Penindasan yang Dilanggengkan

Gambar: Bumirakyat.

lpmrhetor.com, Yogyakarta– Setiap keadaan atau peristiwa memiliki alur kisahnya sendiri. Tertulis ataupun hanya abadi pada cerita dari mulut ke mulut, ia tetap merupakan suatu gambaran peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama sejarah.

Tidak terlepas dengan kondisi perempuan di Indonesia, yang selalu menjadi perbincangan dan diskursus hangat menjelang perayaan Hari Kartini yang sering dikaitkan terhadap keadaan perempuan dalam penggambaran sejarah dengan kondisi perempuan di era saat ini.

Sudrajat, dalam jurnalnya yang berjudul Kartini: Perjuangan dan Pemikirannya menyampaikan bahwa studi tentang wanita (woman study) dalam sejarah Indonesia merupakan studi yang jauh tertinggal bila dibandingkan dengan bidang ilmu sosial yang lainnya.

Permasalahan tentang perempuan selalu dikaitkan dengan berbagai wacana tentang konstruksi sosial, baik budaya maupun politik yang tak jarang mengungkap tentang realitas pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh perempuan. Bahkan sejarah nasional Indonesia pun masih menempatkan sejarah pergerakan perempuan dalam sebuah konstruksi yang bias terhadap gender.

Sudrajat menambahkan bahwa sosok Kartini merupakan salah satu sosok yang turut andil dalam perjuangan perempuan. Kartini telah meninggalkan pemikiran-pemikiran yang dapat dirunut dari surat-suratnya yang telah dibukukan. Perjuangan dan pemikirannya tentang emansipasi wanita telah dirasakan gaungnya sejak lama.

Permasalahan Kartini saat itu masih sangat terkait dengan aturan adat dan budaya Jawa yang menempatkan wanita dalam posisi yang inferior bila dibandingkan dengan pria juga merupakan permasalahan di era saat itu. Dalam konstruksi budaya Jawa peranan wanita hanya berkisar pada tiga kawasan yaitu di sumur (mencuci dan bersih-bersih), di dapur (memasak), dan di kasur (melayani suami) atau dengan kata lain peranan wanita adalah sebagai pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang.

Kegelisahan tersebut juga turut dirasakan oleh Faizah Nadella, Ketua Sekolah Pembebasan Perempuan (SPP) Yogyakarta. Wanita yang kerap disapa Della ini merasakan adanya hal yang sedang tidak baik-baik saja dengan kondisi perempuan saat ini. Menurut Della, jika direfleksikan dengan sejarah, perempuan di era Kartini dengan perempuan sekarang telah mengalami dekadensi dan perubahan pola pikir.

Di era Kartini tak sedikit perempuan yang menganggap bahwa musuh terbesar bagi mereka adalah kekangan dari kebudayaan itu sendiri. Mereka berjuang dengan berfikir dan bergerak untuk kebebasannya. Tetapi, saat ini ketika kebebasan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, politik, sosial dan pekerjaan telah ada, mereka justru bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal bersamaan dengan kebebasan yang terjadi itu justru ada suatu ketertindasan dalam sistem yang masih terus saja dilanggengkan.

“Sebenernya gerakan perempuan dulu itu sangat masif. Dia berbicara tentang pendidikan, dia berbicara masalah hak-hak mereka yang sebelumnya hilang. Tetapi, perempuan-perempuan yang saat ini udah free lah ibaratnya, tetap tidak menghargai dan tidak menolong sesama perempuan itu sendiri. Jadi sangat mundur perempuan saat ini. Beda jauh. Tidak peka dan terlalu apatis tentang diri sendiri, lingkungan sekitar, masyarakat dan perempuan,” tutur Della.

Kenyataan yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa masih banyak perempuan yang memiliki kedudukan pasif di lingkungannya. Pada sektor pendidikan misalnya, cukup banyak perempuan yang belum memunculkan eksistensi dirinya. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa perempuan masih dininabobokkan dengan keadaan yang ada.

Della kembali melanjutkan ceritanya. Ia mengungkapkan meski banyak perempuan yang tertidur, tapi sebenarnya sudah banyak juga perempuan yang progresif, hanya saja, tidak terekspos. Hingga eksistensinya tidak diketahui, seolah perempuan tidak bergerak.

‘Yang kita lihat mayoritas cewek males daripada yang bergerak, karena memang tidak diangkat isunya. Padahal banyak perempuan-perempuan yang progresif. Di Jogja juga banyak, yang bergerak nyata di masyarakat juga banyak. Tapi, memang tidak terangkat, tidak terekspos, karena memang ibaratnya, negara tidak butuh untuk mengekspos itu.”

Hal ini serupa dengan yang disampaikan dalam jurnal yang berjudul Perempuan Berjuang, Bukan Menantang: Studi Gerakan Perempuan Indonesia Menuju Kesetaraan, Laely Armiyati menuturkan bahwa ketidakmampuan perempuan untuk bergerak dan tampil, sebenarnya bukanlah karena ketidakmampuannya. Tetapi lebih disebabkan oleh keengganan untuk melawan budaya yang telah berakar kuat dalam sistem sosial masyarakat Indonesia. Tidak banyak perempuan Indonesia yang memiliki kemampuan untuk melawan marginalisasi, namun tidak sedikit pula perempuan yang mampu bertahan dan bersaing untuk memperjuangkan haknya.

Baik Della maupun Laely menganggap bahwa sejarahlah yang membentuk mindset atau pola berfikir perempuan. Sebelum orde baru, perempuan itu sudah diperhitungkan. Mereka juga mengangkat senjata berpolitik dan perempuan itu maju. Tetapi, pada masa orde baru perempuan di setting untuk melakukan pergerakan secara pasif.

“Kegiatan Ibu-ibu PKK misalnya, (sebelum Orde Baru) Perempuan adalah kekuatan. Tetapi, pada politik Orde Baru, perempuan itu di mindset  menjadi perempuan yang seperti ini. Contohnya ibu-ibu PKK. Oke, kalian berorganisasi tapi gerakannya ya cuma nongkrong, duduk-duduk ngegosip, kegiatannya cuma masak. Tidak menggambarkan progresivitas perempuan. Nah, 30 tahun kita kayak gitu. Akhirnya mengakibatkan mindset perempuan begitu, sampai anak-anaknya pun dimindset seperti itu,” tutur Della.

Selain itu, ia juga berpendapat bahwa sikap ekslusif pada pergerakan perempuan masih menjadi alasan kenapa perempuan belum mau menunjukkan eksistensinya.

“Gerakan perempuannya ada yang terlalu ekslusif. Gerakan perempuan itu ya untuk perempuan tok. Seminar dan diskusi lebih nyata dari pada geraknya untuk turun ke masyarakat. Nah ekslusif banget. Gerakan ekslusif itu yang membuat perempuan males.”

Label-label yang disematkan untuk perempuan juga turut mengamini kondisi yang ada saat ini. Konstruksi masyarakat sering berbanding terbalik dengan apa yang dicita-citakan. Meskipun demikian, Della kembali menegaskan pernyataannya bahwa kondisi yang terjadi saat ini bukanlah karena laki-laki vs perempuan. Tetapi karena budaya yang berkembang itu melalui sistem. Sistem feodalnya yang masih kuat, kapitalisme yang juga semakin mengakar. Dua sistem inilah yang sejatinya menindas perempuan. Bukan laki-laki yang menindas perempuan.

Laely juga menambahkan bahwa sebenarnya perempuan sudah dilabeli dengan kecantikan, kelemah lembutan sudah ada sejak zaman pra-aksara. Budaya patriarki itu turunan dari sistem feodal. Salah satu bentuknya adalah perempuan itu dianggap sebagai vas bunga yang memang digunakan untuk memperindah sistem itu. Sementara kapitalisme yang semakin kuat itu juga memandang bahwa segala sesuatu itu dapat dinilai dengan uang.

Della juga menyinggung tentang psikologi perempuan. Menurutnya memang secara psikologis, perempuan dan laki-laki itu berbeda. Baginya, seseorang akan lebih dewasa kalau seseorang itu banyak menghadapi masalah. Ia beranggapan bahwa yang membuat perempuan mundur adalah ketika mereka tidak berani untuk berbenturan dengan permasalahan. Semakin sering orang itu mempunyai masalah, maka tubuh dan pemikirannya akan berusaha untuk menyelesaikan masalah itu.

Alimatul Qibtiyah, Dosen Psikologi Komunikasi yang juga seorang penggiat gender juga turut memberikan pandangannya. Menurutnya, ada 2 teori yang mendasar terkait psikologi perempuan. Pertama, apakah seseorang berperilaku itu disebabkan karena cara dia dididik atau  lingkungannya. Kedua, karena itu sudah pemberian dari Tuhan. Dua teori ini jelas menggunakan dua cara pandang yang berbeda.

“ Tetapi, kalau saya sih terkait tertutup tidaknya perempuan untuk di dunia publik lebih pada bagaimana dia (perempuan) dididik dan dibesarkan oleh lingkungannya.” tutur Alim.

Menurut Alim, psikologi anak akan dipengaruhi oleh orang tuanya. Ketika orang tua sering mengatakan “Huss, anak wedok (perempuan-red) gak usah pencilaan, nggak usah kemana-mana di rumah saja” atau sewaktu di pengajian-pengajian ia mendengar, “Perempuan sholehah itu yang di rumah”. Kalimat-kalimat tersebutlah yang kemudian dapat membentuk perempuan itu menjadi menutup diri untuk di dunia publik itu.

Alim menambahkan, jika psikologi setiap orang akan sangat bergantung pada saat orang itu dibesarkan, diajarkan, tergantung juga pada buku-buku yang dibaca dan bagaimana ia mendengarkan nasehat-nasehat keagamaan. Konstruksi budaya, psikologi dan mindset masyarakat sangat berpengaruh terhadap perempuan.Perjalanan kehidupannya akan menentukan bagaimana posisinya di lingkungan masyarakat.

Saat sesi wawancara terakhir, Della menambahkan bahwa ketertindasan yang diakibatkan oleh efek negatif gender itu juga terus dilanggengkan oleh masyarakat, untuk merubah itu semua harus ada kerja sama dari semua pihak.Berjuang atas nama perempuan akan menimbulkan persepsi baru yaitu ingin menjunjung satu kaum dan bisa saja menjatuhkan kaum yang lain, sehingga semua elemen dapat bergerak bukan atas nama perempuan, tetapi atas nama manusia.

“Siapapun itu, perempuan atau manusia, kita harus memanusiakan manusia. Kalau untuk memanusiakan manusia paling tidak kita harus bermanfaat untuk orang lain. Meskipun hanya dirumah, tapi, harus bisa bermanfaat untuk orang lain pungkasnya. []

Reporter: Isti Yuliana dan Naspadina
Editor: Fiqih Rahmawati