Penutupan Jalan Daendels Ancam Isolir Warga

Setelah hancurkan lahan dan rumah milik warga, Bandara NYIA kembali membawa petaka. Kini Jalan Daendels, satu-satunya akses yang tersisa, akan ditutup. Anak-Anak dari 86 kepala keluarga terancam tidak bisa berangkat sekolah.

lpmrhetor.com, Yogya – Rencana pemasangan portal dan pengalihan arus lalu lintas yang dilakukan secara sepihak oleh PT Angkasa Pura 1 (AP 1) di ruas Jalan Daendels untuk kepentingan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang rencananya akan dilakukan bulan ini mengakibatkan 86 kepala keluarga di Temon, Kulon Progo terancam terisolir.

Jalan Daendels merupakan satu-satunya akses yang tersisa setelah seluruh jalan di perkampungan milik warga dihancurkan oleh AP 1. Akibatnya, warga harus kehilangan jalan yang biasa digunakan untuk bekerja dan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

Salah satunya Sutrisno, seorang warga terdampak yang merasa sangat dirugikan jika jalan utama di kampungnya harus diportal dan diberlakukan pengalihan arus lalu lntas.

“Pemortalan yang akan dilakukan AP beserta aparat pemerintah jelas merugikan kami sebagai warga. Merampas hak-hak kami sebagai warga negara. Menyulitkan saat akan bekerja dan [menyulitkan] anak-anak kami yang akan pergi sekolah,” sesal Sutrisno pada konferensi pers di kantor Walhi Yogyakarta pada Kamis (22/3/18).

Sejalan dengan Sutrisno, warga lainnya, Agus Widodo, juga menyesalkan rencana tersebut. Agus mengatakan bahwa upaya pemortalan akan menambah penderitaan warga setelah selama 4 bulan listrik di rumah warga dicabut oleh PLN secara sepihak.

“Pemortalan jelas merugikan warga. Karena akses kami dan anak-anak menjadi terganggu. Ini menambah penderitaan kami setelah listrik dicabut hampir 4 bulan,” katanya.

Dilansir dari Tirto, Kepala Dinas Perhubungan Kulon Progo, Nugroho mengatakan pihaknya memang akan melakukan penutupan dan memberlakukan pengalihan arus lalu lintas di Jalan Daendels untuk mempermudah proses pembangunan Bandara NYIA.

“Jalur Jalan Daendels mulai dari Dukuh Glagah di sisi timur akan ditutup dengan portal, sedangkan dari sisi barat ditutup mulai perempatan Glaheng, tepatnya di depan MIN Sindutan,” kata Nugroho, Sabtu (3/3/18).

Terlepas dari upaya pemortalan dan pengalihan arus lalu lintas tersebut, warga tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak pembangunan bandara.

“Sikap warga untuk rencana pembangunan NYIA tetap menolak dan akan terus menolak tanpa syarat,” kata Sutrisno.

Selain itu, Sutrisno juga menilai proses konsinyasi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Wates tidak berpihak kepada warga. Menurutnya, ia dan warga lainnya masih menjadi pemilik lahan dan rumah yang sah.

“Warga tidak pernah dan tidak akan mau mengikuti putusan konsinyasi, karena kita masih pemilik sah lahan dan rumah,” lanjut Sutrisno.

Agus Widodo juga mengatakan hal yang sama. Ia dan seluruh warga akan tetap menolak seluruh proses pembangunan bandara baik yang dilakukan oleh AP 1 maupun pemerintah.

“Kami tidak akan mengikuti proses apapun yang dilakukan oleh Angkasa Pura dan pemerintah selama itu untuk merampas hak milik kami,” kata Agus.[]

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Dyah Retno Utami