Krisis Ekonomi dalam Sebuah Keluarga, Tergambar Lewat Pentas “Jam Dinding Yang Berdetak”

605
dok/oliv/lpmrhetor

lpmrhetor.com- Krisis moneter dan situasi politik global kerap digambarkan pada sesuatu yang kompleks dan rumit. Teater Eska pada Studi Pentas ke XXIII-nya dengan judul “Jam Dinding Yang Berdetak” membawa pemirsa untuk memahaminya dengan sesuatu yang intim dan sederhana. Yaitu bagaimana sebuah keluarga mengalami dampak dari krisis tersebut. Pentas ini tayang pada pada 16 Maret 2023 di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Khuluq, selaku sutradara mengatakan bahwa pentas ini mengangkat naskah drama karya Nano Riantiarno yang ditulis pada tahun 1973. Meski demikian, pengadaptasiannya juga disesuaikan dengan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998.

“Sebenarnya ditulis pada tahun 73 tapi kita mencoba mengadaptasikannya ke tahun 98. Dari naskah aslinya yang ditulis tahun 1973 ada yang disesuaikan, maka kita tidak mengadaptasinya secara penuh,” ujarnya saat diwawancarai usai pentas.

Pertunjukan ini menceritakan keluarga Pattiwael yang harus menjalani masa-masa kritis ketika krisis moneter melanda. Thomas sang ayah yang terkena PHK dari pekerjaannya. Istrinya, Marrie harus membanting tulang dengan menjadi buruh cuci. Sementara Magda, putri Thomas harus putus kuliah karena terkendala biaya dan Benny dikeluarkan dari kampusnya sebab beradu pendapat dengan dosen mengenai lukisan. 

Penggambaran tersebut membuat keharmonisan keluarga menjadi keruh. Karena harus menghadapi masalah keluarga yang bertubi-tubi, Merrie mengalami gejolak psikologi. Hal itu juga dipengaruhi pikirannya yang selalu memikirkan masa depan. Sementara Thomas menghalalkan segala cara agar bisa menghasilkan uang demi melanjutkan hidup.

Pementasan ini juga diwarnai oleh tingkah seorang nenek yang suka menggunjing. Khuluq mengatakan karakter tersebut adalah gambaran dari orang luar yang tidak tahu banyak masalah keluarga tapi malah berbicara seolah-olah paham segalanya. perangainya itu sering memperkeruh kondisi persoalan yang sedang keluarga Pattiwael alami.

“Sedangkan peran nenek yang suka menggunjing, menggambarkan orang luar yang ga tau apa-apa terkait persoalan intim kita tapi suka merecokinya,” tuturnya.

Melihat dari judul pentasnya, jam dinding yang dimaksud adalah mahar saat pernikahan Thomas dan Marrie. Meski mengalami masa-masa sulit, kehidupan harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka tetap berusaha untuk mempertahankan hubungan keluarga sampai selesai. Hal ini sejalan dengan Jam dinding yang bagaimana pun senantiasa berdetak.

“Setiap anggota keluarga Pattiwael punya masalah masing-masing namun mereka harus tetap berusaha mempertahankan hubungan sampai selesai,” pungkas Amalia Aida, pemeran Marrie Pattiwael. []

Reporter : Alifia Maharani

Editor : Muhammad Rizki Yusrial

You may also like

Berjualan di Teras Malioboro 2; Bentuk Kekecewaan PKL Malioboro Atas Ketidakjelasan Komitmen Politik DPRD DIY

lpmrhetor.com- PKL Malioboro melakukan aksi dengan berjualan di