Terkenang Kepergianmu

Selepas bel panjang meraung-raung, teman-teman sekelasku kompak bersorak senang. Mereka ingin segera pulang. Mungkin sudah tidak kerasan lagi di kelas XII IPA 1 yang berhawa panas. Bukan karena tidak ada kipas angin atau AC. Melainkan otak mereka telah mendidih karena baru saja—dalam waktu beruntun—bergelut dengan ulangan Kimia dan Matematika yang amat rumit. Terlebih pada pelajaran olahraga di jam ketiga dan empat, mereka sempat sangat kelelahan akibat lari 2,4 Km. Untung saja aku sedang flu, sehingga lantaran alasan ini aku diperkenankan tidak ikut lari.
            Hanya berselang sepuluh menit situasi sekolah mulai sepi. Semua temanku telah raib. Aku berpindah-haluan ke beranda mushola. Seperti biasa, aku selalu menyediakan waktu untuk mencari inspirasi di tempat ini. Aku senang di sini. Bisa menikmati sepoi angin yang membelai lembut dan merasakan keteduhan di bawah naungan atap mushola.
            Tapi di detik ini tiba-tiba hatiku serasa pilu. Pilu yang lebih sendu dari sakit flu-ku. Tanpa sengaja tatapan kedua bola mataku mendarat di seonggok prasasti baru dari batu yang berbentuk oval. Prasasti itu berjarak dua setengah meter dari hadapanku. Di sana tertulis:
DAYAT
“Kau lah pemimpin yang menyemaikan
Senyum abadi di hati kami”
14-07-14
By: Your Gosaone
            “Aku jadi teringat kepergianmu tiga bulan yang lalu, Dayat. Kami sedih melepasmu. Kau sahabat terbaik dan ketua kelas yang asyik,” gumamku lirih.
            Gosaone adalah singkatan dari Generation of Sains One. Kau yang menciptakan nama itu sebagai persatuan kelas kita. Sebuah nama yang kreatif, cakep dan bagus. Seperti… pencetusnya. “Dayat, Dayat… kau memang hebat!” desahku beriring senyum simpul sambil mengenang semasa kau jadi ketua kelas yang enjoy tapi tegas. Humoris tapi selalu pada situasi dan kondisi yang tepat. Itu sebabnya anak-anak cowok menyematkan lencana kalimat suci padamu: “Kau lah pemimpin yang menyemaikan senyum abadi di hati kami.”
            Dulu aku sering melihat Dayat, Ibnu, Farhan, Hendro, Andri, Faisul dan Syaiful duduk-duduk bersama di tongkrongan favoritnya. Di depan teras ruang komputer yang berdekatan dengan mushola. Dayat bersama kawannya ada di tempat itu selalu saat istirahat kedua menjelang sholat dzuhur.
            Sambil menunggu panggilan adzan, pernah ku tangkap dengar suara Dayat yang serak-serak basah sedang membincangkan masalah pelajaran yang membosankan  dan tingkah lakuku yang menyebalkan. Katanya, aku ini cewek paling ceriwis yang pernah dia kenal. Hmm… aku ceriwis yah?! Tapi tetep cantik dan manis, kan, seperti yang pernah kau bilang saat aku mengenakan gaun indah warna hijau muda.
            Gaun itu mempercantik penampilanku saat aku nyanyi solo di acara perpisahan kakak kelas kita di bulan Mei silam. Tepatnya tanggal 25 Mei, pas banget dengan ulang tahunku yang ketujuh belas.
            “Tidak percuma ibuku repot-repot mencarikan gaun terbaik untukmu, Dita.Performance-mu sempurna,” pujimu kala itu.
            “Ohh… terima kasih,” sahutku “Day, apa benar aku serasi mengenakan gaun ini?” tanyaku basa-basi.
            Kau mengiyakan. Kau juga mengatakan bahwa gaun itu adalah hadiah untukku dari ibumu. Namun benakku menaruh curiga, aku kira ini merupakan hadiah istimewa darimu yang tersirat. Aku tahu kau pasti malu atau gengsi jika memberikannya secara terang-terangan padaku.
            “Day, maaf ya aku ngga bisa duet sama kamu,” ucapku.
            “Kenapa?” alismu menaik.
            “Aku harus jemput ibu,” aku manyun.
            Dahimu mengernyit. Bibirmu bertaut ,“Hmm… ya udah lah ngga papa.”
            Aduuuh… kau pasti kecewa. Padahal kau ingin sekali tampil nyanyi bersamaku dengan membawakan lagu “Bukan Musuhmu” yang dipopulerkan Pee Wee Gaskins. Itu adalah lagu kesayanganmu. Tapi maaf ya, Day. Aku bener-bener ngga bisa untuk saat itu. Jam sebelas aku ada jadwal menjemput ibuku di bandara. Kata ibu, dia kangen banget sama aku. Maklum sudah dua tahun kami tidak bertemu. Jadi  aku tak kan mengecewakan ibu.
***
            Selama liburan semester dua aku tidak berjumpa denganmu, Dayat. Aku jadi kangen. Kalau kita sudah masuk sekolah aku ingin mengajakmu ke studio musik untuk bersuka ria. Memainkan nada dan menyanyikan lagu-lagu Pee Wee Gaskins yang asyik nan ceria. Pada pentas seni nanti pasti aku bisa manggung bareng sama kamu. Sebuah kebanggan tersendiri bila di atas pentas sanggup menghibur teman-teman. Itu lah yang aku harapkan.
            Namun, diperjumpaan pertama yang belum terlunaskan, kau lebih dulu meninggalkanku. Tanpa pamit. Apakah ini kehendak Tuhan?! Sunggu aku tak menyangka hal ini menimpamu. Saat hendak berangkat sekolah kau mengalami kecelakaan naas. Di tengah perjalanan yang ditemani gerimis hujan motor yang kau kendarai bertabrakan dengan bus patas yang melaju cepat. Mendung pagi semakin murung menyaksikan ragamu yang terkapar. Darah mengucur deras dari kepala, kaki, tangan dan badan. Hingga dalam hitungan detik saja kau menghembuskan nafas terakhir di lokasi kecelakaan itu. Mendengar kabar duka itu aku sangat sedih. Sesak bercampur perih serasa menggumpal di dadaku . Hatiku seperti teriris sangat giris. Aku sangat kehilanganmu, Dayat.
            “Non, sudah sore kok belum pulang?” tegur sang penjaga sekolah menyadarkan lamunanku.
            “Iya, Pak Somad. Ini juga mau pulang,” jawabku ramah. Aku beranjak berdiri, “mari pak, saya duluan.”
            Aku nyaris tak percaya—mungkin karena aku punya ikatan rasa yang erat padamu—secepat ini kau akan pergi untuk selamanya. Padahal aku ingin lebih lama lagi bersamamu. Seperti dulu. Bercanda, tertawa, berdebat dan bahkan bertengkar (walau hanya soal sepele). Dayat, meski kau telah tiada kau selalu terkenang dalam memori hidupku. Semoga kau bahagia di alam sana, sobat. Kudoakan kau tinggal di istana surga. Ditemani bidadari cantik, tentunya. Kau akan betah dan menikmati segala kepuasan sejati. Kudoakan demikian sebagai balasan kebaikan-kebaikan amalmu, semasa hidupmu.
 **
-Amin Sahri-