TARIAN GAGAK RIMANG[1]

Oleh; Sarjoko

Suara ringikan kuda biasa terdengar dari pinggiran Bengawan Sore menjelang petang. Konon usia kuda yang tak pernah terlihat bentuknya itu ratusan tahun.
***
Langit pagi yang cerah diusik gelegar teriakan seseorang di singgasana. Itu adalah suara raden. Raden adipati Arya putra pangeran Sekar yang belakangan semakin gelisah karena usaha demi usaha yang dilakukannya belum juga menemukan titik keberhasilan.
Raden bukanlah orang yang bisa berlama-lama bersabar. Dia sangat mudah naik pitam. Oleh karenanya, kedatangan surat dari Pajang yang disertakan pada seorang prajurit disambut makian demi makian. Terlebih raden melihat daun telinga prajurit itu raib karena dipotong orang Pajang.
“Diam paman!” hardiknya pada Ki Matahun yang renta saat memberinya nasihat. Raden memang tak mampu mengontrol diri dan ucapannya ketika muring-muring[2]. Kepada siapapun dia melampiaskan amarahnya termasuk kepada penasehat kraton. Ki Matahun terus memegangi tangan raden yang berjalan cepat menuju kudanya yang tengah dipersiapkan.
“Sabarlah, Nak Mas. Lebih baik sertakan pengawal,” kata Ki Matahun terus membuntuti. Namun Raden tak menggubrisnya. Wajahnya memerah penuh gurat amarah. Ia melompat ke kudanya, lalu bergegas pergi meninggalkan kraton.
***
Aku melihat ada bayangan hitam berkelebat di atas kepala tuanku. Itu pasti pertanda buruk! Sebisa mungkin aku mengguncang-guncangkan tubuh agar tuanku membatalkan rencananya. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Namun dia justru mencambukku dengan kasar, memaksaku berhenti meronta akibat rasa perih yang menjalar di perutku. Akhirnya aku hanya bisa menuruti kendalinya, walau aku merasa sesuatu buruk menimpa.
Setiap batu yang kulompati mengisyaratkan agar aku tidak meneruskan perjalanan ini. Kami hanya berdua, pasti ada sesuatu yang salah dengan keputusan tuan. Biasanya kami selalu bergerombol karena kami sadar musuh tuan amatlah banyak. Pohon-pohon yang berjejer di pinggir-pinggir jalan pun mencegahku untuk meneruskan perjalanan ini.
Plakkk!
Perih kembali menyapa kulitku. Tuan menyuruhku agar lebih cepat lagi. Entah apa yang tengah direncanakan hingga kalapnya sudah kelewat batas. Kami membelah hutan Jipang tanpa pengawalan seorang prajurit.
Tuan memberhentikanku tepat di depan sebuah bengawan. Ia turun dari punggungku lalu berjalan menuju bibir bengawan. Tuan memandang ke sebrang setelah itu membasuh mukanya dengan air bengawan yang jernih.
Aku melihat bayangan gelap yang sejak tadi membuntuti tuan beterbangan di seberang. Jumlahnya kini ratusan bahkan ribuan. Bayangan itu berputar-putar seperti kawanan elang yang mencari mangsa. Jelas ini pertanda buruk!  Terlebih terdengar kawanan gagak mendendangkan lagu kematian. Aku berusaha memberi tanda kepada tuan untuk tidak menuju ke sana. Sepertinya tuan sependapat denganku.
“Hadiwijaya, keluar!” bentaknya keras. “Keparat! Yen nyata lanang metuwa! Aja singidan![3]” Namun tidak ada  tanda-tanda sosok yang dicari menampakkan batang hidungnya. Tuan terus mengeluarkan kata makian sampai terlihat dua orang muncul dari sebuah pohon yang besar.
“Cuih! Ternyata raja kalian pengecut!. Segeralah enyah sebelum Brongot Setan Kober[4] mengorek isi perut kalian!”
“Jangan sombong kisanak. Hadapi kami sebelum menghadapi yang mulia sultan Hadiwijaya!”
Mendengar penuturan itu, tuan berang. Ia meloncat ke atas punggungku, lalu memacuku untuk segera menyebrangi bengawan. Aku menghentakkan kaki memberi isyarat agar tuan tidak melanjutkan rencananya. Namun ia bergeming dan memaksaku untuk segera menyebranginya. Sesampai di tanah yang lapang, tuan menantang bertarung secara kesatria. Tuan dapat memenangi pertarungan itu.
Tuan tertawa terbahak-bahak merayakan kemenangannya. Ia mengumpat kepada Hadiwijaya menantu Trenggana yang telah merampas haknya sebagai sultan. Namun cepat ia terdiam kala dilihatnya seseorang muncul dari pohon yang sama dengan menunggang kuda putih. Seketika aku merasa gugup. Jantungku berdegup kencang. Aku hentak-hentakkan kaki ke tanah.
“Kakang Arya Penangsang, perkenalkan. Aku Pangeran Lor ing Pasar, Danang Sutawijaya putra mahkota kesultanan Pajang. Akulah lawanmu!”
Tuan tertawa terkekeh-kekeh, terlebih pemuda di hadapannya masih belia. Ia mengatakan kepada lawannya untuk menyerah dan menerangkan bahwa ialah yang berhak menjadi sultan di tanah Jawa.
“Aku akan merebut apa yang menjadi hakku!” seloroh tuan.
Namun aku tak tahu apa yang mereka ucapkan kemudian. Baru kali ini aku merasa sesuatu yang aneh. Ekor kuda putih itu dijungkat-jungkatkan sehingga membuatku merasa geli. Aku menghentak-hentakkan kakiku ke tanah berkali-kali, ingin agar kuda itu tahu keperkasaanku.
Terasa ada cambukan yang mengenai kulitku. Tetapi aku tak peduli. Aku ingin kuda itu mendekat. Aku terus melompat-lompat. Nafasku tak lagi beraturan. Tak ada yang terlihat kecuali kuda putih itu yang, aduhai…. Akan kutunjukkan tarian-tarian yang pernah kuperagakan di depan para prajurit Jipang. Dia pasti suka. Ah, kenapa dia terus berlari? Ayo kembali! Nah, iya betul. Kembalilah. Ayo kita bertemu, dan…
Aku tersadar ketika tubuhku tersungkur di tanah. Di depanku terlihat tuan memegangi tombak yang menancap di perutnya. Tuanku, walau dengan nafas yang tersenggal-senggal tampak masih kuat untuk melanjutkan pertarungan ini meski bayangan hitam mulai menjuraikan cakarnya ke dalam tubuh tuan melalui mulutnya yang menganga. Ia berhasil mencabut tombak itu sampai usus-ususnya menjurai di atas keris pusakanya.
Kedua musuh yang dikalahkan tuan melihat tuan dengan senyum kemenangan. Perhatianku kembali tertuju pada kuda betina terindah yang baru kulihat. Di atasnya seorang pemuda ingusan terkekeh-kekeh.
Aku tak bisa melakukan apapun untuk membantu tuan berdiri. Dia tak mampu berdiri dan bersimpuh lutut sambil memegangi organ-organ yang keluar dari dalam perutnya. Sementara bayangan hitam mulai memasukkan bagian kepalanya ke mulut tuan yang menyebabkan tuan menganga lebar. Lebar sekali.
Aku melihat tuan ditarik-tarik oleh bayangan itu melalui mulutnya. Tuan memberontak hebat. Matanya mendelik menatap langit yang diselimuti awan. Gagak-gagak itu terus bernyanyi, semakin mempercepat iramanya, menyayat, dan menggetarkan pohon-pohon serta makhluk hidup lain.
Bayangan-bayangan hitam yang lain mulai mengepakkan sayap-sayapnya, terbang tinggalkan tempat pertarungan. Seketika terik matahari terasa membakar. Kini, hanya satu bayangan yang masih tersisa, berusaha membawa ruh tuan.
“Ak….ku pasti bi…sa bunuh k…kalian!” Dengan sisa-sisa tenaga, tuan berusaha berdiri sembari mencabut pusaka dari wrangkanya. Dia sangat sakti, tak mungkin membiarkan lawan menyaksikan dia menyerah. Apalagi demi gelar sultan Jawadwipa yang seharusnya menjadi haknya. Tapi…
Jreeeet.
Tuan mengerang karena bagian dalam tubuhnya  yang bersandar di keris terputus. Seketika darah memuncrat, mengalir dari sela-sela tangan yang terus memegangi perutnya. Darahnya bercucuran ke tanah. Keris yang digenggamnya terlepas. Tuan ambruk dengan mata mendelik ke langit panas. Lagu kematian gagak mengiringi dukaku yang hanya bisa melihat rangkaian peristiwa ini. Bayangan hitam itu berhasil membawa tuan terbang ke atas, melewati gagak-gagak yang menatap sayu. Lalu terus terbang entah ke mana. Air mataku mengalir. Inilah buah kekhawatiranku.
Tak berselang lama, banyak prajurit Pajang yang muncul dari semak belukar. Mereka sama-sama menikmati ketersiksaannya kami dengan senyum yang mengembang. Aku tak lagi peduli dengan kuda putih itu. Kuda pembawa petaka!
Di sebrang kali, kulihat Ki Matahun dan beberapa prajurit datang. Melihat kedatangan orang-orang Jipang, prajurit Pajang yang jumlahnya ratusan langsung menyerang, memenggal setiap kepala prajurit dan memancangnya di pinggir bengawan. Bengawan pun berubah warna menjadi kemerahan berbau anyir. Kupacu langkah untuk meninggalkan arena pertarungan ini.
***
Tangisku tak mungkin bisa kembalikan kadipaten Jipang Panolan dari kehancuran. Aku disalahkan oleh pepohonan dan setiap semut yang menyaksikan pertarungan waktu itu. Mereka menyebutku berkhianat. Mereka mengecapku sebagai penghancur kejayaan kadipaten yang akan menjadi kesultanan. Sumpah, aku tak berniat untuk itu!
***
Aku mencari tubuh tuan untuk kubawa ke kraton. Namun aku tak melihat tuan di antara tubuh-tubuh tanpa kepala prajurit Jipang. Aku sangat mengenal tuan jika pun kepalanya dipenggal prajurit Pajang. Di mana dia? Aku akan terus mencarinya di sepanjang bengawan ini. Sampai kapan pun!
***


[1]Kuda perang Arya Penangsang
[2]Marah-marah
[3]Keparat! Kalau benar-benar lelaki, keluarlah! Jangan bersembunyi!
[4]Keris pusaka Arya Penangsang pemberian Sunan Kudus yang dibuat oleh Mpu Supo Mandrangi