Tentang Perempuan, Kamar dan Tanaman

Oleh : Arjuneda Semesta

Di kamar 2 kali 3 meter miliknya. Ilana menghabisi dinding kamarnya dengan spidol warna merah. Ia mencoreti sekujur tubuh dinding, dalam pikiran Ilana, tak boleh ada tersisa ruang warna selain warna merah walau hanya semili.

“Kenapa tak kau cat saja sekujur tubuh ku?”

Ilana sontak terkejut, kakinya mundur beberapa langkah, sekarang ia berada tepat di tengah kamar, di atas kepala Ilana menggantung lampu neon 20 watt yang menyala buat ruang itu panas.

Dinding yang sedari tadi Ia corat dan coret tiba – tiba saja protes.

“Harusnya aku tetap kau biarkan berkulit putih bukan merah. Aku, kan, sedang tidak malu atau marah.” Kata dinding pada Ilana.

“Aku tidak mampu membeli cat.” Jawab Ilana masih setengah terkejut. Mungkin juga ia merasa takut. Tetapi, seantero kamar tahu bahwa di dalam kamar itu tak ada yang lebih pemberani selain Ilana. Tidak lemari, tidak buku, tidak kasur, guling, bantal, tidak ! Semuanya kalah berani dibanding Ilana.

Pernah suatu malam hujan mengguyur bumi sangat deras bantal menangis, kasur meringsut ketakutan, lemari ciut sembunyi pada sudut kamar, mereka semua ketakutan, hanya Ilana. Hanya dia yang tetap berdiri di tengah kamar melempar tatap kedua bola matanya keluar jendela, petir dan kilat saling sahut di luar. Tanpa berkedip Ilana tetap kokoh menunggui hujan, petir, dan kilat hingga mereka bosan menakut – nakuti lalu akhirnya mengaku kalah pada Ilana.

“Kenapa aku masih terkejut mendapati dinding berbicara, kasur merengut, bantal cemberut, lemari – lemari – lemari… ? Aku lupa apa yang kerap dilakukan lemari selain menelan seluruh benang yang biasa membaluti tubuh ku, entahlah.” Gerutu Ilana sembari menutupi ujung spidol merah dengan penutup spidol berwarna merah itu. Ia melihat sekujur jarinya yang belepotan serupa anak kecil usai ikut lomba mewarnai di hari proklamasi.

“Aku bosan melihat mu berkulit putih.”

Ilana membenahi rambut sebahunya, meletakkan tangan di pinggang, memutar tubuhnya memerhatikan dinding yang kedal dan saat itu sudah merah oleh tangannya.

Aku tidak pernah benar – benar paham bagaimana isi kepala manusia itu. Mereka di isi atau sudah terisi atau juga telah terisi dan perlu di isi lagi ?

….

Kata seorang teman,yang juga perempuan, padaku,

“Jangan mau di doktrin oleh sesiapapun, paling tidak itu yang di katakan si A dalam bukunya yang berjudul ‘Hidup dalam Kebebasan.”

Aku diam.

“Kau harus mampu mengonsep pikiran mu sendiri.” Tambah teman ku itu.

Rasanya mewarnai kamar itu penting sekali. Perempuan apalagi. Terserah! Mau di beri warna apa, mejikuhibiniu, misalnya.

Kata ibu suatu hari, “Ibu merawat kamar ibu waktu muda serupa bercocok tanam, mesti sabar, runtut, memetik buahnya yang bagus, memilah biji yang cocok untuk dijadikan sebagai bibit, memilah tanah yang kaya akan kandungan humus, menjemur biji, menanamnya, menyiram, memupuki. Suatu hari ibu berhasil memetik buahnya, tapi jangan terburu Ilana, jangan terburu! Segala tumbuhan dibicarakan mulai dari akar sampai pucuk paling pucuk, maka disimpulkan.”

Aku manggut-manggut saja saat itu. Entahlah, aku ingin mewawancarai tanaman sayur tauge.

Saat ini aku baru bertanya, “apa hubungannya bu?” batin ku.
Kamar dibangun di atas tanah yang telah diukur. Dinding dari bata atau triplek. Lantai dari semen, ubin, kardus atau membiarkannya tetap tanah. Memilih atap, memilih warna, kemudian diisi dengan apa? Ah, apakah itu sama dengan menanam tanaman?

Entahlah, terserah ibu saja.

“Kau bagaiama?”

Aku tidak tahu, aku tak begitu paham belajar logika! Jadi, aku merawat kamar serupa menanam pohon dan aku bersumpah tidak akan berpuas diri tentang bagaimana kamar yang diberikan padaku. Tentang tumbuhan apa yang dihadiahkan padaku.

Kau bagaimana? Terserah padamu!

Setelah mewarnai kamarnya Ilana bergegas pergi mandi. Ia harus bergegas menyiram tanaman warisan ayah dan ibunya. Tanaman yang selalu ia bawa kemana – mana.

Ia juga merasa perlu membuat kamar lain sebagai bentuk menyempurnakan kamar yang telah diberikan padanya.

Ilana juga sudah mulai menanam tumbuhan. Ia memlilih kaktus, di negeri yang tidak gersang ini. Menanam kaktus untuk seorang perempuan sangat perlu. Berduri, selain itu kaktus dapat menahan dahaga akan air.

Ilana merasa bahwa tak ada yang lebih penting dari merawat kamar atau menaman dan merawat tanaman saat usia semuda ini.

Yogyakarta, November 2018

Penulis adalah Mahasiswa UIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Fakultas dakwah dan komunikasi 2018.

You may also like

Sepertiga Malam

Oleh: Naspadina Malam bercerita Pada gelap dan pekat