Ilustrasi Foto : Google.com/politik-mahasiswa

Agenda Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) tidak terasa sudah berlalu satu tahun. Namun, belum ada sama sekali geliat baik yang ditunjukan oleh para elitis politik di kalangan mahasiswa untuk membereskan persoalan-persoalan yang saat ini melanda dunia kemahasiswaan. Sebegitu kompleksnya kah persoalan-persoalan itu hingga mereka tidak mampu sama sekali untuk bergerak? Atau, ada satu buah jaringan besar yang meng-counter gerak-gerik mereka? Entahlah, hingga saat ini kita hanya bisa menebak-nebak.

Sebelumnya, mudah-mudahan saya tidak disebut sebagai penghina, penyudut, apalagi penista suatu golongan tertentu. Saya hanya ingin menuangkan apa yang selama ini saya lihat dan saya keluhkan ke dalam tulisan ini agar tidak membusuk dalam otak dan pemikiran saya.

Pertunjukan Student Goverment

Kembali ke topik. Pertunjukan students goverment “yang agung itu” hanya berlangsung selama 4 sampai 5 bulan. Sisanya, saat ini yang terjadi hanyalah semakin banyak pimpinan-pimpinan mahasiswa, mulai dari setingkat jurusan hingga fakultas, yang malah mangkir dan menghilang dari tugas-tugas dan jabatan yang diamanahkan kepadanya. Tetangga baru saya di student center itu pun satu persatu menghilang, kantor-kantor mereka sepi, gelap, tanpa penghuni dan kegiatan apapun. Seakan-akan visi-misi yang terpampang pada stiker-stiker mereka dahulu hanya digunakan sebagai instrumen formalisasi belaka, hasilnya NOL besar. Apa beda mereka dengan penguasa negeri di istana dan Senayan sana jika begitu?

Pergerakan yang Mendingin

Saat ini adalah masa-masa dingin, masa-masa dimana segala agenda politik praktis kampus tidak beragenda. Tapi bagaimana dengan gerakan mahasiswa? Ikut mendinginkah? Ada makna tersirat dari realita ini, gerakan mahasiswa saat ini hanyalah ber-output pada dunia politik praktis. Mereka kebingungan pada apa makna pergerakan. Saat agenda perpolitikan di kampus mendingin, agenda pergerakan mahasiswa juga mendingin. Padahal, persoalan-persoalan tumbuh semakin banyak dan malah semakin busuk lagi wajahnya. Kini, yang ada kita malah menutup mata terhadap pengawalan Uang Kuliah Tunggal, bahkan, kita kecolongan atas penggusuran Panggung Demokrasi dan Pembangunan Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang sepihak itu.

Melihat realita semiris itu, saya jadi membayangkan apa yang akan terjadi pada agenda Pemilwa berikutnya. Siapa yang akan kita pilih? Saat ini saja kita tidak tahu tokoh-tokoh mana dan dari golongan manakah yang kini muncul dan bergerak. Sama sekali kita tidak tahu menahu siapa yang benar-benar berjalan bersama-sama saat ini di akar rumput dalam membela mahasiswa-mahasiswa kelas tertindas. Saya hanya bisa menerka-nerka, di agenda politik kampus nanti, kita hanya akan memilih tokoh-tokoh mahasiswa yang tidak kita kenal sama sekali latar belakangnya, visi-misinya, apalagi manifesto pergerakannya. Atau, kita malah memaksakan diri untuk mengenal mereka, mencari-cari profil mereka, dan tiba-tiba mendukung mereka dengan segala darah penghabisan. Padahal, kita buta dan sama sekali buta.

Dari hal semacam itu saya menyadari bahwa, para penguasa mahasiswa itu hanyalah hasil eksperimentasi beking-bekingnya. Mereka yang tidak memiliki basic pergerakan dan kepemimpinan apapun kemudian dipaksakan untuk maju sebagai kandidat. Mereka mau tidak mau harus menyusun sebuah visi-misi dan manifesto pergerakan untuk kemudian dipertanggungjawabkan dihadapan golongannya. Lalu, orang-orang yang tidak kita kenal sama sekali itu tiba-tiba terpilih dan menjadi penguasa-penguasa di segala sektor pemerintahan mahasiswa. Kembalilah lagi dinajiskan agenda politik kampus ini. Padahal kita berharap banyak, perpolitikan di kampus seharusnya menjadi suatu obat penawar dan jalan alternatif atas ketidakpuasan kita terhadap dunia perpolitikan negeri ini. Bukan malah ikut-ikutan bersiasat buruk demi kursi kekuasaan. Apa bedanya?

Kemudian, karena tokoh-tokoh tersebut hanya sekedar hasil eksperimentasi, akhirnya mereka tersungkur saat harus berbenturan dengan kenyataan. Biaya kuliah yang mahal, agenda perkuliahan yang semakin rumit semacam KKN dan penulisan kitab skripsi, hingga tuntutan kebutuhan ekonomi, membuat idealisme-idealisme mereka semakin saja tercekik bahkan berterbangan entah kemana. Akhirnya, mereka menghilang dan lari dari kursi-kursi kekuasaan. Mereka tidak lagi bergerak, tidak lagi berteriak-teriak menuntut ini dan itu, yang katanya dulu, demi kebaikan mahasiswa dan rakyat. Kehidupan pribadi mereka saja sampai mati-matian mereka perjuangkan, bagaimana mereka bisa memikirkan kehidupan mahasiswa seluruhnya. Ini yang akan terus terjadi dan akan terus menerus menggerogoti mental-mental mahasiswa saat ini.

Tanpa pemahaman yang matang atas apa arti pergerakan, mahasiswa hanya akan terus terbentur dengan rumitnya kenyataan. Idealisme hanya akan luntur dan masa depan menjadi tidak keruan. Pesan saya pada siapapun nanti yang ingin melaju menjadi penguasa mahasiswa dan pula bagi yang saat ini sedang menjabat, kenalilah siapa mahasiswa, lalu, perkaya diri dengan pemahaman makna gerakan mahasiswa. Jangan sudi sedikitpun menjadi bahan eksperimen belaka.

*Fahri Hilmi, mahasiswa yang beranggapan bahwa perkuliahan di kelas hanyalah sekedar UKM. Aktif melamun di : lamuner.blogspot.com