Selasa yang Panjang di Kulon Progo

Sejumlah Polisi menjaga eskavator yang sedang merusak lahan warga Temon, Kulonprogo, DIY pada Senin (4/12/2017). Dok. Rhetor/Fajril.

NYIA dibangun, penangkapan yang tak beralasan, Rimba dipukuli tanpa sebab, data rekaman yang dilenyapkan.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Selasa pagi itu (5/12/2017) saya menghadiri rapat koordinasi warga penolak penggusuran, yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PPWP-KP), dengan sejumlah relawan solidaritas di dalam Masjid Al-Hidayah Kampung Kragon II, RT 19, RW 8, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Rapat koordinasi tersebut dilakukan guna menyiasati sistem pertahanan warga atas kemungkinan penyerangan susulan oleh pihak PT. Pembangunan Perumahan (PP) dan PT. Angkasa Pura 1 (AP 1) kepada rumah dan lahan milik warga.

“Nanti [tiap] relawan kita bagi ke rumah-rumah warga, agar membantu warga apabila didatangi petugas [PP, AP 1, dan aparat],” kata Muslih, salah satu Relawan Solidaritas.

Sehari sebelumnya (4/12/2017), rumah-rumah mereka disatroni ekskavator milik PP dan AP 1 yang dikawal oleh aparat gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP.

Padahal, 30 November lalu, Ombudsman RI (ORI) perwakilan D.I. Yogyakarta mengalamatkan surat rekomendasi kepada General Manajer PT Angkasa Pura 1 perihal Pengosongan Tanah dan Pembongkaran Bangunan Warga Temon dalam Area IPL Bandara Kulon Progo.

Surat tersebut berisi rekomendasi ORI kepada AP 1 untuk menghentikan sementara kegiatan penggusuran dan pengosongan lahan di area pembangunan bandara NYIA.

“… kami berharap General Manajer PT. Angkasa Pura 1 Yogyakarta menunda rencana pembongkaran dimaksud,” begitu isi penggalan surat bernomor 0510/SRT/0191.2017/yg-20/XI/2017 itu.

Namun sepertinya himbauan ORI tidak diindahkan oleh pihak AP 1. Sujiastono, General Manajer AP 1, bahkan tidak mau mengomentari keberadaan surat tersebut. Ia justru meminta awak media menanyakan kembali kepada ORI.

“Ya, tanyakan saja kepada Ombudsman,” katanya.

Kapolres Kulon Progo, AKBP Irfan Rifa’i, bahkan tidak mengetahui keberadaan surat tersebut.

“Saya sendiri selaku Kapolres belum melihat secara langsung suratnya itu ada atau tidak,” ujarnya seperti dilansir dari Poros.

Warga, relawan, dan pegiat pers mahasiswa dipukuli

Selepas rapat koordinasi, saya mendatangi kediaman Suparjiman, salah satu warga penolak penggusuran, guna melakukan wawancara. Saat itu sejumlah relawan solidaritas yang mengaku berasal dari Universitas Janabadra sudah berada di kediaman Suparjiman.

Setibanya di lokasi, saya kemudian menyalami satu persatu relawan solidaritas tersebut dan mengobrol sedikit dengan mereka untuk sekadar anjangsana. Suparjiman kemudian menawarkan kopi kepada saya.

Belum sama sekali melakukan wawancara, seorang warga bernama Yunarto mendatangi kami dan mengatakan bahwa masjid didatangi ekskavator dan sejumlah aparat. “Masjid diserang,” katanya dari atas sepeda motor. Sontak para relawan solidaritas bersama Suparjiman bergegas menuju masjid. Seorang relawan bernama Azi menawarkan saya tumpangan motor. Saya ikut agar cepat menuju lokasi.

Sesampainya di lokasi, saya melihat sebuah ekskavator yang dikawal oleh puluhan aparat gabungan sedang merusak pepohonan di belakang rumah milik Hermanto, seorang warga yang rumahnya dijadikan posko utama PPWP-KP.

Saya meminjam ponsel pintar milik Azi untuk merekam peristiwa tersebut, karena kamera ponsel saya sedang bermasalah. Azi bersedia meminjamkan. Dengan segera saya berlari mengejar momen penting itu.

Di layar muka ponsel pintar Azi, saya melihat pria berambut panjang sedang diinjak-injak oleh oknum polisi. Rambutnya dijambak, kemudian ia diseret menjauh hampir sejauh 10 meter ke arah selatan dari tempat ekskavator berada. Belakangan saya tahu pria itu bernama Rimba, wartawan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi, Universitas Negeri Yogyakarta.

“Aah… Tolong.. Astaghfirullah,” saya dengar sayup-sayup Rimba berteriak-teriak.

Rimba yang sedang melakukan peliputan berlari ke arah kerumunan guna merekam detail kejadian. Saat berlari, kakinya dijegal oleh orang tak dikenal, kemudian ia terjatuh tepat di kerumunan petugas. Dikira melakukan provokasi, Rimba kemudian dipukuli oleh 15-an oknum petugas.

“Saya enggak bisa melawan,” kata Rimba.

Sejauh Rimba diseret, sejauh itu pula saya mengabadikan momen itu. Saya ikuti terus Rimba yang dicekik oleh polisi berpakaian preman hingga ke tepi jalan. Tepat di tepi jalan, saya melihat Fajar, adik Hermanto, duduk lemas sembari diberikan minum oleh seorang polisi. Kamera ponsel saya arahkan ke wajah Fajar.

Saat merekam Fajar, saya lihat Rimba sudah jauh dibawa petugas. Saya putuskan untuk kembali ke area penggusuran. Ketika berbalik arah, di hadapan saya terdapat seorang pria sedang coba diambil kameranya. Ia bahkan didorong-dorong petugas. Saya terus merekam kejadian itu. Temannya membantu dan akhirnya ia dilepas.

Karena dari jauh terlihat seorang pria sedang dipukuli, seketika saja saya berlari kembali ke area penggusuran. Sesampainya di sana, saya tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang dipukuli. Pandangan saya tertutup oleh kerumunan orang dan polisi yang berjaga.

Saya berusaha merekam peristiwa tersebut, namun saya kesulitan karena banyak orang yang mengerumuninya. Saat pria itu sudah jauh dibawa petugas yang berpakaian preman, saya urungkan niat untuk merekam. Saya khawatir tertinggal momentum lain.

Setelah itu, saya alihkan mata kamera ke arah ekskavator yang sedang merusak pepohonan di belakang rumah Fajar. Saat sedang merekam, saya mendengar ribut-ribut di halaman depan masjid. Seketika saya berlari ke arah timur untuk melihat.

Saat sedang berlari menuju ke sana, saya melihat Hermanto bercucuran darah. Saya arahkan mata kamera ke hadapan wajah Hermanto. Kemudian Hermanto masuk ke rumahnya untuk dievakuasi. Dari keterangan yang saya peroleh sehari setelahnya, dikatakan bahwa pelipisnya sobek terkena benturan benda keras.

Ditangkap tanpa alasan

Tidak ada lagi ribut-ribut setelah itu. Saya kemudian berjalan menuju ke halaman depan masjid untuk mengabadikan momen ekskavator yang sedang membuat parit tepat di area depan masjid. Menurut beberapa relawan solidaritas, hal itu dilakukan guna memutus akses jalan menuju masjid.

Usai merekam penggalian parit, saya merekam barisan Polisi Wanita (Polwan) yang berjejer tepat di depan masjid. Saat putar balik, beberapa orang berpakaian preman mendatangi saya lalu menanyakan identitas saya dan maksud saya merekam seluruh peristiwa tersebut.

“Hei, kamu siapa?” Kata seorang pria dengan nada tinggi.

Tentu saja saya jawab dengan rinci identitas saya. Saya perlihatkan kartu pers yang menggantung di tas pinggang. Kemudian saya jelaskan bahwa kegiatan saya selama kejadian berlangsung adalah untuk kepentingan peliputan.

Seseorang berpakaian preman menanyakan dari media mana saya berasal. Kemudian saya katakan bahwa saya berasal dari media kampus. Namun, saat orang itu meminta kartu identitas saya yang lain – seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) – saya menolak. Saya khawatir beberapa kartu identitas saya diambil dan hilang.

Saya khawatir karena orang-orang itu tidak saya ketahui identitasnya dan dari mana mereka berasal. Mereka tidak mengenakan seragam petugas manapun dan wajahnya ditutupi masker. Saat saya balik menanyai identitas mereka, mereka tidak mau menjawab dan malah memegangi saya.

Kemudian saya dibawa oleh orang-orang tak dikenal itu. Seorang Polwan berusaha merebut ponsel Azi yang saya pegang. Namun saya memeganginya erat. Tak mendapatkan buruannya, Polwan itu kembali.

Saya tetap dipegangi dan dibawa. Saya berusaha menjelaskan bahwa maksud saya hanyalah melakukan peliputan. Saya mengatakan kepada mereka, “Anda pasti melihat, saya tidak melakukan provokasi. Dari tadi saya hanya merekam. Lalu, kenapa anda menangkap saya?” Namun mereka tetap tidak mau jawab.

Saat dibawa oleh mereka, Azi menghampiri saya untuk mengamankan ponselnya. Saya berikan diam-diam karena khawatir terlihat, dan rekaman di dalamnya dihapus oleh petugas. Ponsel berhasil beralih ke tangan empunya. Setelah itu saya tidak tahu bagaimana nasib Azi dengan ponselnya.

Orang-orang berpakaian preman itu kemudian membawa saya ke kantor PP. Di sepanjang jalan menuju kantor PP, saya menanyai siapa mereka dan alasan mengapa saya ditangkap. Mereka tetap diam.

Seseorang bahkan mengatakan kepada saya, bahwa mahasiswa tidak bisa menjadi pers. Entah apakah saya sedang dilanda gejala kecemasan, atau statemen orang itu yang membuat saya pusing. Yang pasti, setelah mendengar statemen tersebut saya tersenyum menahan tawa.

Sembilan relawan dan tiga pegiat pers mahasiswa ditangkap

Kemudian orang-orang tadi menyerahkan saya ke polisi yang ada di kantor PP. Tas saya diperiksa dan kartu pers saya dirampas. Saya dimasukkan ke sebuah ruangan besar bersama Rimba dan 10 orang lainnya. Di sana saya tahu bahwa selain Rimba ada Imam yang juga pegiat pers mahasiswa dari LPM Ekspresi. Sembilan orang lainnya adalah relawan solidaritas. Delapan orang mahasiswa dan satu orang Wiraswasta.

Mereka adalah Andrew Lumban Gaol (Anti-Tank), Chandra dan Samsul (Liga Forum Studi Yogyakarta [LFSY]), Kafabi, Mamat, dan Wahyu (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Muslih (Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam [FNKSDA]), Rifai (Universitas Mercubuana), dan Yogi (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta).

Saya, Rimba, Imam, dan Sembilan orang relawan solidaritas kemudian dibawa ke Mapolres Kulonprogo menggunakan bus taktis kepolisian untuk dimintai keterangan.

Pukul 11.55 WIB kami sampai di Mapolres. Sesampainya di sana tidak ada satupun dari kami yang bersedia memberikan keterangan sebelum kuasa hukum tiba. Beberapa kali penyidik meminta identitas kami. Namun saya dan 11 orang lainnya tetap diam.

Setelah menunggu lama, sekitar tiga jam kemudian, tim kuasa hukum warga PWPP-KP dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Yogyakarta mendatangi Mapolres dan membantu proses pelepasan saya dan 11 orang lainnya.

Proses pemeriksaan berlangsung sangat lama. Adnan Pambudi Luhur, salah seorang kuasa hukum warga PWPP-KP, menuliskan identitas kami untuk kepentingan pemeriksaan. Rimba, dan dua orang relawan solidaritas yang terluka kemudian diperiksa oleh Dokter Kepolisian.

Kami diberikan obat-obatan, makanan, minuman, dan berbatang-batang rokok oleh para penyidik Polres Kulonprogo. Puluhan rekan-rekan dari kota, termasuk dua rekan saya bahkan menunggu sejak sore hari di depan Mapolres untuk memberikan dukungan moril kepada kami.

Kedua rekan saya mengirimkan beberapa potong roti untuk saya makan. Padahal saat itu saya sangat sedang membutuhkan rokok. Kata terimakasih untuk roti itu saya titipkan ke petugas. Entah disampaikan atau tidak, yang pasti saya ucapkan terimakasih pada mereka.

Tiga relawan lainnya dan seorang warga ditangkap

Sembilan orang kemudian dipanggil ke dalam ruang penyidik untuk dimintai klarifikasi. Saya dan dua orang sisanya masih menunggu. Selama menunggu, terdengar kabar bahwa ada satu orang warga dan tiga relawan solidaritas yang ditangkap lagi.

Beberapa jam kemudian, ketiga relawan tersebut tiba di Mapolres dengan luka di sekujur tubuhnya. Satu orang warga yang ditangkap bersama mereka berhasil dilepaskan sejak di lokasi penggusuran.

Mereka adalah Khoirul Muttakim, Abdul Majid Zaelan, dan Syarif Hidayat. Ketiganya adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abdul Majid mengalami luka benjol di sebelah kiri keningnya akibat dibogem petugas, sedangkan Syarif mengalami pendarahan di hidung dan mulutnya karena diinjak-injak puluhan petugas, lalu Khoirul Muttakim mengalami luka-luka bekas diseret. Ketiganya kemudian diperiksa oleh Dokter Kepolisian dan diberikan obat-obatan.

Setibanya tiga relawan tersebut di Mapolres, saya dan dua sisanya dari ‘kelompok pertama’ dipersilahkan masuk ke ruang penyidik. Proses penyidikan berlangsung selama 50 menit. Saya dan dua lainnya kemudian keluar untuk menunggu ‘kelompok kedua’ diperiksa.

Terbukti tidak bersalah

Setelah melalui proses pemeriksaan panjang, akhirnya kami dilepaskan sekitar pukul 22.00 WIB karena terbukti tidak bersalah. Kartu pers milik saya, Rimba, dan Imam dikembalikan. Kamera Imam dan seorang relawan bernama Yogi pun turut dikembalikan. Walaupun data-data di dalamnya telah dilenyapkan.

Bagi Yogi ada yang belum lengkap, ponsel pintar miliknya raib saat dilakukan pengamanan terhadap dirinya, ditambah lensa kamera DSLR nya pecah karena terlempar-lempar.

Kasat Reskrim Polres Kulonprogo, AKP Dicky Hermansyah, mengaku akan mencari tahu kemana hilangnya ponsel milik Yogi. Hal itu dilakukan untuk mencari tahu kemungkinan ada oknum anggotanya yang menghilangkan ponsel milik Yogi.

Pekik ‘Tolak Bandara!’

Sekitar pukul 23.00 WIB, kami tiba di kantor PP yang berjarak sekitar 200 meter dari sebelah timur posko utama PWPP-KP. Truk polisi yang mengangkut kami berhenti di sana dan menurunkan kami. Kami berjalan dari kantor PP menuju posko PWPP-KP. Sembari berjalan menuju posko, relawan solidaritas yang diamankan bersama saya menyanyikan lagu Darah Juang karya John Tobing.

Nyanyian tersebut disambut oleh warga dan puluhan relawan lainnya. Kedatangan kami disambut deru tepuk tangan dan pekik ‘Tolak Bandara!’ berkali-kali. Saya melihat beberapa relawan solidaritas disambut pelukan oleh rekan-rekannya masing-masing. Ingin sekali saya mengabadikan momen itu, namun keadaan kamera ponsel saya sangat tidak mendukung.

Rekan-rekan saya dari kota kemudian turut menyalami saya.

Video saya dihapus oknum polisi

Sesampainya di posko, saya menemui Azi untuk mengecek keutuhan video hasil rekaman saya pagi tadi. Namun sayang, Azi bercerita bahwa rekaman tersebut telah dihapus oleh salah seorang oknum polisi.

Peristiwa penghapusan itu terjadi setelah Azi menerima ponselnya dari tangan saya. Azi mengatakan, bahwa salah seorang oknum polisi kemudian mengambil ponsel Azi dan menghapus seluruh hasil rekaman saya.

“Padahal udah aku tahan, kan, biar gak diambil. Tapi dia paksa. Dan setelah beberapa menit, HP-ku dibalikin. Waktu aku cek videonya, semua sudah hilang,” tutur Azi bercerita.

Hari yang panjang itu saya tutup dengan sebatang rokok sebelum tertidur.[]

 

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati