Perempuan dari Antah-Berantah

Ilustrasi: tarzankay.com

Oleh: Gita Haryadi*

K ONON, Andalusi, perempuan dari antah berantah itu luar biasa kuat. Ia mampu mencabut pohon dari akarnya lalu membawanya terbang macam Superman. Bedanya, kalau Superman itu laki-laki danbersempak diluar, Andalusi cewek yang sempaknya di dalam. Karna di dalam, jadi tidak ada yang bisa menjamin apakah dia benar-benar pakai sempak atau nggak.

Seperti cerita-cerita klasik soal manusia hutan atau yang biasa disebut Tarzan, penganut teori Darwin yakin bahwa  manusia yang hidup di hutan memang telah mengalami seleksi alam. Contohnya, Andalusi biasa makan durian dengan kulitnya, memanjat pohon dalam hitungan detik, dan lompat dari satu pohon besar satu ke pohon besar lainnya.

Andalusi tidak pernah menyangka jika tepat pada 147 tahun dirinya dinobatkan menjadi Lady Hutan Pertama pasca pensiunnya Tarzan. Sang Dewa waktu murka mendengar kabar itu, kemudian dikirimnya angin topan dan badai ke seluruh penjuru bumi. Pohon besar dan hewan-hewan terbawa tornado, berputar dengan kecepatan 447 km per detik, lalu musnah. Namun Andalusi berhasil menyelamatkan diri karena sempaknya kecanthel ranting pohon yang ia cabut waktu itu. Tidak sendirian, ia bersama Malika, tupai putih penghuni pohon.

Andalusi pingsan, dalam lelapnya ia bermimpi meminum air dari Telaga Serayu. Namun, airnya sudah berubah kecokelatan menjadi seperti ‘tai’nya Evelyn, gajah penghuni hutan sebelah barat daya. Seketika cahaya menjadi nampak kehijauan. Sial, ternyata Malika kentut. Rupanya tupai, baik cokelat maupun putih, kentutnya tidak lantas berubah warna menjadi merah muda. Andalusi ingin misuh, tapi kemudian sadar, tanpa kentut Malika, mungkin ia tidak akan bangun selama-lamanya.

Ia melekukkan badannya ke kanan dan ke kiri. Ada yang berat, mengganjal, sesak, dan membebani. Dari permukaan danau, muncul bayangan dirinya memiliki sayap cantik dan sekelilingnya dipenuhi beton besar kotak-kotak yang sama sekali tidak artistik. Tidak ada bunga, buah-buahan, suara macan, dan burung terbang. Sadar akan perubahan yang terjadi, tubuhnya melemas, terkulai ke tanah lalu misuh lirih.

Di samping beton-beton banyak benda berbaris, mirip semut, tapi kali ini lebih buruk karena di pantatnya mengeluarkan asap yang bau. Andalusi makin pusing, tapi kepusingannya tidak berlangsung lama. Hanya butuh waktu 15 menit 9 detik ia sudah bisa sekedar naik lift di bangunan beton. Memegang android sekadar untuk berbalas chat dengan Malika, dan berjalan-jalan di kompleks Junikarta. Lebih dari itu, dia sudah bisa menerima berita soal kematian Dewa Waktu hanya dalam waktu sedetik saja setelah pemakamannya.

Ternyata, Andalusi makin betah. Ia menemukan Pangeran ‘Setang Bunder’ yang mencintainya sepenuh hati dan rela memberikan apapun yang ia minta.  Sampai suatu hari, Andalusi meminta bantuan pangerannya untuk mengeluarkan motor dari parkiran warung kopi yang penuh sesak sebelum ditolak: Ah sayang, kamu kan perempuan kuat, kamu bisa mengeluarkan motor itu sendiri.

Andalusi kecewa, tidak ada yang berani menentang perintahnya di hutan sebelum ini. Baginya, meski kuat dan mandiri, ia juga perempuan yang suka disayang, diperhatikan, diberi bunga, hadiah, dan boneka. Tidak senang diperlakukan berbeda dengan perempuan kebanyakan. Ia Marah dan memutuskan kembali terbang ke antah berantah. Dengan sempaknya, tentu saja.

 

*Perempuan yang senang diperhatikan. Mahasiswi BKI yang sedang magang di LPM Rhetor.