Riyan Agus Prasetyo, Anak Rantau Juga Punya Cita-Cita

 
Dunia akan selalu berputar, matahari akan selalu mengitari alam dengan setia, terbit dari ufuk timur dan terbenam ke ufuk barat, hal ini akan selalu terjadi sampai seterusnya hingga Sang Khaliq menutup lembaran kehidupan dunia ini.
Waktu terus berjalan tak menghiraukan apapun yang terjadi, dan tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya kecuali Sang Maha Pencipta. Sampai tak terasa umur ini sudah berkepala dua, menandakan sudah beranjak dewasa, dan semakin bermacam-macam pula persoalan yang harus aku lalui.
Lima belas tahun lalu masih teringat sekali di ingatanku, aku masih dibelai lembut oleh ibuku, di bimbing, disayang dengan sepenuh hati, sungguh hal yang tak bisa terlupakan sepanjang nafs ini masih berhembus.
Sekarang keadaan sudah berbeda, kini diriku menjadi anak rantau” yang jauh dari keluarga, dan sanak famili,mengurus segala keperluan dan kebutuhan sendiri. Terpikul amanat yang besar dalam pundak diri, harapan besar dari orang tua harus aku emban dengan baik dan bijaksana, dan telah menjadi tanggung jawab yang tak bisa dielakkan. Tapi, semua itu adalah kan kujadikan motivator dalam diri untuk meraih apa yang menjadi cita-citaku.
            Status mahasiswa telah terlabel dalam tubuh ini, orang yang belajar diperguruan tinggi, orang yang yang mempunyai tangggung individu dan social untuk memaslahatkan ummat. Status ini mengusik diriku untuk berbuat suatu perubahan kearah yang lebih bijaksana, seorang yang mempunyai tanggung jawab pribadi, social, keilmuan, kemandirian dan menjad orang yang “yanfa’uhu linnas”.
            Kota rantau telah memberiku banyak hal terutama dalam pengalaman hidup, mengajariku untuk berpikir, bersikap, dan bertindak. Aku yakin dengan niat yang baik serta usaha yang tiada hentinya dan atas izin Allah yang maha pemberi terhadap hambanya, insyaallah aku bisa memperoleh dan menggapai harapan dan cita-cita di Kota Rantau ini (Jogjakarta), Bismillah !
Jogjakarta 11 Januari 2014, 22:43 WIB “Gubuk perjuangan”