Menjaga Selokan Dengan Budidaya Ikan

Keramba atau wadah untuk membudidayakan ikan dipasang melintas sepanjang sungai. Dok: Rhetor/Fahri Hilmi

lpmrhetor.com – Partisipasi untuk menjaga bumi agar tetap asri tentunya menjadi kewajiban setiap penghuninya. Inisiatif dan kepekaan terhadap lingkungan sangat memengaruhi bagaimana keadaan bumi saat ini. Salah satu bagian terpenting dari ekosistem bumi adalah sungai.

Besar atau kecil, sungai tetap menjadi sumber penting untuk menunjang kebutuhan makhluk hidup, khususnya manusia.

Setiap daerah tentu memiliki sungai dan saluran air, begitu juga dengan Yogyakarta yang memiliki lebih dari 15 kali (sungai) besar.

Pembangunan dan kemajuan industri yang terus saja terjadi di daerah “ISTIMEWA” ini telah membawa konsekuensi terhadap bumi sendiri: sungai menjadi kotor.

Degradasi alam dan lingkungan telah memengaruhi kualitas hidup masyarakat kota. Pengalihan lahan untuk dijadikan bangunan padat penduduk membuat masyarakat dan pemerintah harus memikirkan resapan air dan tempat pembuangan air limbah yang teratur. “Selokan” begitu sebutannya, yang masih belum mendapat perhatian serius.

Dwi Indrawati dalam jurnalnya yang bejudul Upaya Pengendalian Pencemaran Sungai yang diakibatkan oleh Sampah mengatakan bahwa timbunan sampah dari hari ke hari cenderung meningkat dan bervariasi, sehingga sampah acapkali menjadi masalah karena pengelolaannya yang belum baik.

Pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang masih keliru terhadap sampah juga telah menimbulkan permasalahan sosial, lingkungan, dan kesehatan.

Berkaitan dengan semua hal buruk yang telah terkonstruksi dalam pikiran mengenai sungai, atau mungkin “selokan”, warga Ngentak Sapen, Papringan, Yogyakarta mempunyai caranya sendiri untuk mengatasi permasalahan ini. Yaitu dengan menggalakkan budidaya ikan.

Warga berbondong-bondong membangun sebuah komunitas bernama Mina Sejahtera, yang menurut Mukhlis, salah seorang warga, Mina berarti ikan.

Orientasinya adalah menjaga kebersihan sungai, sekaligus memberdayakan masyarakat dengan merawat dan membudidayakan ikan dalam keramba-keramba yang sengaja dibuat di selokan yang ada di lingkungan sekitarnya.

“Dengan begitu masyarakat jadi rajin membersihkan sungai. Karena jika tidak, maka ikan-ikannya mati,” kata Mukhlis pada Kamis (9/8/2018).

Keramba-keramba sederhana itu dibuat dari kayu dan jaring-jaring yang dipasang di sebagian mulut selokan. Kemudian di dalamnya diisi ikan-ikan yang dibudidayakan oleh warga. Isinya beragam, ada nila, lele, mas, dsb.

Keramba-keramba tersebut tentunya tidak menghambat arus aliran selokan. Karena selain ukurannya yang tidak begitu besar, juga warga selalu menjaga kelancaran aliran selokan tersebut setiap hari dengan mengangkat sampah-sampah yang mengalir dari hulu dengan menggunakan jaring.

Setiap harinya warga juga berkumpul di sekitar selokan untuk menjaga ikan-ikan dan aliran selokan, sembari meminum kopi dan merokok bersama. Beberapa bahkan menggelar tikar dan makan bersama persis seperti sedang pelesir di pinggir pantai.

Ketua Paguyuban Mina Sejahtera, Bibit Santoso, juga menuturkan hal sama. Ia mengatakan bahwa kegiatan yang diikuti oleh 45 anggota ini sebagai bentuk pemberdayaan warga, dan telah berjalan 4 bulan. Selain untuk meningkatkan perekonomian warga, hal tersebut juga berguna untuk menjaga kebersihan sungai.

“Memang harus bersih-bersih setiap hari. Sampah diangkat nanti ditaruh di situ (menunjuk pinggir jalan) lalu dibakar. Kita menjaga kebersihan dan kelancaran air, yang jelas tidak merugikan persawahan juga,” katanya saat ditemui di sekitar karamba (9/8/2018).

Beberapa warga juga menuturkan, bahwa selokan di Ngentak Sapen selalu kotor saat sebelum ada program swadaya ini. Baunya tak sedap, salurannya sering tersumbat, dan ilalang-ilalang liar yang sering menghinggapi dinding-dinding rumah warga.

Salah satunya Sakir, pemilik keramba. Sakir mengaku bersyukur setelah keramba-keramba memenuhi selokan di Ngentak. Katanya selokan menjadi bersih dan terawat karena warga terpaksa harus membersihkan selokan agar ikan-ikannya juga terawat.

“Kemarin di sini ditumbuhi dengan ilalang. Dulu sebelum ada keramba enggak ada yang bersihin, kan enggak ada yang mau. Semenjak ada keramba kan jadi terjaga kebersihannya,” katanya (9/8/2018).[]

Reporter: Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Ramai-Ramai Hilangkan Pertanian

Bercocok tanam sudah dianggap primitif. Mesin dan industrialisasi