Toilet Perempuan dan Laki-Laki Digabung di FEBI

Mahasiswi FEBI harus rela berbagi bilik toilet dengan laki-laki (23/11). Dok. Rhetor/Fahmi

lpmrhetor.com, UIN – Mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta harus rela berbagi bilik toilet dengan laki-laki. Hal ini banyak membuat resah, karena di dalamnya para mahasiswi biasa memperbaiki jilbab, berdandan, dan melakukan berbagai macam hal. Tetapi, karena digabung, mereka menjadi tidak nyaman ketika ingin melakukan hal-hal demikian. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Aulia Lestari, salah satu mahasiswi FEBI.

“Kamar mandi itu seharusnya nyaman bagi penggunanya. Sekarang toilet FEBI ini karena digabung menjadi sangat tidak nyaman. Misalnya mau memperbaiki jilbab, tiba-tiba cowok masuk, jadi kan tidak nyaman,” katanya kepada lpmrhetor.com (23/11).

Selain Lesatari, mahasiswi lain juga mengatakan hal yang sama. salah satunya Eris Risnawati. Eris mengeluh karena selalu merasa terganggu saat ingin memperbaiki jilbabnya di toilet.

“Cewek kan biasanya ribet, jadi ketika lagi benerin jilbab, pintunya itu kan gak ketutup. Nah, tiba-tiba ada yang mau masuk, itu mengganggu,” katanya.

Tidak hanya para mahasiswi yang merasakan demikian, ternyata kaum Adam pun merasakan hal yang sama. Salah satunya Munawar Maskurian.

“Walaupun itu di dalamnya sudah dibagi. [Tapi,] ketika laki-laki masuk kesana, otomatis perempuan takut masuk kesana, begitu juga sebaliknya,” kata mahasiswa FEBI itu.

Sedangkan, Slamet Khilmi, salah seorang dosen FEBI mengatakan, bahwa penggabungan toilet tersebut disebabkan karena proyek yang tak kunjung selesai. Slamet juga membeberkan beberapa ruangan lain yang belum difungsikan sebagaimana mestinya.

“Ini sih pembangunannya masih belum terlalu jelas. Bukan soal WC saja, lantai lima misalnya, itu tidak dibangun apa-apa [dan] masih nganggur. Ini pun ruang dosen di lantai dua sebenarnya ruang kelas buat mahasiswa. Kita kan belum boleh ngapa-ngapain sebelum satu tahun, karena ini kan masih urusan proyek, [dan] ini masih dalam proses pengawasan. Nunggu anggarannya, paling pertengahan tahun 2018,” katanya.[]

 

Reporter Magang: Fahmi Ihza Mahendra dan Amel

Editor: Fahri Hilmi