Sajak-Sajak Shahibul Umam


Hujan Tengah Hari

Tentang alif yang aku baca kemaren
Membawa jejak hujan di akhir musim panen
Dengan cerita decak kaki yang kancap
Sebab genang yang tak surut di bagian halaman tempat kita bermain
Entah apakah hari yang membawa hujan
Atau hujan yang sengaja menenggelamkan diri
 pada tubuh hari
Dengan genap tanda yang dicari
Apa arti mati bagi seorang pencari
Jika hujanpun tak sanggup dimaknai
Bila hujan yang membawa hari
Atau hari yang menyetubuhi hujan
Aku tak berpikir ia adalah nyeri
Kecuali aku yang melahirkan hari pada hujan
Atau pun hujan yang menepi pada hari
Hujan tengah hari
Bukan saja mencari tapi juga ilusi
Yang genap pada tanggal dan hari
Dan sejarah yang tiada pernah bertepi
Hujan tengah hari bukan sekedar menyempurnakan sepi
Tapi juga janji
Yang merapat hingga ke hulu hati.
                                                                                    Kutub 2013
Bila saja
Alangkah tololnya manusia
Bila membenci tuhan dan cinta
Jika dunia adalah asmara
Bila asmara tak genap sebab cerobohnya adam
Maka tak akan lahir pesona yang dalam
Sebab hawa akan diredam
Dengan firman yang tak padam
Dunia adalah asmara
Maka mendekatinya hanyalah dengan pesona
                                                                                                Kutub,2014
Pagi yang bingung
Matahari masih saja belum kreatif
Seperti yang aku pikir
Ia benci kembar
Sebab awan musim penghujan yang membuatnya hambar
Terpaku seperti halnya ada yang terbakar
Namun sebenarnya ia adalah debar
Di balik jantung bumi yang tengah menikmati
Gugur daun di musim penghujan
Ini membingungkan
Sebab matahari telah lumpuh oleh sayup yang mendengkur
Semalam ada guntur yang menghantarkan hujan
Namun pagi masih saja lunglai
Sebab ia adalah ramai
Yang takut untuk menghantarkan hujan
Apalagi petir yang menyambar
Tak ada,
Ini Cuma pagi yang membingungkan.
Apa arti hujan bagi bumi
Jika guntur hanya nyali yang gagal
Dan petir enggan untuk menyambar
Sementara badai hanya berlalu lalang
Di antara pekarangan yang lunglai.
                                                                                    Kutub, 2014
Ilusi Mati
untuk Adam dan Hawa
Jika salah dan benar adalah cermin
Maka Adam dan Hawa adalah kafir
Riuh gerutu sebab sunyi yang dibuatnya
Telah melahirkan ambisi manusia yang tak pernah selesai
Jika salah dan benar adalah cermin
Maka kodrat dunia adalah kehancuran
Sebab itu adalah Adam dan Hawa yang melahirkan
Dengan nafsu yang lalai jalnkan firman;
Sunyi, sepi, serta pertengkaran
Adalah warna yang kian menjanjikan
Jika salah dan benar adalah cermin
Maka benarlah sunyi adalah tak lebih dari kematian
Sementara dunia adalah comberan
Bahkan ibadah pun hanya sebatas penghambaan
Dan tuhan hanya tinggal pengabadian
Yang kehilangan makna dan tujuan
Sebab dosa yang menakutkan
Bukan cinta yang kaffah dan diidamkan
Dunia bukan sekedar berpijar
Di antara salah atau pun benar
Sebab bukan pahala yang menyelamatkan
Atau pun dosa yang mencelakakan
Biarkan hati untuk berlayar
Menyeberangi lautan makna yang dalam dan dangkal
Agar tuhan terdekap dengan hati suci
Melebihi danau dan pulau-pulau.