“Lemahmu Udu Duwekmu”, Agraria dan Gugatan Rakyat Yogyakarta

RHETOR ONLINE, Yogyakarta – Solidaritas Jogja Darurat Agraria (JDA) mengadakan diskusi dan pemutaran film ‘Lemahmu Udu Duwekmu’ untuk umum pada Selasa, (20/9). Bertempat di aula Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, diskusi yang mengundang semua elemen masyarakat ini membahas secara khusus masalah agraria yang ada di Yogyakarta.

Warga yang terdampak pun ikut menjadi pembicara dalam kesempatan diskusi itu. Berbagai pemaparan disampaikan oleh setiap perwakilan warga yang daerahnya terdampak rencana perampasan lahan.

Salah satu dari warga yang menjadi pembicara adalah Kawit, warga Parangkusumo. Dia menyampaikan bahwa, pemerintah DIY telah bertindak sewenang-wenang dalam melakukan rencana penggusuran dengan dalih restorasi gumuk pasirnya pemukiman warga yang ada di daerah gumuk pasir pantai Parangkusumo.

“Dan juga rupanya pemerintah dalam rencana restorasi gumuk pasir ini telah bekerjasama dengan para akademisi UGM, nah kami sampaikan kepada para doktor dan akademisi UGM agar bertanggungjawab atas semua yang dialami oleh warga parangkususmo ini.” tutur ibu Kawit.

Paramita Iswari dari Lingkar Pembaruan Desa dan Agraria (KARSA), ikut pula membicarakan mengenai catatan awal atas semua permasalah agraria yang ada di DIY ini. “Masalah agraria yang terjadi di DIY ini selalu berbenturan pada Undang-undang nomor 13 tahun 2012 tentang keistimewaan DIY.” kata Paramita di awal penyampaiannya.

Menurutnya, Kewenangan Kasultanan dan kadipaten Yogyakarta ini, perlu dipertanyakan. “Apakah kewenangan yang dimiliki oleh mereka (kasultanan dan kadipaten) adalah kewenangan publik? Ataukah kewenangan privat?” tegas Paramita.

Sampai saat ini telah marak terjadi rencana perampasan tanah dan hak-hak warga di beberapa daerah di DIY. Seperti Parangkusumo, Watu Kodok Gunungkidul, Kulonprogo, Pakubangsa, dan lain-lain. Ini yang menggerakkan beberapa aktivis menginisiasi dibentuknya solidaritas JDA guna mengawal isu agraria yang marak terjadi di DIY ini. []

REPORTER: Ikhlas Alfarisi

You may also like

Menuntut UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

UGM dituntut menangani kasus Agni secara serius dan