiswa Dibohongi

Selasa (19/9) malam massa aksi bersitegang dengan pihak kepolisian di area kampus UP 45. Massa aksi kecewa dengan sikap Rektor yang enggan ditemui sehingga harus menghadang mobil polisi yang membawa pergi sang Rektor. (Dok.Rhetor/Nizar)

lpmrhetor.com, Yogya –  Senin (18/9) puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi gerakan yang tergabung dalam Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi (UP) 45 Yogyakarta, melakukan aksi menuntut Rektor untuk mencabut surat pemberhentian terhadap 22 mahasiswa. Aksi diawali dengan melakukan long march dari depan kampus STTNAS menuju kampus UP 45.

Sampai di depan kampus, massa aksi dan pihak keamanan justru terlibat negoisasi alot terkait izin untuk dapat masuk dan menemui pihak birokrasi kampus. Meskipun telah mencapai kesepakatan, bahwa massa aksi diperkenankan mamasuki area kampus dan akan pertemukan dengan pihak pimpinan. Namun ketika perwakilan massa aksi mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pihak birokrasi kampus, mereka harus menelan kekecewaan ketika hanya dipertemukan dengan pihak pimpinan keamanan bukan dari pihak birokrasi (Rektor) seperti yang diharapkan.

Geram merasa dibohongi massa aksi pun menutup ruang rektorat UP 45, dan mendirikan posko Aliansi Solidaritas Mahasiswa Proklamasi di depan Gedung A UP 45.

“Kami melakukan aksi, menindaklanjuti aksi yang kemarin, yaitu cabut Drop Out, itu aja,” ungkap M. Junaidi Koordinator Umum (Kordum) Aliansi Mahasiswa Proklamasi.

Posko yang bertahan pada Selasa (19/9) tidak menyulutkan semangat massa aksi. Harapannya untuk dapat bertemu dengan Rektor UP 45 guna melakukan audiensi, setidaknya hingga tuntutan mereka terealisasikan.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Wakil Kepala Kepolosian Daerah DIY (WAKA POLDA DIY) mendatangi Koordinator Lapangan (Kordlap), meminta agar massa aksi membuka segel rektorat. Namun permintaan tersebut tidak diindahkan, karena hingga hari kedua, Bambang Irjanto (Rektor UP 45) enggan menemui massa aksi.

“Seperti yang tertulis dalam pers rilis bahwa massa aksi meminta WAKA POLDA DIY untuk membujuk rektor agar mau menemui massa aksi dan segel rektorat akan dibuka. Tapi nyatanya hingga saat ini rektor tidak menemui mahasiswa,” jelas Takiuddin juru bicara Aliansi Mahasiswa Proklamasi ketika melakukan konfrensi pers.

Ketika menjelang sore, Rektor UP 45 terlihat mendatangi kampus, namun bukan untuk menemui mahasiswa. Tak lama setelah itu Rektor UP 45 bergegas meninggalkan kampus dengan menggunakan mobil polisi. Massa aksi yang kecewa dengan perlakuan tersebut lantas menghadang mobil polisi yang membawa Bambang Irjanto.

Selang beberapa saat kemudian, datang puluhan aparat kepolisian mengusir mahasiswa yang menghadang mobil polisi dan membubarkan aksi secara paksa. Disaat yang bersamaan terjadi pemukulan oleh aparat kepolisian kepada beberapa massa aksi, hingga mengakibatkan cidera.

“Kami dibubarkan paksa bahkan mobil pilisi itu menbrak kami,” Ujar budi salah satu massa aksi yang terkena DO.

Reporter : M. Nizarullah

Editor : Dyah Retno Utami

You may also like

Permenristekdikti No. 55/2018, Organ Ekstra Jadi UKM Pengawal Ideologi?

Permenristekdikti No. 55/2018 menyerukan agar organ ekstra kembali