Sistem Pendidikan Berubah, Bagi Siapa dan Untuk Apa?

Ilustrasi: kompasiana.com

Kebijakan mengenai pendidikan semakin hari terus mengalami perubahan. Perubahan yang mencakup sistem yang diterapkan pun selalu tidak sesuai dengan keadaan maupun kebutuhan para manusianya. Hal ini bukan lagi sebuah isu, melainkan sudah menjadi persoalan yang sudah lama dan tidak jarang dari kita, khususnya kaum terdidik, yang sudah menyadari akan hal itu.

Negara, yang memiliki otoritas terhadap dinamika sistem pendidikan kita, telah  menandatangani perjanjian dengan lembaga bisnis dunia, World Trade Organization (WTO). Kerjasama multilateral di bidang ekonomi berkedok pembangunan global tersebut, ternyata membuat segala aspek kehidupan manusia menjadi barang dagangan, salah satunya pendidikan. Artinya, pihak birokrasi yang terpelajar itu telah menyepakati adanya perdagangan pendidikan. Perihal itu, lahirlah kebijakan kampus berupa Uang Kuliah Tunggal (UKT) kurikulum berbasis pekerjaan. Kampus, yang awal mulanya sebagai tempat untuk mencerdaskan dan mendidik para generasi penerus bangsa ini, berubah menjadi arena jual beli pengetahuan dan wahana pelatihan calon pekerja.

Pembodohan dengan masif terjadi, semisal mahasiswa harus taat dan patuh terhadap kebijakan kampus yang dikeluarkan, tanpa adanya pendekatan kritik dan otokritik. Pun, akhirnya lahir pula kebijakan dan sistem baru berupa Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau yang biasa disebut KKNI.

Sistem KKNI yang sedang dijadikan acuan pembelajaran untuk mahasiswa di era globalisasi ini menjadikan pendidikan yang ada di Indonesia dihadapkan pada tantangan yang hanya menguntungkan segelintir kaum saja. Pendidikan dijadikan sebagai komoditi atau barang dagangan. Artinya, sistem ini menjadikan tidak semua masyarakat mampu mengakses akan kebutuhan penegetahuan tadi. Kebutuhan pengetahuan yang seharusnya menjadi hak bagi seluruh warga negaranya akhirnya menjadi terbatas.

Tak ayal kalau situasi kampus saat ini dihadapkan pada liberalisasi pendidikan yang menganut pada sistem kapitalisme. Sebuah sistem kekuasaan ekonomi yang saat ini telah merasuk pada semua lini kehidupan manusia, termasuk pendidikan. Persoalan ini pun kian merembet, hingga tak heran jika ada istilah komersialisasi pendidikan. Artinya, pendidikan sudah diperjualbelikan.

Menilik keadaan kampus hari ini, terkhusus UIN Sunan Kalijaga, banyak persoalan yang perlu dianalisis dan dikritisi. Semisal tumpang tindih antara biaya yang melambung tinggi dengan tidak sesuainya fasilitas yang didapat.

Persoalan lainnya bermunculan kemudian, salah satunya eksperimentasi yang disuntikkan kepada tenaga pendidik kita hari ini. Jika kita berbicara mengenai latar belakang pendidikan seorang tenaga pendidik, seringkali terdapat seorang tenaga pendidik yang mengampu sebuah mata kuliah yang jelas-jelas tidak sesuai dengan basic keilmuannya. Akibatnya, ketidakefektifan dalam proses penyampaian materi, yang tidak sampai dengan apa yang dimaksudkan dan terkesan memaksakan, seringkali terjadi.

Padahal, Peraturan Menteri Agama No. 33 tahun 2016, tentang gelar akademik di perguruan tinggi keagamaan, dengan jelas mengatur kepastian latar belakang akademik, termasuk bagi seorang tenaga pendidik. Akan tetapi, pada praktiknya justru sama sekali tidak sesuai. Tidak sedikit tenaga pendidik dengan semena-mena mengendalikan alur pembahasan di dalam kelas, dengan minimnya pemahaman akan substansi dari materi yang diampu. Karena materi tersebut justru tidak sesuai dengan basic keilmuan sang tenaga pendidik, sebagaimana dijelaskan di atas.

Dari itulah, begitu banyak keluhan yang disampaikan oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, terkait dengan kurangnya kompetensi dosen dari segi pemahaman dan pengajaran. Studi keilmuan di Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir memang mengalami beberapa gejolak yang cukup signifikan. Salah satunya, perubahan sistem pendidikan di setiap kampus sebagai imbas dari pergantian kurikulum 2013 menjadi kurikulum KKNI. Hingga pahitnya bayang-bayang  biaya UKT yang kian tinggi yang terus menyiksa mahasiswa berlatar belakang ekonomi lemah.

 

*Penulis aktif sebagai jurnalis di lpmrhetor.com dan merupakan salah satu penjaga gawang di divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) LPM Rhetor.